Dari Lantai Musala, Kini Majelis Taklim Punya Hari Nasional
Suara lembut itu tak pernah hilang ditelan deru kota. Setiap Kamis siang, dari balik dinding musala kecil di tepi gang sempit, lantunan Surah Yasin mengalun, disusul tawa renyah dan obrolan hangat par...
Suara lembut itu tak pernah hilang ditelan deru kota. Setiap Kamis siang, dari balik dinding musala kecil di tepi gang sempit, lantunan Surah Yasin mengalun, disusul tawa renyah dan obrolan hangat para perempuan. Di situlah Ibu Aminah, 67 tahun, menghabiskan lebih dari separuh usianya. Bukan sekadar mengaji, melainkan menempa diri, berbagi cerita, dan perlahan mengubah hidup banyak orang. Hari ini, ia menangis haru: Badan Musyawarah Islam Wanita Indonesia (BMIWI) resmi mencanangkan Hari Majelis Taklim Nasional.
“Saya tidak pernah menyangka, majelis kecil kami yang hanya beralas tikar itu bisa punya hari besar sendiri,” ujarnya, suaranya bergetar, diselingi isakan. Bagi Aminah dan jutaan perempuan lain, pengakuan ini adalah jawaban dari doa-doa panjang yang selama ini hanya terdengar di langit-langit musala.
Lebih dari Sekadar Pengajian
Selama puluhan tahun, majelis taklim sering dipandang sebelah mata—sekadar forum ibu- rumah tangga mengisi waktu luang. Namun, realitasnya jauh lebih dalam. Di balik jadwal rutin membaca Al-Quran dan mendengarkan tausiah, majelis taklim menjadi ruang pendidikan nonformal paling masif di Indonesia. Ia menampung perempuan dari berbagai usia dan latar belakang, yang mungkin tak pernah mengenyam bangku sekolah tinggi, tetapi haus akan ilmu dan keterampilan hidup.
Di banyak tempat, majelis taklim adalah tempat pertama kali seorang perempuan belajar tentang kesehatan reproduksi, gizi keluarga, hingga manajemen keuangan rumah tangga. Ia menjelma jejaring sosial yang kuat: ketika ada anggota yang sakit, yang lain bergotong royong; ketika ada yang melahirkan, mereka bergantian memasak; ketika ada masalah rumah tangga, forum ini menjadi ruang curhat paling aman. “Kami tidak hanya mengaji, kami saling menguatkan,” tegas Aminah. “Dari sini, kami belajar berani bicara, bahkan sampai ke urusan lingkungan dan ekonomi.”
Data dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa majelis taklim berkontribusi pada peningkatan literasi perempuan, penurunan angka pernikahan dini, hingga pengentasan kemiskinan melalui program koperasi dan usaha kecil yang lahir dari obrolan seusai pengajian. Namun, selama ini peran itu nyaris tak bersuara di panggung nasional.
Pencanangan yang Membawa Air Mata
Dalam sebuah acara yang digelar sederhana namun khidmat, BMIWI mengumumkan pencanangan Hari Majelis Taklim Nasional. Tepat di penghujung acara, deretan perempuan berkerudung warna-warni itu berdiri, mengangkat tangan, dan membaca doa bersama. Tangis pecah. Bukan tangis kesedihan, melainkan kelegaan—sebab kerja sunyi mereka akhirnya dirayakan secara resmi. “Ini bukan sekadar simbol, ini penegasan bahwa dakwah perempuan dan peran strategis majelis taklim diakui sebagai pilar bangsa,” ujar Ketua Umum BMIWI, mengakhiri sambutannya dengan suara yang hampir tertelan haru.
Para peserta yang hadir berasal dari berbagai daerah. Ada yang menempuh perjalanan berjam-jam dengan bus, ada pula yang patungan menyewa mobil agar bisa datang. Mereka membawa cerita: majelis taklim di pelosok yang berhasil melahirkan bidan kampung, majelis yang menggerakkan daur ulang sampah menjadi produk bernilai ekonomi, hingga majelis yang menjadi garda terdepan mendamaikan konflik kecil antartetangga. “Hari ini kami merasa dilihat,” bisik Nurhayati, peserta asal Garut, sambil menggenggam erat tasbihnya.
Merayakan Peran, Meneguhkan Masa Depan
Pencanangan ini diharapkan tidak berhenti pada seremoni. BMIWI mendorong agar Hari Majelis Taklim Nasional menjadi momentum untuk memperkuat jaringan antar-majelis, memfasilitasi akses pelatihan dan pendanaan, serta melibatkan perempuan majelis taklim dalam perumusan kebijakan di tingkat desa hingga nasional. “Kami ingin pemerintah dan masyarakat melihat bahwa di balik dapur dan sapu, ada kekuatan perempuan yang sudah terbukti mengakar dan membawa perubahan,” tambah perwakilan BMIWI.
Para pemerhati sosial menyambut positif. Menurut mereka, pengakuan ini bisa mempercepat advokasi isu-isu yang selama ini dibawa majelis taklim, seperti perlindungan anak, pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, dan pendidikan inklusif. “Majelis taklim adalah laboratorium sosial yang hidup. Ia bergerak tanpa banyak bunyi, tapi hasilnya nyata,” ujar seorang pengamat.
Bagi Ibu Aminah, apapun nanti bentuk perayaannya, yang terpenting adalah generasi muda mau meneruskan. “Saya titip majelis ini, jangan sampai sepi. Karena di sinilah kita belajar bahwa perempuan bisa menjadi apa saja, selama ia berpegang pada iman dan kebersamaan,” pesannya, matanya menerawang ke musala yang sepi. Dan di langit senja, gema Surah Yasin seakan pulang, membawa kabar baik bahwa dari lantai dingin musala, sebuah hari nasional telah lahir.
Baca juga:
Comments (0)