Sep 02, 2026
entertainment

Cinta Diri Sejati atau Narsisme Terselubung? Mengenali Batasnya

Di sebuah kafe kecil di bilangan Jakarta Selatan, Naya duduk sendirian di sudut ruangan. Ia memotret makan siangnya dengan teliti—setiap sudut, setiap susunan makanan, setiap warna yang harmonis. Fo...

Cinta Diri Sejati atau Narsisme Terselubung? Mengenali Batasnya

Di sebuah kafe kecil di bilangan Jakarta Selatan, Naya duduk sendirian di sudut ruangan. Ia memotret makan siangnya dengan teliti—setiap sudut, setiap susunan makanan, setiap warna yang harmonis. Foto itu kemudian diedit, diberi filter, lalu diposting di media sosial dengan caption tentang "self love". Namun di balik senyum di layar, ada kekosongan yang tak pernah ia ceritakan. Cerita Naya adalah cerminan dari sebuah fenomena yang kini banyak orang salah kaprahkan: di mana batas antara mencintai diri sendiri dan menjadi terobsesi pada diri sendiri?

Ketika self love berubah menjadi mask

Istilah self love—cinta diri—telah menjadi kata-kata yang begitu populer di era digital. Ia muncul di setiap caption media sosial, di setiap sesi terapi online, bahkan di merchandise seperti mug dan tote bag. Namun, ada sesuatu yang mengkhawatirkan: semakin banyak orang yang mempraktikkan self love, semakin banyak pula yang salah mengartikannya.

Konselor/psikolog Dr. Maya Kusuma, M.Psi, menjelaskan bahwa cinta diri sejati adalah kemampuan untuk menerima diri sendiri apa adanya—termasuk kekurangan dan keterbatasan. "Cinta diri yang sehat berarti kita bisa menghargai diri sendiri tanpa harus menyakiti orang lain, tanpa harus terus-menerus mencari validasi dari orang lain," katanya dalam sebuah wawancara.

Namun, yang terjadi di masyarakat sering kali berbeda. Banyak orang menganggap bahwa memanjakan diri sendiri dengan belanja berlebihan, posting foto tanpa henti, atau menuntut semua orang untuk memuji mereka adalah bentuk self love. Padahal, menurut Dr. Maya, itu justru adalah self obsession—obsesi terhadap diri sendiri yang bisa berbahaya.

Momen yang mengubah cara pandang

Airlang (32), seorang pekerja seni di Bandung, pernah terjebak dalam definisi self love yang keliru. Ia menceritakan bagaimana ia menghabiskan hampir seluruh gajinya untuk traveling dan membeli barang-barang mahal, dengan alasan "aku sayang diri sendiri, aku berhak mendapat yang terbaik".

"Aku pikir semua itu adalah bentuk cinta pada diriku sendiri. Tapi suatu hari, aku duduk sendirian di kamar kos yang kosong. Tidak ada teman yang bisa kutelepon karena aku terlalu sibuk 'menikmati waktu sendiri'. Aku merasa begitu hampa," kenangnya.

Momen itu menjadi titik balik bagi Airlang. Ia mulai memahami bahwa cinta diri sejati bukan tentang memisahkan diri dari dunia, melainkan tentang bagaimana hadir untuk diri sendiri dengan cara yang sehat—termasuk menjaga hubungan dengan orang-orang di sekitar.

Membedakan cinta diri dan obsesi terhadap diri sendiri

Perbedaannya terletak pada dampak jangka panjang dan niat di balik setiap tindakan. Berikut beberapa perbedaan mendasar yang bisa menjadi panduan:

Pertama, cinta diri yang sehat bersifat inklusif, sementara obsesi terhadap diri sendiri bersifat eksklusif. Orang yang mencintai dirinya dengan benar tetap peduli pada orang lain. Mereka bisa merayakan keberhasilan teman tanpa iri, bisa mendengarkan keluh kesah orang lain tanpa merasa terganggu.

Kedua, cinta diri sejati tidak bergantung pada validasi eksternal. Ketika Naya memposting foto untuk "menunjukkan bahwa ia bahagia", itu sebenarnya bukan cinta diri—itu adalah pencarian pujian. Berbeda dengan seseorang yang bisa merasa tenang meskipun tidak ada yang memuji postingannya.

Ketiga, cinta diri yang autentik membuat seseorang mau bertumbuh. Ia mau mengakui kesalahan, mau belajar dari kritik, dan mau keluar dari zona nyaman untuk menjadi versi yang lebih baik. Sementara obsesi terhadap diri sendiri justru membuat seseorang脆 menolak segala bentuk masukan karena merasa sudah "sempurna".

Kembali ke makna yang sesungguhnya

Kembali ke cerita Naya. Setelah menyadari kekosongan di balik setiap postingannya, ia mulai mengurangi waktu di media sosial. Ia mulai menulis jurnal setiap malam—bukan untuk difoto, melainkan untuk memahami perasaannya sendiri. Ia juga mulai bergabung dengan komunitas seni di mana ia bisa berinteraksi tanpa layar di antara.

"Aku belajar bahwa mencintai diri sendiri bukan tentang membuat semua orang melihat betapa hebatnya aku. Ini tentang diam-diam duduk bersama diriku sendiri, menerima bahwa aku tidak selalu baik-baik saja, dan tetap memilih untuk baik terhadap diriku sendiri," cerita Naya.

Perjalanannya tidak mudah. Ada hari-hari di mana ia tergoda untuk kembali ke pola lama—mencari likes sebagai ukuran nilai dirinya. Namun, setiap kali itu terjadi, ia mengingatkan dirinya sendiri: cinta diri yang sejati tidak membutuhkan panggung.

Di sudut kafe yang sama tempat Naya dulu duduk memotret makan siangnya, kini ia duduk bersama seorang teman lama. Mereka tertawa, berbagi cerita, dan menikmati makanan tanpa perlu mengabadikan setiap momen. Bagi Naya, itu adalah bentuk cinta diri yang paling nyata—hadir sepenuhnya tanpa topeng, tanpa filter, dan tanpa ketakutan untuk menjadi vulnerability.

Karena pada akhirnya, mencintai diri sendiri bukan tentang seberapa banyak foto bagus yang bisa kita tunjukkan ke dunia. Ini tentang seberapa berani kita untuk hadir dalam kehidupan kita sendiri—tanpa kepura-puraan, tanpa obsesi, dan dengan segenap ketulusan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User