Oct 15, 2026
Hukum

Mónica Habis 30 Tahun, 50 Surat demi Kewarganegaraan AS

Namanya Mónica. Ia meninggalkan Argentina saat usianya baru 27 tahun, membawa mimpi sederhana yang ia sebut "sebuah petualangan". Tidak ada yang menyangka

Mónica Habis 30 Tahun, 50 Surat demi Kewarganegaraan AS

Namanya Mónica. Ia meninggalkan Argentina saat usianya baru 27 tahun, membawa mimpi sederhana yang ia sebut "sebuah petualangan". Tidak ada yang menyangka petualangan itu akan berlangsung lebih dari tiga dekade, mengubah hidupnya secara total, dan kini menyisakan satu pertanyaan besar: apakah ia harus pulang?

Hari-hari pertama di Amerika Serikat tidak berjalan mulus. Mónica tidak bisa berbahasa Inggris, tidak punya cukup uang, dan sama sekali tidak memiliki dokumen resmi. Bahkan, ada orang yang tega mengingatkannya bahwa ia akan dijuluki 'sudaca'—sebuah sebutan merendahkan yang sering dialamatkan kepada orang Amerika Latin.

"Tidak ada yang mudah. Saya harus membangun semuanya dari nol, tanpa modal, tanpa bahasa, tanpa kertas," kenangnya, seperti dilaporkan media Argentina, La Nación.

Namun perempuan ini tidak menyerah. Ia adalah lulusan Universitas Buenos Aires (UBA) jurusan teknik agronomi, lulus pada 1996. Di negeri orang, gelar itu tidak otomatis diakui. Ia harus berjuang sendiri, mencari setiap celah agar bisa bertahan dan diakui secara legal.

Jalan Panjang 50 Surat dan Perjuangan Kewarganegaraan

  1. 1996–Awal Merantau: Mónica lulus dari UBA, memilih terbang ke Amerika Serikat untuk menempuh studi lanjutan dan mencari pengalaman kerja.
  2. Tahun-tahun Sulit: Tanpa uang dan dokumen, ia bekerja serabutan sambil belajar bahasa Inggris. Stigma sebagai imigran ilegal kerap ia rasakan.
  3. Mengirim 50 Surat: Ia mengirim puluhan surat permohonan kepada berbagai institusi, profesor, dan perusahaan demi mendapatkan sponsor legalitas.
  4. Karier Cemerlang: Perlahan ia membangun karier sebagai insinyur agronomi yang dihormati, jauh dari kata gagal.
  5. Mendapat Kewarganegaraan AS: Setelah bertahun-tahun berjuang, ia resmi memegang paspor Amerika Serikat.

Meski kini memiliki status sebagai warga negara Amerika, Mónica mengaku tidak pernah merasa benar-benar 'orang Amerika'. Identitasnya sebagai orang Argentina tak pernah luntur. Bahkan setiap kali pesawat yang ia tumpangi mulai menurun dan bersiap mendarat di Bandara Ezeiza, Buenos Aires, air matanya jatuh sendiri.

"Di sana, di bawah itu, ada tanah saya. Tidak ada tempat lain di dunia yang membuat saya merasakan hal seperti ini," ujarnya.

Pulang atau Tetap di Negeri Orang?

Selama 30 tahun meninggalkan Argentina, rasa haru itu perlahan memudar. Namun pertanyaan tentang pulang justru semakin kuat. Ia ragu apakah ia mengidealkan kampung halaman yang sudah banyak berubah sejak era 1990-an.

  • Apakah ia masih bisa beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari Argentina yang kini berbeda?
  • Apakah pulang berarti menemukan kedamaian, atau justru kehilangan karier yang telah dibangun di AS?
  • Bagaimana dengan "30 tahun yang hilang" yang tak bisa dikembalikan?

Mónica kini terjebak di antara dua dunia. Di satu sisi, Amerika telah memberinya kehidupan yang stabil. Di sisi lain, darah dan ingatannya tetap tertinggal di Argentina. Keputusannya belum final, tetapi satu hal yang pasti: perjalanannya adalah potret nyata tentang harga mahal yang harus dibayar seorang imigran demi sebuah impian.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User