Di sebuah rumah kayu sederhana di pinggiran Desa Sukamaju, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Bu Romlah (52) baru saja menyelesaikan pekerjaannya di sawah. Tangannya yang kasar karena lumpur masih menggenggam sebuah tas plastik berisi uang receh hasil penjualan padinya hari itu. Ia menghitung dengan teliti, satu per satu, seolah setiap rupiah menyimpan cerita yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Dulu, saya pernah tidak punya uang sama sekali untuk membeli beras," kata Romlah, memulai ceritanya dengan suara yang bergetar. "Tapi saya tidak mau anak-anak saya merasakan lapar seperti saya waktu kecil dulu."
Cerita ini berawal dari tahun 2018, ketika gagal panen melanda wilayahnya. Hampir seluruh hasil pertanian warga setempat rusak akibat banjir bandang. Romlah, yang saat itu masih harus membiayai pendidikan tiga anaknya, harus menghadapi kenyataan pahit bahwa musim panen yang dinantikan selama berbulan-bulan justru berubah menjadi mimpi buruk.
Menjual Sepeda untuk Sawah
Di masa sulit itu, Romlah harus berkreasi. Ia menjual sepeda tuanya yang menjadi satu-satunya alat transportasi untuk ke sawah. Uang hasil penjualan itu ia gunakan untuk membeli benih baru dan pupuk. Meskipun harus berjalan kaki sejauh tiga kilometer setiap hari, ia tidak mengeluh.
"Saya jalan kaki saja. Yang penting sawah tetap bisa ditanami," ceritanya, sambil tersenyum meski matanya berkaca-kaca.
Kesabaran dan kerja kerasnya perlahan membuahkan hasil. Satu tahun kemudian, sawahnya kembali produktif. Panen yang ia peroleh tidak hanya cukup untuk keluarga, tapi juga bisa dijual ke pasar desa. Setiap rupiah yang masuk, ia sisihkan untuktabungan kecil yang ia namakan "dana darurat anak-anak".
"Uang itu bukan hanya angka. Bagi saya, setiap rupiah adalah harapan untuk masa depan anak-anak saya," kata Romlah dengan penuh keyakinan.
Anak-Anak yang Menjadi Motivasi
Kini, anak sulungnya berhasil lulus dari sekolah kejuruan dan bekerja di sebuah pabrik di Bandung. Anak keduanya saat ini duduk di bangku SMA dan bercita-cita menjadi guru. Sementara anak bungsunya masih duduk di kelas enam sekolah dasar dan menunjukkan bakat luar biasa dalam bidang matematika.
"Mereka adalah alasan saya tidak pernah menyerah," tutur Romlah. "Setiap kali saya merasa tidak kuat, saya ingat wajah mereka. Saya ingin mereka punya masa depan yang lebih baik dari saya."
Romlah kini bahkan berhasil menabung cukup untuk memperbaiki rumahnya. Atap seng yang dulu bocor saat hujan telah diganti dengan genteng baru. Ia juga berhasil membeli smartphone kedua, sebuah alat yang sangat membantunya dalam berkomunikasi dengan anak sulungnya yang jauh di Bandung.
Mengajarkan Nilai Rupiah Sejak Dini
Yang membuat kisah Romlah semakin menginspirasi adalah bagaimana ia mengajarkan nilai-nilai keuangan kepada anak-anaknya. Sejak kecil, anak-anaknya sudah diajarkan untuk menghargai setiap rupiah yang masuk ke keluarga. Mereka tidak pernah meminta mainan atau barang mahal yang tidak нужна.
"Saya ajarkan mereka bahwa uang itu hasil keringat. Bukan sesuatu yang bisa datang dengan mudah," jelas Romlah. "Kalau mereka mengerti dari kecil, nanti mereka akan bisa menghargai pekerjaan mereka sendiri."
Kini, setiap kali Romlah duduk di teras rumahnya menjelang sore, ia sering mengenang perjalanan panjang yang telah ia lalui. Dari tidak memiliki apa-apa, hingga bisa melihat anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang tangguh dan berprestasi.
Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, tergantung sebuah kalender lusuh dan sebuah pigura berisi foto keluarga. Di balik pigura itu, tersimpan sebuah amplop cokelat berisi uang tabungan yang setiap bulannya ia tambah, meski hanya berupa ribuan rupiah. Baginya, itu adalah bukti nyata bahwa perjuangan, sekecil apa pun, tidak akan pernah mengkhianati hasilnya.
"Saya percaya, selama kita masih mau berusaha, tidak ada rupiah yang akan datang dengan sia-sia," tutup Romlah, sebelum kembali masuk ke dapur sederhana untuk menyiapkan makan malam bagi keluarganya.
Comments (0)