Cigombong, Bogor — MNC Lido Gelar Lomba Kaligrafi dan Cerdas Cermat
Pagi itu, halaman Madrasah Diniyah Al-Hidayah di Desa Watesjaya tampak lebih hidup dari biasanya. Puluhan anak berpakaian muslim rapi berbaris, sebagian me
Pagi itu, halaman Madrasah Diniyah Al-Hidayah di Desa Watesjaya tampak lebih hidup dari biasanya. Puluhan anak berpakaian muslim rapi berbaris, sebagian membawa kertas khusus berhias bingkai emas, lainnya duduk berkelompok sambil menghafal ayat-ayat pendek di bibir. Di sudut lapangan, panitia dari MNC Lido City dan MNC Peduli sibuk menyiapkan panggung kecil dan lembar soal cerdas cermat. Tahun Baru Islam 1 Muharam di desa ini tak lagi sekadar seremonial—ia menjelma menjadi panggung belajar yang hangat dan meriah.
“Saya sudah latihan menulis khat setiap sore sejak seminggu lalu,” ujar Siti Maemunah (11), salah satu peserta lomba kaligrafi, sambil memegang pensil kaligrafi khusus yang mulai aus ujungnya. “Saya pengen hadiahnya, tapi lebih pengen tulisan saya nanti bisa dipajang di musala. Kata Ibu, itu pahala mengalir.” Anak-anak seperti Siti bukan hanya mengejar piala; mereka merajut makna spiritual di balik lengkung huruf-huruf Arab yang mereka tulis.
Sementara itu, di sudut lain, lomba cerdas cermat berlangsung seru. Empat regu dari tiga madrasah di Desa Watesjaya saling berebut menekan bel. Pertanyaan seputar sirah Nabi, rukun iman, hingga pengetahuan umum Islam meluncur cepat dari moderator. “Ini bukan sekadar hafalan. Kami ingin anak-anak terbiasa berpikir kritis tentang agama,” ujar Ahmad Fauzi, koordinator kegiatan dari MNC Peduli yang ikut menyemangati peserta. “Kami percaya, pendidikan karakter lahir dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan dengan riang.”
Beberapa ibu yang menunggui anaknya di bawah tenda tak bisa menyembunyikan haru. Sumiati, orang tua peserta asal Kampung Babakan, mengaku jarang melihat anak-anak desa begitu bersemangat belajar Islam. “Biasanya mengaji saja kadang susah disuruh. Tapi gara-gara lomba ini, dia malah sering tanya tentang kisah Rasul di rumah,” katanya sambil tersenyum. Kehadiran Lido Lake Resort by MNC Hotel sebagai tuan rumah bersama semakin menambah semarak acara—anak-anak dijamu makanan ringan, dan pemenang mendapat beasiswa kecil serta perlengkapan sekolah.
Analisis Dampak Sosial: Lebih dari Sekadar Kompetisi
Acara yang diinisiasi oleh KEK MNC Lido City bersama MNC Peduli ini bukan sekadar ajang adu bakat. Di balik panggung lomba, ada upaya menghidupkan ekosistem pendidikan non-formal berbasis komunitas. Desa Watesjaya, yang berada di Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, memiliki beberapa madrasah diniyah yang selama ini beroperasi dengan sumber daya terbatas. Lomba semacam ini menjadi ruang apresiasi bagi para santri dan guru yang sehari-hari mengajar dengan dedikasi tinggi namun jarang mendapat sorotan.
“Kegiatan ini menjadi oase di tengah tantangan pendidikan karakter generasi muda,” tutur Dr. Hidayat, pengamat pendidikan Islam dari Bandung yang turut hadir sebagai juri tamu. “Ketika anak-anak melihat bahwa kemampuan mengaji dan menulis kaligrafi dihargai setara dengan kejuaraan olahraga, ada kebanggaan baru yang tumbuh. Itu pelajaran hidup yang tidak bisa diajarkan di dalam kelas biasa.”
Dari sisi partisipasi, panitia mencatat antusiasme yang melampaui perkiraan. Data internal menunjukkan sebaran peserta dari tiga madrasah dengan jumlah total 78 anak, terbagi dalam dua cabang lomba utama dan satu lomba tambahan. Berikut ini rinciannya:
| Jenis Lomba | Jumlah Peserta | Tingkat Kesulitan |
|---|---|---|
| Kaligrafi (individu) | 35 anak | Menengah (hiasan mushaf) |
| Cerdas Cermat (regu) | 32 anak (8 regu) | Dasar—Menengah |
| Adzan (individu) | 11 anak | Pemula |
Yang menarik, lebih dari 60% peserta baru pertama kali mengikuti lomba berskala lintas madrasah. Ini menandakan bahwa potensi anak-anak desa selama ini belum tersalurkan secara optimal. MNC Lido City dan MNC Peduli berkomitmen menjadikan acara ini sebagai kalender tahunan, dengan cakupan yang diperluas ke desa-desa sekitar. “Kami ingin Lido tidak hanya dikenal sebagai kawasan wisata, tetapi juga tempat yang ikut membangun manusia,” ujar Fauzi menutup perbincangan.
Di ujung acara, saat nama-nama pemenang diumumkan, sorak sorai dan tepuk tangan bergema. Seorang anak laki-laki berlari memeluk ibunya sambil membawa kertas kaligrafi yang baru saja juara. Di tangannya yang kecil, secarik kertas itu bukan sekadar hasil lomba—ia adalah pengingat bahwa di desa kecil ini, cahaya Tahun Baru Islam benar-benar terasa hangat, dipeluk bersama, dan dirayakan dengan makna.
Comments (0)