Dari Gereja Blenduk ke Rengginang Ketan: Warisan Manis Semarang
Langit Semarang pagi itu begitu bersih. Deretan bangunan tua di kawasan Kota Lama seperti terbangun dari tidur panjangnya, disapa lembut sinar matahari yang menembus sela-sela daun trembesi. Di antara...
Langit Semarang pagi itu begitu bersih. Deretan bangunan tua di kawasan Kota Lama seperti terbangun dari tidur panjangnya, disapa lembut sinar matahari yang menembus sela-sela daun trembesi. Di antara gedung-gedung warisan kolonial itu, berdiri Gereja Blenduk dengan kubah merahnya yang ikonik. Suara loncengnya menggema, berpadu dengan suara tawa anak-anak yang berlarian di pelatarannya. Namun, di sudut lain, tepat di seberang jalan kecil berbatu, aroma manis dan gurih menguar dari sebuah lapak sederhana. Di sanalah Mbok Darmi, seorang penjual rengginang ketan, memulai harinya.
Sudah puluhan tahun ia setia menempati sudut itu. Tangannya yang keriput lincah menyusun bulatan-bulatan rengginang di atas tampah anyaman bambu. “Dulu, waktu saya masih gadis, tempat ini sudah ramai. Tapi yang beli rengginang ya tetap saja, orang-orang yang selesai sembahyang di gereja atau wisatawan yang penasaran,” kenang Mbok Darmi sambil tersenyum. Kisahnya menjadi jembatan antara dua warisan Semarang yang tak banyak disadari: bangunan bersejarah nan megah dan camilan tradisional yang sederhana.
Gereja Blenduk: Saksi Bisu Perjalanan Kota
Gereja Blenduk, yang bernama asli Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Immanuel, adalah salah satu landmark paling terkenal di Kota Lama Semarang. Dibangun pada tahun 1753 oleh komunitas Belanda, gereja ini memiliki kubah besar—dari situlah julukan “Blenduk” berasal, yang dalam bahasa Jawa berarti “menggelembung”. Arsitekturnya memadukan gaya Eropa dengan sentuhan lokal, terlihat dari pilar-pilar kokoh dan jendela kaca patri yang memesona.
Di dalamnya, hawa sejuk dan aroma kayu tua menyambut setiap pengunjung. Deretan bangku kayu jati berukir halus menghadap altar yang sederhana namun khidmat. “Setiap kali masuk ke sini, saya seperti dibawa ke masa lalu. Ini bukan sekadar tempat ibadah, tapi juga jejak sejarah yang hidup,” ujar Rangga, seorang pemandu wisata yang kerap membawa tamu asing ke sana. Pengunjung bebas masuk, hanya perlu berpakaian sopan. Saat lonceng besar di menara berdentang, getarannya terasa hingga ke jalanan di luar—mengingatkan bahwa bangunan ini telah melewati lebih dari dua setengah abad.
Rengginang Ketan: Camilan Gurih yang Penuh Kenangan
Jika Gereja Blenduk menyimpan cerita tentang waktu, rengginang ketan menyimpan cerita tentang rasa. Bagi masyarakat Jawa, rengginang adalah camilan yang akrab sejak kecil. Terbuat dari beras ketan yang dikukus, dibumbui, lalu dijemur hingga kering dan digoreng, makanan ini menawarkan tekstur renyah di luar namun sedikit kenyal di dalam. Di balik kesederhanaannya, ada resep turun-temurun yang dijaga dengan penuh cinta.
Mbok Darmi membagikan rahasia dapurnya. “Kuncinya ada di ketan yang pulen dan bumbu yang seimbang. Saya pakai ketan putih pilihan, direndam semalaman, lalu dikukus dengan santan kental, sedikit garam, dan gula pasir. Setelah matang, dicetak bulat-bulat kecil, dijemur dua-tiga hari sampai benar-benar kering. Kalau kurang kering, nanti meletup saat digoreng,” jelasnya sambil menunjukkan wadah-wadah berisi adonan.
Resep rengginang ketan manis gurih ala Mbok Darmi memang sederhana: 500 gram beras ketan putih, 200 ml santan kental, 1 sendok teh garam, 3 sendok makan gula pasir, dan minyak untuk menggoreng. Ketan direndam 4 jam, ditiriskan, lalu dikukus setengah matang. Campur santan, garam, dan gula, masak hingga mendidih, lalu tuang ke ketan dan kukus kembali hingga matang sempurna. Bentuk bulat pipih, jemur di bawah sinar matahari langsung selama 2–3 hari. Goreng dalam minyak panas dengan api sedang hingga mengembang dan berwarna kuning keemasan. Rengginang siap dinikmati, apalagi ditemani teh hangat di sore hari.
Ketika Sejarah dan Rasa Berpadu
Menyusuri Kota Lama Semarang ibarat membaca buku sejarah yang hidup. Setiap sudutnya bercerita: dari gedung-gedung tua yang direvitalisasi, museum-museum mungil, hingga pedagang kaki lima yang bertahan di tengah modernitas. Gereja Blenduk dan rengginang ketan adalah dua sisi dari satu keping yang sama: warisan yang terus dirawat dengan caranya masing-masing. Yang satu lewat arsitektur, yang lain lewat cita rasa.
“Saya ingin anak-cucu saya tetap bisa mencicipi rengginang ini, seperti saya dulu belajar dari simbah,” kata Mbok Darmi, matanya menerawang ke arah gereja yang kini mulai ramai pengunjung. Di luar, matahari semakin tinggi. Suara langkah kaki wisatawan bersahutan dengan dentang lonceng. Segala yang sederhana, ketika dijaga dengan hati, akan menjadi kekayaan yang tak ternilai.
Semarang, dengan segala ceritanya, mengajarkan bahwa sejarah bukan hanya tentang bangunan megah, tetapi juga tentang rasa yang terus dikenang dari generasi ke generasi. Jika Anda kelak berkunjung ke sana, sempatkanlah mampir ke Gereja Blenduk, lalu cicipi rengginang ketan di sudut jalan. Maka, sepotong sejarah akan hadir dalam setiap gigitan.
Rengginang Ketan, Resep Rengginang, Gereja Blenduk, Wisata Semarang, Kuliner Tradisional, Kota Lama Semarang Jelajahi keindahan Gereja Blenduk dan nikmati resep rengginang ketan manis gurih khas Semarang. Baca kisah lengkapnya di sini! #WisataSemarang #KulinerNusantara Semarang bukan hanya tentang Lawang Sewu atau Lumpia. Di balik kemegahan Gereja Blenduk, ada cerita tentang rengginang ketan yang manis dan gurih. Simak kisahnya dan coba resepnya sendiri di artikel ini. Wisata religi dan kuliner berpadu di Kota Lama Semarang. Dari Gereja Blenduk hingga rengginang ketan, semuanya punya cerita. Pagi di Kota Lama Semarang, suara lonceng Gereja Blenduk berpadu dengan aroma rengginang ketan dari lapak Mbok Darmi. Sebuah kisah tentang sejarah dan cita rasa.
Comments (0)