Di Balik Tatapan Hangat Tiga Legenda Hidup Dangdut Academy

Suasana di balik panggung megah itu tak pernah benar-benar sunyi. Di antara gemuruh musik dan sorak penonton yang tertahan, ada momen-momen sunyi yang justru paling menyentuh. Seperti ketika seorang k...

Jul 13, 2026 - 14:24
0 0
Di Balik Tatapan Hangat Tiga Legenda Hidup Dangdut Academy

Suasana di balik panggung megah itu tak pernah benar-benar sunyi. Di antara gemuruh musik dan sorak penonton yang tertahan, ada momen-momen sunyi yang justru paling menyentuh. Seperti ketika seorang kontestan muda dengan suara bergetar menyelesaikan penampilannya, dan tatapan mata Dewi Perssik tiba-tiba berkaca—bukan karena penampilan itu sempurna, melainkan karena ia mengenali gugup yang sama yang pernah ia rasakan dua dekade silam. Di sudut lain, Nassar mengangguk pelan, tangannya mengetuk-ngetuk lutut mengikuti irama yang masih terngiang di kepalanya. Sementara Soimah, dengan mata menyipit khasnya, tersenyum tipis seolah sedang membaca sesuatu yang tak terucapkan dari panggung. Inilah potret yang jarang tersorot kamera utama: tiga manusia yang telah menempuh perjalanan panjang, kini duduk berdampingan bukan hanya sebagai juri, melainkan sebagai penjaga api dangdut Indonesia.

Perjalanan yang Tak Pernah Lurus

Mengisahkan perjalanan mereka bertiga adalah seperti membaca tiga buku dengan genre berbeda namun bertemu di perpustakaan yang sama. Dewi Perssik, perempuan asal Jember, Jawa Timur, memulai kariernya dari panggung-panggung kecil di kota kelahirannya. Sebelum namanya melambung sebagai "Ratu Dangdut Goyang", ia adalah gadis muda yang sering pulang malam dengan suara serak dan honor seadanya. "Saya ingat betul masa-masa itu. Manggung dari hajatan ke hajatan, kadang dibayar, kadang cuma dapat makanan. Tapi justru di sanalah saya belajar bahwa panggung bukan soal kemewahan," kenangnya suatu kali di sela rekaman. Kini, ketika ia duduk di kursi juri, setiap kritik yang ia lontarkan mengandung pengalaman bertahun-tahun yang tak bisa dibeli dengan uang.

Lain lagi dengan Nassar, pria kelahiran Bandung yang suara emasnya telah menjadi standar tersendiri di blantika musik dangdut Tanah Air. Perjalanannya tak kalah berliku. Sebelum dikenal sebagai salah satu vokalis dangdut pria terbaik yang pernah dimiliki Indonesia, ia hanyalah pemuda biasa yang bernyanyi dari panggung ke panggung di daerah Jawa Barat. Karakter vokalnya yang khas—tinggi, melengking, penuh ornamen—adalah hasil tempaan bertahun-tahun. "Suara itu otot," begitu katanya, "Semakin sering dilatih, semakin kuat. Tapi yang lebih penting, suara harus punya jiwa. Dan jiwa itu datang dari pengalaman hidup." Di Dangdut Academy, Nassar bukan sekadar pengkritik teknis. Ia adalah mentor yang paham bahwa di balik setiap nada sumbang, ada cerita yang lebih besar.

Soimah, sang diva serba bisa dari Pati, Jawa Tengah, melengkapi tritunggal ini dengan pesonanya yang tak tertandingi. Perempuan yang satu ini adalah bukti hidup bahwa bakat bisa datang dalam paket yang tak terduga. Sebelum menjadi fenomena panggung dengan kemampuan tarik suara, lawak, dan akting sekaligus, Soimah adalah penari latar yang berjuang di ibukota. "Saya pernah dianggap tidak cukup cantik, tidak cukup langsing, tidak cukup ini, tidak cukup itu," kisahnya dengan mata yang tetap berbinar, "Tapi panggung tidak butuh kesempurnaan visual. Panggung butuh kebenaran." Kebenaran itulah yang kini ia cari dari setiap kontestan yang tampil di hadapannya—kejujuran dalam bernyanyi, keberanian untuk menjadi diri sendiri.

Momen-Momen yang Tak Terlupakan

Di panggung Dangdut Academy kedelapan ini, ketiganya telah melewati banyak momen yang mungkin tak akan pernah hilang dari ingatan. Ada kalanya mereka tertawa bersama ketika seorang peserta membawakan lagu dengan improvisasi yang tak terduga. Ada pula saat-saat hening ketika sebuah penampilan begitu menyentuh hingga tak ada yang berani berkomentar lebih dulu. Bagi mereka bertiga, menjadi juri bukanlah tentang menilai siapa yang terbaik, melainkan tentang menemukan siapa yang paling siap untuk dibentuk.

Pernah dalam satu sesi, seorang kontestan dari desa terpencil di Sulawesi menyanyikan lagu lawas dengan begitu sederhana namun menggetarkan. Tidak ada teknik vokal yang rumit, tidak ada improvisasi berlebihan. Hanya suara jernih yang mengalun seperti doa. Soimah meneteskan air mata. Nassar menunduk lama. Dewi Perssik menutup mulutnya dengan kedua tangan. Di momen seperti itulah, panggung kompetisi berubah menjadi ruang sakral di mana musik dan kehidupan bertemu dalam harmoni yang tak terlukiskan.

Warisan untuk Generasi Mendatang

Di luar sorotan kamera dan hingar-bingar acara, ada misi yang lebih besar yang mereka emban. Dangdut, sebagai musik akar rumput Indonesia, seringkali dipandang sebelah mata oleh kalangan tertentu. Namun bagi Dewi Perssik, Nassar, dan Soimah, genre ini adalah rumah—tempat di mana jutaan orang Indonesia menemukan suara hati mereka. Mereka bertiga kini bukan hanya menjadi penjaga gawang, melainkan arsitek masa depan musik ini.

Setiap peserta yang mereka bimbing adalah secercah harapan bahwa dangdut akan terus berevolusi tanpa kehilangan jiwanya. Nassar sering berpesan kepada kontestan muda, "Jangan malu menjadi penyanyi dangdut. Musik ini lahir dari rahim ibu-ibu yang menyenandungkan doa, dari ayah-ayah yang bersenandung di sawah. Ini musik kita." Kata-kata itu bukan sekadar motivasi kosong. Itu adalah pengakuan identitas yang dalam, pengingat bahwa apa yang mereka lakukan di panggung mewah ini bersambut ke akar budaya yang jauh lebih tua dari mereka semua.

Di penghujung setiap episode, setelah lampu sorot redup dan penonton beranjak pulang, ketiganya sering kali masih duduk bersama. Bukan membahas kompetisi, melainkan berbagi cerita, mengenang masa lalu, dan sesekali bernyanyi untuk diri mereka sendiri. Di momen itulah mereka bukan sekadar selebritas atau juri. Mereka adalah tiga pejuang budaya yang telah menemukan satu sama lain di persimpangan jalan takdir—dan kini berjalan beriringan menuju arah yang sama: memastikan bahwa musik dangdut tidak akan pernah kehilangan nyawanya.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User