Sep 22, 2026
Hukum

DKI Jakarta Alokasikan Rp90 Miliar Rapikan Kabel 10 Ruas Jalan

Pemandangan langit Jakarta yang terhalang oleh selimut kabel hitam semrawut tampaknya bakal segera berbenah. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta kini

DKI Jakarta Alokasikan Rp90 Miliar Rapikan Kabel 10 Ruas Jalan

Pemandangan langit Jakarta yang terhalang oleh selimut kabel hitam semrawut tampaknya bakal segera berbenah. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta kini mengambil langkah tegas untuk menata kembali estetika kota sekaligus meningkatkan keselamatan warga. Tak main-main, dana segar sebesar Rp90 miliar disiapkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk membiayai pembangunan Sarana Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT) di 10 ruas jalan strategis.

Kebijakan ini menjadi angin segar bagi warga ibu kota yang sudah lama mengeluhkan bahaya kabel udara yang membentang tanpa arah. Selain merusak pemandangan kota, kabel yang meliuk-liuk rendah acap kali memicu kecelakaan lalu lintas hingga risiko kebakaran akibat korsleting listrik. Dengan hadirnya infrastruktur SJUT, seluruh instalasi jaringan kabel serat optik dan listrik secara bertahap akan dipindahkan ke bawah permukaan tanah.

Transformasi Ruang Kota demi Keselamatan dan Estetika

Langkah pengocoran dana puluhan miliar ini difokuskan pada titik-titik krusial yang memiliki kepadatan lalu lintas tinggi serta jaringan utilitas paling rumit. Pemprov DKI menegaskan bahwa penataan ini bukan sekadar pembenahan visual semata, melainkan bentuk perlindungan nyata bagi keselamatan masyarakat pengguna jalan.

"Kami ingin mengembalikan fungsi ruang udara kota Jakarta agar bersih dan aman. Penataan kabel melalui proyek SJUT adalah investasi jangka panjang untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang modern dan tertata rapi," ungkap perwakilan instansi Pemprov DKI Jakarta saat mengonfirmasi rencana tersebut.

"Sudah saatnya Jakarta terbebas dari jeratan kabel udara yang kerap membahayakan nyawa pengendara," cetus seorang pengamat tata kota yang menyambut positif keputusan Pemprov DKI ini. Menurutnya, pemindahan kabel ke bawah tanah memang membutuhkan investasi awal yang tidak sedikit, namun manfaat jangka panjangnya jauh lebih berharga bagi keamanan dan kenyamanan publik.

Analisis Komparatif: Kabel Udara vs Sistem SJUT

Pengalihan sistem utilitas dari udara ke bawah tanah membawa perombakan signifikan dalam tata kelola fasilitas publik di ibu kota. Berikut adalah analisis perbandingan antara sistem konvensional kabel udara dengan sistem SJUT bawah tanah:

Aspek Perbandingan Sistem Kabel Udara (Eksisting) Sistem SJUT (Bawah Tanah)
Keselamatan Pengguna Jalan Rentan putus, menjuntai, dan memicu kecelakaan fatal. Tersimpan aman di dalam ducting khusus bawah tanah.
Estetika Kota Semrawut, kumus-kumus, dan merusak pemandangan udara. Bersih, langit kota terlihat lapang dan modern.
Ketahanan Cuaca Mudah rusak terkena hujan deras, angin kencang, dan pohon tumbang. Terlindung secara optimal dari gangguan cuaca ekstrem.
Biaya & Akses Perawatan Frekuensi perbaikan tinggi akibat gangguan fisik luar. Perawatan terstruktur melalui jaringan manhole terpadu.

Rencana Eksekusi dan Tantangan di Lapangan

Pembangunan SJUT di 10 ruas jalan pilihan ini bakal mencakup penggalian saluran khusus (ducting) sebagai tempat pemukiman baru bagi kabel serat optik dan jaringan utilitas lainnya. Penataan ini akan mengintegrasikan berbagai operator telekomunikasi dalam satu wadah terpadu agar tidak ada lagi aktivitas penggalian jalan secara berulang-ulang di masa depan.

Adapun alur pengerjaan proyek penataan utilitas terpadu ini meliputi beberapa tahapan penting:

  • Penyiapan saluran ducting terpadu bawah tanah sepanjang koridor yang ditentukan.
  • Koordinasi intensif bersama Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL) dan PLN.
  • Migrasi kabel jaringan dari udara menuju saluran bawah tanah secara bertahap.
  • Pemotongan kabel udara lama serta pembersihan tiang-tiang utilitas yang sudah tidak berfungsi di trotoar.

Meskipun demikian, pengerjaan proyek bernilai Rp90 miliar ini diprediksi akan menghadapi tantangan teknis di lapangan. Penutupan sebagian lajur jalan saat proses penggalian berpotensi menambah titik kemacetan lalu lintas Jakarta. Oleh sebab itu, Pemprov DKI berkomitmen mengoptimalkan pengerjaan pada malam hari demi meminimalkan gangguan terhadap mobilitas warga sehari-hari.

Keberhasilan penataan utilitas di 10 ruas jalan ini kelak diharapkan menjadi percontohan (blueprint) bagi wilayah-wilayah lain di DKI Jakarta. Publik kini menanti realisasi proyek tersebut agar impian menikmati langit Jakarta yang bersih tanpa jeratan kabel semrawut bisa segera terwujud dalam waktu dekat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User