Buku Broken Strings: Saat Aurelie Moeremans Akhirnya Memeluk Luka Masa Lalu

Di sebuah kafe kecil di bilangan Senopati, Aurelie Moeremans duduk memegang secangkir teh chamomile yang sudah mendingin. Matanya sembab, tapi bibirnya tersenyum tipis. Di depannya, sebuah buku bersam...

Jul 11, 2026 - 18:00
0 0
Buku Broken Strings: Saat Aurelie Moeremans Akhirnya Memeluk Luka Masa Lalu

Di sebuah kafe kecil di bilangan Senopati, Aurelie Moeremans duduk memegang secangkir teh chamomile yang sudah mendingin. Matanya sembab, tapi bibirnya tersenyum tipis. Di depannya, sebuah buku bersampul biru tua dengan huruf emas bertuliskan Broken Strings baru saja ia letakkan dengan hati-hati. Buku itu adalah memoarnya, dan baginya, setiap halaman adalah seutas benang, dari gitar yang patah di masa lalu.

Menulis sebagai Terapi: Ketika Suara Tak Mampu Terucap

Publik mengenal Aurelie sebagai aktris dan penyanyi yang memesona. Tapi di balik tawa di atas panggung, ia menyimpan ruang gelap yang tak banyak diketahui. “Saya pernah kehilangan arah. Saya merasa seperti gitar dengan senar putus—masih bisa dipetik, tapi nadanya fals, menyakitkan,” tulis Aurelie di bagian awal bukunya.

Broken Strings bukan sekadar buku memoar, melainkan catatan perjalanan batinnya menghadapi perundungan di masa remaja, kegagalan cinta yang menghancurkan, hingga tekanan industri hiburan yang nyaris merenggut jati dirinya. Proses penulisannya ia mulai pada 2024, saat ia tengah menjalani masa pemulihan dari kecemasan akut.

“Saya menulis bukan untuk menginspirasi. Saya menulis karena saya tidak bisa berhenti menangis, dan tulisan adalah satu-satunya cara saya bernapas,” katanya dengan suara bergetar saat peluncuran buku di Gramedia Central Park, awal tahun ini.

Senar-Senar yang Mulai Disetel Ulang

Buku ini terdiri dari 12 bab, masing-masing diberi nama seperti judul lagu kesayangan Aurelie. Ada bab tentang ibunya yang selalu menjadi pelabuhan, ada bab tentang sosok ayah yang jarang ia ceritakan. Namun yang paling menyedot perhatian pembaca adalah bab “The Last Chord”, di mana ia mengisahkan malam saat ia hampir mengakhiri hidupnya sendiri.

“Saya tidak ingin pembaca merasa kasihan. Saya ingin mereka tahu, bahwa bahkan di titik tergelap sekalipun, selalu ada satu nada yang belum dimainkan,” lanjutnya.

Menariknya, Aurelie menyisipkan QR code di setiap akhir bab yang terhubung ke sebuah lagu instrumental yang ia ciptakan sendiri. Cara ini membuat pengalaman membaca menjadi perjalanan multisensori, seolah pembaca ikut memegang senar yang perlahan-lahan diperbaiki.

Penerimaan yang Menggetarkan

Sejak rilis, Broken Strings langsung menjadi buku terlaris di platform daring. Namun yang paling mengharukan adalah pesan-pesan dari pembaca. Banyak yang mengaku ikut menangis, tetapi juga merasa ditemani. Seorang pembaca, Mita (24), menulis di ulasannya: “Saya merasa Aurelie menuliskan isi kepala saya. Saya merasa tidak sendiri.”

Bagi Aurelie, reaksi itu adalah obat yang tak ternilai. “Ketika saya memutuskan untuk jujur, saya pikir saya akan kehilangan segalanya. Tapi ternyata, kejujuran justru membawa saya pulang ke pelukan yang lebih hangat.”

Kini, Aurelie tengah menyiapkan edisi khusus yang akan dibagikan gratis ke panti remaja. Baginya, buku ini adalah gitar yang kini sudah bersenar lengkap, dan ia siap bermain kembali.

[TAGS]: Aurelie Moeremans, Broken Strings, buku memoar, kesehatan mental, perjuangan artis, biblio terapi, buku Indonesia [SOCIAL_TWEET]: “Saya menulis karena saya tidak bisa berhenti menangis.” Aurelie Moeremans buka luka masa lalu di buku Broken Strings. Ini bukan sekadar memoar, ini perjalanan menyetem ulang hati. [SOCIAL_FB]: Nyaris menyerah pada hidup, Aurelie Moeremans justru selamatkan diri lewat tulisan. Broken Strings adalah bukti bahwa dari senar yang putus, bisa lahir simfoni yang menyelamatkan. Baca kisah lengkapnya. [SOCIAL_TG]: Setiap bab ada QR code ke lagu instrumental, dan ada bab yang berjudul The Last Chord—malam ketika ia hampir akhiri hidupnya. Aurelie Moeremans merilis Broken Strings, memoar yang membuat pembaca menangis. [SOCIAL_THREADS]: Gitar bersenar putus, tapi Aurelie pelan-pelan menyetem ulang hidupnya lewat buku. Broken Strings adalah ajakan untuk tetap mainkan nada terakhirmu. Jangan menyerah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User