Sep 02, 2026
entertainment

Di Balik Tren Sleepmaxxing yang Mengancam Kualitas Tidur

Di sebuah kamar kos minimalis di kawasan Senayan, Jakarta, Nadia (27) menatap layar ponselnya hingga pukul 3 dinihari. Bukan karena begadang bekerja, melainkan karena ia sedang berusaha memaksimalkan ...

Di Balik Tren Sleepmaxxing yang Mengancam Kualitas Tidur

Di sebuah kamar kos minimalis di kawasan Senayan, Jakarta, Nadia (27) menatap layar ponselnya hingga pukul 3 dinihari. Bukan karena begadang bekerja, melainkan karena ia sedang berusaha memaksimalkan kualitas tidurnya.板上满是各种 suplemen melatonin, teknik pernapasan五花八门, hingga aplikasi pelacak tidur—semuanya ia coba demi mencapai apa yang disebutnya sebagai "tidur sempurna".

Ketika Obsesi Tidur Menjadi Beban Baru

Perjalanan Nadia bermula dari kelelahan berkepanjangan yang ia rasakan selama berbulan-bulan. Sebagai pekerja di perusahaan startup, tekanan deadline dan gaya hidup urban membuatnya sulit tidur nyenyak. "Saya merasa kalau tidak tidur 8 jam sempurna, hari saya akan hancur," akunya dengan nada pasrah.

Semangatnya untuk tidur lebih baik sebenarnya positif. Namun ketika obsesi itu mulai mengganggu kesehariannya, ia justru mengalami insomnia yang lebih parah. Setiap malam, ia terlalu sibuk memikirkan apakah posisinya sudah benar, apakah suplemennya sudah cukup, apakah suhunya sudah ideal—sehingga otaknya justru tidak bisa beristirahat.

Psikolog klinis Dr. Maya Putri menjelaskan bahwa fenomena ini semakin sering dijumpai di kliniknya. "Banyak pasien datang dengan keluhan tidak bisa tidur, tapi setelah didalami, masalahnya bukan pada kualitas tidurnya. Mereka justru tidak bisa tidur karena terlalu memikirkan cara tidur yang sempurna," kata Dr. Maya dalam wawancara via telepon.

Tren Sleepmaxxing dan Dampaknya yang Mengejutkan

Di media sosial, istilah sleepmaxxing—berusaha memaksimalkan kualitas tidur—tengah viral. Ribuan video tutorial bermunculan di berbagai platform, menawarkan tips dan trik tidur lebih baik. Mulai dari rutinitas sebelum tidur yang kompleks, konsumsi suplemen tertentu, hingga penggunaan alat-alat mahal seperti kasur khusus dan mesin white noise.

Namun di balik popularitasnya, ada dampak yang mengkhawatirkan. Para ahli kesehatan tidur memperingatkan bahwa tren ini justru membuat banyak orang semakin sulit tidur. Tekanan untuk mengikuti standar tidur yang "sempurna" menciptakan kecemasan baru yang kontraproduktif.

"Tidur itu seharusnya proses alami dan menyenangkan. Ketika kita mengubahnya menjadi sesuatu yang harus dioptimalkan dengan sempurna, justru stres yang muncul," jelas Dr. Maya. "Otak kita jadi terus aktif karena selalu dalam mode 'evaluasi'. Ini yang menyebabkan insomnia."

Mencari Keseimbangan di Tengah Gaya Hidup Modern

Nadia kini mulai belajar melepaskan diri dari jeratan sleepmaxxing. Dengan bantuan terapis, ia perlahan mengubah pendekatannya terhadap tidur. "Sekarang saya tidak lagi memaksakan diri untuk tidur 8 jam setiap malam. Kadang 6 jam juga cukup kalau kualitasnya baik," katanya dengan senyum lega.

Perjalanannya mengajarkan satu pelajaran penting: dalam berusaha tidur lebih baik, yang paling dibutuhkan sebenarnya adalah mendengarkan tubuh sendiri. Bukan mengikuti tren atau standar yang ditetapkan oleh internet.

Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, kini tidak lagi dipenuhi berbagai alat tidur canggih. Cukup dengan tirai yang meredupkan cahaya dan musik lembut dari speaker kecil. "Rasanya lebih tenang sekarang. Tidur bukan lagi sesuatu yang harus saya kejar, tapi sesuatu yang datang dengan sendirinya," tutup Nadia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User