Dari Gundam hingga Jujutsu Kaisen: Menyusuri Pesona Action Figure Anime Lintas Generasi
Di sudut kamar berukuran tiga kali empat meter, Dika (27) duduk mematung di depan etalase kaca. Jemarinya menyentuh lembut kotak plastik transparan yang masih terbungkus rapi. Di dalamnya, sosok Luffy...
Di sudut kamar berukuran tiga kali empat meter, Dika (27) duduk mematung di depan etalase kaca. Jemarinya menyentuh lembut kotak plastik transparan yang masih terbungkus rapi. Di dalamnya, sosok Luffy dengan gigi melongo khasnya berdiri gagah dalam balutan jaket merah. Bukan sekadar mainan, bagi Dika, benda itu adalah jembatan menuju masa kecilnya—ketika ia dan mendiang ayahnya setiap Minggu pagi duduk bersama menonton One Piece. “Setiap kali lihat figure ini, saya seperti bisa mencium lagi bau kopi hitam ayah,” ujarnya lirih.
Kisah Dika bukanlah satu-satunya. Di berbagai kota di Indonesia, ribuan penggemar anime menemukan kembali sihir nostalgia lewat hobi mengoleksi action figure. Dari deretan karakter klasik seperti Son Goku dan Doraemon, hingga wajah-wajah baru seperti Gojo Satoru dan Denji, figure-figur ini tidak hanya menjadi pajangan—mereka menjelma jadi penanda waktu, sahabat dalam kesepian, dan ekspresi identitas.
Mengikat Kenangan dalam Plastik dan Cat
Psikolog sosial Dr. Ratna Adiningrum menyebut fenomena ini sebagai “jangkaran emosional”. Menurutnya, benda koleksi tidak hanya memuaskan hasrat memiliki, tetapi juga menjadi jangkar yang mengikat seseorang pada momen emosional tertentu. “Ketika seseorang membeli action figure karakter favorit dari masa kecilnya, ia sebenarnya sedang membeli kembali perasaan aman dan bahagia di masa itu,” jelasnya. Inilah yang membuat deretan karakter lawas tetap bertahan di hati penggemar. Di forum-forum daring, kolektor ramai memburu rilisan ulang Tsubasa Ozora dari Captain Tsubasa atau Sailor Moon versi nostalgia edition yang diluncurkan beberapa pabrikan Jepang. Harganya bisa melejit puluhan kali lipat, namun bagi para pemburu kenangan, angka tidak lagi penting.
Dari Etalase ke Gerakan Sosial
Yang lebih mengharukan, hobi ini kerap melahirkan solidaritas tak terduga. Di masa pandemi lalu, komunitas kolektor figure Gundam di Bandung menginisiasi lelang amal. Hasilnya digunakan untuk membeli alat pelindung diri dan bahan pokok bagi warga sekitar yang terdampak. “Kami sadar hobi ini bisa jadi agen kebaikan. Dari berbagi stiker hingga melepas figure langka, semuanya kami lakukan tanpa beban,” kata Irfan, koordinator acara. Momen puncaknya, seorang anggota melepaskan koleksi Mazinger Z edisi terbatas miliknya seharga Rp7 juta demi donasi. Tak sedikit yang meneteskan air mata saat patung robot kebanggaannya diantar ke pembeli.
Wajah Baru, Cerita Baru
Ledakan serial anime baru seperti Jujutsu Kaisen, Demon Slayer, dan Chainsaw Man turut menyuntikkan energi segar. Generasi muda kini berburu figure Nezuko Kamado yang bisa berganti pose atau Gojo Satoru dengan mata tertutup misterius. Pasar pun merespons cepat: produsen lokal mulai berani merilis versi affordable dengan kualitas mendekati produk impor. Yossi, pemilik toko hobi di Jakarta Selatan, mengisahkan bahwa pelanggannya kini beragam—dari siswa SMP yang menabung uang jajan hingga pekerja kantoran yang rela lembur demi melunasi pre-order. “Mereka bukan sekadar beli, mereka meneliti, berdiskusi, bahkan menanti dengan sabar berbulan-bulan. Ada cinta yang besar di sana,” tuturnya.
Di balik harga yang kadang fantastis, para penggemar menemukan bahwa setiap lecet kecil di kotak atau sedikit goresan di cat justru menambah nilai emosional. Seperti kata Dika, “Ini bukan soal berapa rupiah yang keluar. Ini tentang siapa aku dulu, dan siapa aku yang masih memimpikan petualangan yang sama.” Di tengah gempuran kehidupan dewasa yang serba cepat, action figure menjadi pengingat bahwa di sudut hati setiap insan, selalu ada anak kecil yang masih ingin bermain.
Baca juga:
Comments (0)