Sep 02, 2026
entertainment

Momen Haru di Bandara Baiyun Saat Kabar Duka Pesawat China Eastern

Senin pagi itu, udara Guangzhou terasa lebih berat dari biasanya. Di Terminal 2 Bandara Internasional Baiyun, para penumpang yang seharusnya berangkat dengan China Eastern Airlines perlahan menyadari ...

Momen Haru di Bandara Baiyun Saat Kabar Duka Pesawat China Eastern

Senin pagi itu, udara Guangzhou terasa lebih berat dari biasanya. Di Terminal 2 Bandara Internasional Baiyun, para penumpang yang seharusnya berangkat dengan China Eastern Airlines perlahan menyadari bahwa sesuatu telah terjadi. Layar informasi penerbangan menampilkan kata-kata yang tak seorang pun ingin baca—penerbangan mereka tertunda tanpa kepastian, lalu akhirnya dibatalkan.

Di sudut konter check-in, seorang perempuan paruh baya terdiam memandangi layar ponselnya. Matanya berkaca-kaca. Ia tak sendiri. Puluhan orang di sekitar sana berbagi tatapan yang sama—cemas, bingung, dan penuh doa.

Kerumunan yang Sunyi

Berbeda dengan hari-hari biasa ketika bandara selalu ramai dengan langkah terburu-buru dan percakapan keras, pagi itu terasa berbeda. Kerumunan penumpang berdiri dalam kesunyian yang menyesakkan. Beberapa di antara mereka memeluk tas ransel dengan erat, seolah benda kecil itu menjadi satu-satunya kepastian yang tersisa.

Seorang pria tua duduk di kursi tunggu, kepalanya tertunduk. Ia tampak tak peduli pada announcement yang berkali-kali mengulang tentang penundaan penerbangan. Tangannya gemetar saat mencoba menghubungi nomor yang tak kunjung tersambung.

"Saya menunggu kabar dari kakak saya yang ada di dalam pesawat itu," kata pria yang menolak menyebutkan namanya itu, suaranya parau. "Dia baru saja打电话—maaf, baru saja menelepon saya sebelum boarding. Dia bilang excited sekali akan pulang ke Kunming untuk bertemu cucu pertamanya."

Doa yang Tak Terucap

Di area keberangkatan, sekelompok keluarga kecil berdiri berdekatan. Seorang ibu muda menggendong anak berusia sekitar tiga tahun di pelukannya. Anak itu tak mengerti mengapa ibunya menangis tersedu. Wanita itu hanya bisa memejamkan mata, bibirnya bergerak tanpa suara—berdoa.

Petugas bandara berjalan mondar-mandir dengan wajah tegang. Beberapa di antara mereka harus berulang kali menelan air liur untuk menjaga emosi saat memberikan informasi kepada penumpang yang追问—yang bertanya dengan suara bergetar.

Di seberang koridor, seorang pramugari China Eastern yang seharusnya bertugas di penerbangan lain duduk sendirian di bangku panjang. Seragam merahnya tampak kusut. Ia menatap jauh ke arah landasan pacu tempat pesawat-pesawat lain masih berangkat dan tiba, seolah takjub oleh betapa biasanya dunia penerbangan berlanjut di saat sesuatu yang mengerikan sedang terjadi.

Momen yang Menghentikan Waktu

Ketika kabar resmi akhirnya dikonfirmasi, kesedihan menyelimuti seluruh sudut bandara. Para penumpang yang telah menunggu sejak pagi akhirnya memahami bahwa penerbangan yang mereka nantikan tak akan pernah berangkat hari itu—atau mungkin tidak akan pernah sama sekali.

Seorang fotografer media lokal berdiri di kejauhan, namun tak sekalipun mengangkat kameranya. Dalam momen seperti ini, katanya, yang paling penting bukanlah gambar, melainkan rasa manusiawi.

Beberapa keluarga mulai beranjak meninggalkan bandara dengan langkah berat. Mereka tak banyak bicara. Yang tersisa hanyalah gema langkah kaki di lantai marmer yang begitu luas, serta bisikan angin yang seolah membawa duka dari lereng gunung jauh di provinsi Guangxi—tempat di mana mimpi 132 orang hangus dalam sekejap.

Malam harinya, lilin-lilin kecil dinyalakan di trotoar depan bandara oleh warga yang datang menghormati. Cahaya kecil itu berkedip pelan, menandakan harapan yang tak pernah padam—meski pagi itu, harapan terasa begitu jauh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User