Dari Bilik Hotel Bandara ke Lahan Gambut, Kisah Pilu Pejuang Karhutla

Ketika pesawat mendarat mulus di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Erika—seorang pekerja kemanusiaan dari Banjarmasin—bergegas turun menuju Grand Anara Airport Hotel. Ia hanya punya waktu tiga ja...

Jul 11, 2026 - 18:46
0 1

Ketika pesawat mendarat mulus di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Erika—seorang pekerja kemanusiaan dari Banjarmasin—bergegas turun menuju Grand Anara Airport Hotel. Ia hanya punya waktu tiga jam untuk bertemu relawan yang akan membantunya mendokumentasikan krisis lahan gambut di Kalimantan Selatan. Hotel mewah itu menyambutnya dengan desain modern nan lengkap, bahkan ada padel court dan lounge bisnis yang nyaman. Namun di dalam hatinya, Erika membawa beban berat: puluhan hektare lahan gambut di kampungnya telah mengering, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan tengah berjibaku melakukan rewetting untuk mencegah bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang lebih dahsyat. Di antara kemewahan terminal dan kenyamanan hotel, terselip kisah menyentuh tentang perjuangan melawan api yang lahir dari tanah kering.

Grand Anara: Transit yang Menjadi Saksi Bisu

Grand Anara Airport Hotel bukan sekadar tempat istirahat bagi pelancong. Dengan predikat “The Best Airport Hotel,” ia menjadi saksi pertemuan penting para relawan, peneliti lingkungan, dan donor yang berupaya meredam krisis gambut. Erika mengisahkan bagaimana ia harus berpindah-pindah antara ruang rapat berlapis karpet tebal dan hamparan lahan gambut yang retak sedalam luka. “Saya sering menangis di kamar hotel setelah melihat video kiriman warga: tanah mereka hangus, anak-anak batuk karena asap,” tuturnya. Momen mengharukan itu terasa kontras dengan fasilitas paddle court dan sajian kopi artisanal di lobi hotel, menunjukkan betapa krisis iklim bisa menyentuh siapa saja, termasuk mereka yang sesekali berada di zona nyaman.

“Rewetting itu sederhana, cukup basahi lahan. Tapi di baliknya ada air mata petani yang kehilangan panen, ada mimpi yang ikut terbakar,” kata Kepala BPBD Kalsel dalam sambungan video yang diperlihatkan Erika.

Ketika Kolaborasi Lahir di Ruang Tunggu

Pertemuan tak terduga di hotel ini mempertemukan Erika dengan seorang investor dari Jakarta yang sedang transit menuju Singapura. Melalui presentasi singkat di pojok café, Erika menjelaskan pentingnya pembasahan gambut menggunakan teknologi sederhana. Investor itu, yang awalnya hanya ingin tidur nyenyak sebelum penerbangan, justru ikut tersentuh. “Saya tidak pernah menyangka hotel bandara bisa menjadi pusat lahirnya gerakan penyelamat lahan,” katanya. Akhirnya, dukungan dana mengalir untuk proyek rewetting. Di balik layar kemewahan, ada kisah inspirasi tentang bagaimana kemanusiaan dapat tumbuh di tempat-tempat yang paling tak terduga.

Bangkit dari Asap dan Kenyamanan Sederhana

Saat ini, BPBD Kalsel terus memperluas area rewetting, sementara Erika menggalang lebih banyak bantuan dari para profesional yang sering singgah di hotel bandara. Grand Anara, dengan segala fasilitasnya, telah menjadi lebih dari sekadar penginapan—ia menjadi simpul harapan. Bagi Erika, perjalanan antara bangsal hotel dan lahan gambut yang mengering adalah metafora tentang tanggung jawab: kita bisa menikmati kenyamanan modern, tapi tidak boleh lupa bahwa di luar sana ada tanah yang menangis minta diselamatkan. Kisah ini menyentuh kita untuk melihat bandara dan hotel bukan hanya ruang transit, melainkan juga ruang bagi lahirnya kolaborasi kemanusiaan.

[TAGS]: lahan gambut, karhutla, Grand Anara Hotel, bandara Soekarno-Hatta, rewetting, kisah pejuang lingkungan, krisis iklim [SOCIAL_TWEET]: Dari paddle court Grand Anara Hotel, seorang aktivis lingkungan menggalang dana untuk selamatkan lahan gambut Kalsel. Kisah menyentuh di balik kemewahan terminal bandara. #SavePeatlands #Karhutla [SOCIAL_FB]: Sebuah hotel bandara mewah menjadi saksi pertemuan tak terduga yang menyelamatkan lahan gambut dari kebakaran. Antara kenyamanan modern dan jeritan tanah kering, tersimpan kisah perjuangan yang mengharukan. Simak selengkapnya. [SOCIAL_TG]: “Rewetting itu sederhana, cukup basahi lahan. Tapi di baliknya ada air mata petani.” Dari Terminal 3 hingga lahan gambut Kalsel, sebuah cerita inspiratif tentang harapan yang tumbuh di ruang transit. #KrisisIklim #LahanGambut [SOCIAL_THREADS]: Ia menginap di hotel bandara termewah, tapi hatinya menangis untuk lahan gambut yang mengering. Thread mengharukan tentang Erika, relawan yang mencari dana sambil transit, dan bagaimana kenyamanan bisa melahirkan gerakan penyelamatan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User