Welcome!

Unlock your personalized experience.
Sign Up

Budapest — Veda Ega Pratama Melesat dari P26 ke P2 di Latihan Moto3 Hungaria

Udara pagi di Hungaroring masih dingin ketika Veda Ega Pratama melintas keluar pit lane untuk sesi latihan bebas pertama Moto3 Hungaria 2026. Di atas motor

Jul 09, 2026 - 20:24
0 0
Budapest — Veda Ega Pratama Melesat dari P26 ke P2 di Latihan Moto3 Hungaria

Udara pagi di Hungaroring masih dingin ketika Veda Ega Pratama melintas keluar pit lane untuk sesi latihan bebas pertama Moto3 Hungaria 2026. Di atas motor Honda Team Asia-nya, pembalap muda asal Indonesia itu tampak tenang—namun hasil yang tertera di papan waktu sama sekali tidak mencerminkan potensi sesungguhnya. P26. Jauh dari kata memuaskan. Tapi inilah Moto3: kelas yang brutal, di mana sepersepuluh detik bisa memisahkan rasa frustrasi dari secercah harapan. Dan Veda memilih untuk berpegang pada yang kedua.

Dinginnya Hungaroring dan Pelajaran dari P26

Sesi pertama memang berat. Trek sepanjang 4,38 kilometer dengan 14 tikungan ini belum sepenuhnya akrab dengan gaya balap Veda. Data telemetri menunjukkan motor masih kekurangan traksi di sektor dua yang teknisi—sektor yang menuntut kepercayaan diri penuh saat menikung cepat. “Dia keluar dari motor dengan wajah datar, tapi saya tahu dia kecewa,” ujar Riko Andrianto, mekanik senior Honda Team Asia yang sudah mendampingi Veda sejak musim rookie-nya. “Yang saya kagumi, dia tidak banyak mengeluh. Dia langsung duduk, menatap data laptop, dan mulai menggambar ulang racing line di kepalanya.”

“Yang saya kagumi, dia tidak banyak mengeluh. Dia langsung duduk, menatap data laptop, dan mulai menggambar ulang racing line di kepalanya.” — Riko Andrianto, mekanik senior Honda Team Asia

Di momen inilah karakter Veda diuji—bukan di atas podium, melainkan di garasi sempit yang dipenuhi aroma oli dan suara obrolan teknisi Jepang. Pembalap kelahiran Semarang itu memutuskan mengubah pendekatannya: lebih agresif di tikungan lambat, lebih sabar menunggu motor stabil sebelum membuka gas penuh.

Practice Session: Ledakan dari Belakang

Ketika sesi practice dimulai beberapa jam kemudian, Veda bagai pembalap yang berbeda. Ia keluar pit dengan postur lebih rendah, tubuhnya mengunci motor seperti bagian dari sasis. Lap demi lap, waktunya merangkak naik. Dari papan tengah, ke sepuluh besar, lalu—tepat di menit-menit terakhir—ia membukukan catatan waktu yang cukup untuk mengamankan posisi kedua, hanya terpaut tipis dari pemuncak sesi.

Perbaikan delapan detik dari catatan pagi hari bukanlah sihir. Itu hasil dari keberanian mengubah ritme balap yang selama ini nyaman ia pakai. “Di lintasan Eropa yang suhunya rendah, kamu harus berani memaksa ban depan bekerja lebih keras. Veda melakukannya tanpa kehilangan kontrol,” jelas Marco Delvecchio, analis performa yang bekerja dengan tim satelit Honda.

Keluarga balap Indonesia yang menyaksikan langsung dari tribun kecil dekat tikungan 5 pun bersorak. “Kami deg-degan sepanjang sesi. Rasanya seperti melihat adik sendiri bertarung,” cerita Santi Purnamasari, mahasiswi Indonesia di Budapest yang datang bersama teman-temannya. “Saat layar besar menunjukkan P2, kami semua menangis. Ini Hungaria, jauh dari rumah, tapi rasanya seperti menang di Sentul.”

“Saat layar besar menunjukkan P2, kami semua menangis. Ini Hungaria, jauh dari rumah, tapi rasanya seperti menang di Sentul.” — Santi Purnamasari, mahasiswi Indonesia di Budapest

Lompatan dari P26 ke P2 bukan sekadar statistik. Di Moto3, kepercayaan diri adalah mata uang paling berharga. Hasil ini menempatkan Veda dalam radar para pesaing menjelang sesi kualifikasi. Lebih dari itu, ini adalah sinyal kuat bahwa adaptasi cepat adalah senjata barunya musim ini—kemampuan yang akan sangat dibutuhkan di sirkuit-sirkuit baru yang belum memiliki data historis memadai.

Malam itu, di paddock Hungaroring yang mulai sepi, Veda terlihat duduk di tangga garasi sambil menatap kosong ke arah lintasan. Mungkin ia sedang merekam ulang setiap tikungan, atau mungkin hanya menikmati momen hening sebelum perang sesungguhnya dimulai di hari Sabtu dan Minggu. Yang pasti, seorang bocah dari Semarang baru saja mengirim pesan keras: ia tidak akan berlama-lama di belakang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User