Di Balik Pagar Sekolah: Merajut Komitmen Nyata Cegah Kekerasan Anak

Pagi itu, matahari baru saja naik setinggi pohon jambu di halaman sekolah. Seorang gadis kecil berusia delapan tahun, sebut saja Kinara, berdiri di depan gerbang dengan tangan mungil mencengkeram erat...

Jul 13, 2026 - 21:43
0 0

Pagi itu, matahari baru saja naik setinggi pohon jambu di halaman sekolah. Seorang gadis kecil berusia delapan tahun, sebut saja Kinara, berdiri di depan gerbang dengan tangan mungil mencengkeram erat ujung seragam ibunya. Matanya basah, bukan karena tangis, tetapi oleh ketakutan yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata. Sudah seminggu ini, Kinara enggan masuk kelas. Setiap kali ibunya bertanya, ia hanya menggeleng. Hingga suatu malam, di tengah tidurnya yang gelisah, Kinara bergumam, "Aku tidak mau dipukul lagi, Bu."

Kisah Kinara bukanlah cerita tunggal. Di banyak sudut negeri ini, ribuan anak lainnya menyimpan luka serupa di balik seragam rapi dan senyum yang dipaksakan. Kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan—dari perundungan verbal, kekerasan fisik, hingga perundungan siber—kerap kali menjadi rahasia kelam yang tersembunyi di balik dinding kelas. Data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menunjukkan bahwa ribuan laporan kekerasan anak tercatat setiap tahun, dan angka itu hanyalah permukaan dari gunung es yang jauh lebih besar. Anak-anak yang seharusnya merasa aman di sekolah, justru kerap menjadi korban di tempat yang mereka anggap sebagai rumah kedua.

Mengurai Luka di Balik Seragam Sekolah

Di ruang bimbingan konseling sebuah sekolah dasar negeri di Bekasi, seorang guru BK bernama Bu Marni membuka buku catatan tebalnya. Hampir setiap minggu, ia menerima aduan dari siswa yang mengalami tindakan tidak menyenangkan dari teman sekelasnya. "Kadang cuma ejekan soal fisik, kadang sampai tarik-tarikan kerudung, bahkan dipukul," tuturnya suatu siang. Yang membuat Bu Marni bergetar bukan hanya tindakan itu sendiri, tetapi kenyataan bahwa banyak siswa yang menganggapnya sebagai hal biasa. "Mereka bilang, 'Biasa, Bu, cuma bercanda.' Padahal mata mereka sudah berkaca-kaca," lanjutnya dengan suara pelan.

Lingkungan pendidikan yang aman bukanlah sekadar slogan yang dicetak di spanduk atau dideklarasikan dalam seremoni setahun sekali. Ia adalah ekosistem yang memerlukan kesadaran kolektif, dari para pendidik, orang tua, hingga pembuat kebijakan. Tanpa komitmen nyata, sekolah hanya akan menjadi panggung yang menyembunyikan banyak luka di balik tirai akademik.

Ketika Komitmen Tidak Lagi Sekadar Seremonial

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, dalam sebuah kesempatan diskusi bertajuk perlindungan anak, mengingatkan bahwa mewujudkan lingkungan belajar yang bebas dari kekerasan membutuhkan lebih dari sekadar komitmen di atas kertas. "Wujudkan lingkungan pendidikan aman butuh komitmen nyata yang dijalankan setiap hari, bukan hanya ketika ada kasus viral," ujarnya. Menurutnya, tanpa kolaborasi lintas sektor dan peran aktif keluarga, program seperti Gerakan Nasional Anti Kekerasan terhadap Anak (Gernas RANA) akan sulit mencapai tujuannya.

Gernas RANA sejatinya telah melibatkan banyak kementerian dan lembaga, mulai dari Kemendikbudristek, KemenPPPA, Kemenag, hingga kepolisian, untuk menciptakan sistem pencegahan dan penanganan kekerasan yang terpadu. Namun di lapangan, implementasinya sering kali terkendala oleh minimnya pelatihan bagi guru, rendahnya pemahaman hak anak di kalangan orang tua, serta kultur permisif yang masih menganggap kekerasan sebagai metode pendisiplinan.

"Kolaborasi lintas sektor harus sampai ke tingkat akar rumput. Sekolah tidak bisa bekerja sendiri, keluarga juga tidak bisa menutup mata. Semua harus menjadi bagian dari gerakan yang sama," tegas Lestari dalam diskusi tersebut. Pernyataannya menegaskan bahwa pencegahan kekerasan anak adalah pekerjaan rumah bersama yang menuntut keterlibatan emosional dan moral dari setiap elemen masyarakat.

Keluarga: Benteng Pertama yang Sering Terlupakan

Di sinilah peran keluarga menjadi kunci. Sering kali, kekerasan yang terjadi di sekolah bermula dari kebiasaan di rumah yang tidak lagi dianggap sebagai pelanggaran. Sebuah bentakan, cubitan, atau label negatif yang dilontarkan kepada anak di masa kecilnya, tanpa sadar mengajarkan bahwa kekuasaan bisa ditegakkan dengan rasa sakit. Ketika anak masuk ke lingkungan sekolah, pola itu ia bawa dan ia praktikkan kepada teman sebayanya. Atau sebaliknya, ia menjadi pribadi yang rentan menjadi korban karena merasa tidak berharga.

Seorang psikolog anak, dalam sebuah sesi konsultasi di Jakarta Timur, berbagi cerita tentang pasangan orang tua yang baru menyadari buah hatinya menjadi pelaku perundungan setelah berkali-kali dipanggil sekolah. "Awalnya mereka tidak percaya, karena di rumah anak itu pendiam. Setelah digali, ternyata sang ayah sering melontarkan kata-kata merendahkan saat anak melakukan kesalahan. Tanpa sadar, si anak meniru persis perilaku itu ke temannya," ungkapnya.

Kisah ini mengajarkan bahwa menciptakan sekolah aman tidak bisa dimulai dari gerbang sekolah saja. Ia harus dimulai dari meja makan keluarga, dari cara orang tua mendengarkan cerita anak tanpa menghakimi, dari tangan yang hanya terulur untuk merangkul, bukan memukul. Gernas RANA, dalam hal ini, juga perlu menjangkau ranah domestik—memperkuat literasi orang tua tentang pola asuh positif dan hak-hak dasar anak.

Merajut Asa di Setiap Ruang Belajar

Di penghujung kisah Kinara, setelah pihak sekolah berkolaborasi dengan psikolog dan orang tuanya, ia perlahan kembali berani melewati gerbang sekolah. Bu Marni memberinya jurnal kecil untuk menuliskan perasaannya setiap kali ia takut. Perlahan-lahan, halaman jurnal itu mulai diisi bukan dengan rasa takut, melainkan dengan gambar bunga dan impian menjadi guru. "Aku ingin jadi guru yang tidak membiarkan muridnya disakiti," tulisnya dengan tulisan tangan yang masih belum rapi.

Kalimat sederhana itu menggema jauh melampaui halaman buku tulisnya. Ia mewakili harapan jutaan anak Indonesia yang mendambakan sekolah sebagai ruang tumbuh yang aman, hangat, dan penuh percaya. Dan untuk mewujudkan itu, tidak ada jalan pintas. Hanya ada komitmen yang dihidupi setiap hari, di setiap rumah, di setiap kelas, dan di setiap kebijakan yang berpihak pada yang paling rentan. Pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat harus duduk bersama, merajut luka, dan membangun kembali pagar perlindungan yang kokoh bagi anak-anak negeri ini.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User