Aug 25, 2026
Hukum

Brimob Sumut Lepas Safari Dakwah, Bobby Nasution Dikritik Tinggalkan Sidang

Di tengah langit Medan yang cerah, gema takbir dan lantunan sholawat memenuhi ruang utama Masjid Al Barokah Markas Komando Satuan Brimob Polda Sumatera Uta

Brimob Sumut Lepas Safari Dakwah, Bobby Nasution Dikritik Tinggalkan Sidang

Di tengah langit Medan yang cerah, gema takbir dan lantunan sholawat memenuhi ruang utama Masjid Al Barokah Markas Komando Satuan Brimob Polda Sumatera Utara, Jalan Bilal. Rabu (22/7) itu, puluhan personel Brimob berseragam biru duduk bersila bersama para ulama dan santri Pondok Pesantren Tasawuf dan Tahfidzul Qur'an Baitul Mustaghfirin Al Amir. Mereka tengah mengikuti prosesi pelepasan Tim Safari Dakwah Tahun Baru Hijriah 1448 H yang akan menyusuri sejumlah kota di Aceh. Namun di sisi lain Kota Medan, di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumut, sebuah pemandangan kontras terjadi: Gubernur Sumatera Utara Muhammad Bobby Afif Nasution meninggalkan ruang sidang paripurna sebelum agenda pengambilan keputusan bersama rampung, memantik gelombang kritik tajam. Dua peristiwa dalam satu waktu ini seolah menghadirkan potret dwimuka tentang bagaimana moralitas dan etika diperlakukan di ruang publik Sumatera Utara.

Spiritualitas sebagai Fondasi Moralitas Umat

Pelepasan tim safari dakwah itu dipimpin langsung oleh Komandan Satuan Brimob Polda Sumut, Kombes Pol. M. Rendra Salipu, S.I.K., M.Si. Ia hadir bersama para pejabat utama satuan tersebut, menunjukkan betapa institusi kepolisian serius menjadikan pendekatan spiritual sebagai pilar pembinaan internal dan eksternal. Tim dakwah yang dinakhodai Buya Prof. Dr. KH. Amiruddin MS., M.A., M.B.A., Ph.D. itu akan bertolak ke Kuala Simpang, Lhokseumawe, Bireuen, hingga Banda Aceh, mengusung tema yang sarat makna: "Pembinaan Spiritualitas dalam Membangun Moralitas Umat".

Tema tersebut bukan sekadar jargon. Ia mencerminkan sebuah kesadaran kolektif bahwa penegakan hukum dan ketertiban tidak bisa berdiri sendiri tanpa fondasi keimanan yang kokoh. Brimob Polda Sumut melalui program ini ingin menegaskan bahwa sinergi ulama dan polri adalah jalan sunyi nan strategis untuk memperkuat karakter bangsa, membentengi generasi muda dari krisis moral, dan menanamkan akhlakul karimah di tengah masyarakat. Di masjid yang menjadi saksi pelepasan itu, suasana khidmat terasa begitu menusuk. Kombes Rendra Salipu secara simbolis menyerahkan bendera petaka kepada Buya Amiruddin, diiringi doa agar perjalanan dakwah ini menjadi berkah bagi umat dan pengabdian kepolisian.

Sidang Paripurna yang Kehilangan Ruhnya

Sementara nuansa spiritual membalut Mako Brimob, di jantung legislatif Sumut, energi politik justru tercerabut dari akar etisnya. Gubernur Bobby Nasution dan sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dilaporkan meninggalkan rapat paripurna DPRD Sumut sebelum prosesi berakhir. Agenda yang seharusnya menjadi puncak kolaborasi eksekutif-legislatif—pengambilan keputusan bersama terhadap Ranperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Provinsi Sumut Tahun Anggaran 2025—mendadak terasa hambar tanpa kehadiran gubernur.

Tindakan ini langsung memantik reaksi keras. Direktur Indonesian Parliament Watch (IParWa), Sutrisno Pangaribuan, dengan nada kecewa menyatakan bahwa langkah tersebut telah mencederai etika politik dan merupakan sinyal retaknya komunikasi antara dua cabang pemerintahan daerah. Dalam keterangannya kepada awak media di Medan, ia menuturkan kritik yang menggugat:

"Tindakan Bobby Nasution yang meninggalkan ruang rapat paripurna tanpa terlebih dahulu meminta izin kepada pimpinan sidang merupakan sikap yang tidak menghormati lembaga DPRD Sumut sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah sekaligus representasi masyarakat Sumatera Utara. Ini jelas mencederai etika dan memperlihatkan komunikasi politik yang mulai timpang."

Bagi Sutrisno, ketidakhadiran gubernur bukan sekadar absensi fisik. Ia adalah pesan simbolik tentang merenggangnya relasi kekuasaan, tentang tata krama demokrasi yang mulai diabaikan oleh pemimpin tertinggi daerah. Ruang sidang yang ditinggalkan sebelum waktunya seakan menjadi panggung sunyi bagi pertanyaan besar: ke mana moralitas para pemimpin ketika keputusan penting untuk rakyat sedang diambil?

Dua Cermin Moralitas di Bumi Sumatera

Dua peristiwa pada hari yang sama ini menyuguhkan kontradiksi yang menohok. Di satu sisi, Korps Brimob Polda Sumut bersama para ulama bergerak aktif merajut spiritualitas umat, percaya bahwa pembangunan karakter adalah hulu dari segala ketertiban. Di sisi lain, perilaku politik pemimpin puncak Sumut justru memperlihatkan defisit keteladanan yang mengkhawatirkan. Apakah ini pertanda bahwa seruan moralitas hanya lantang di mimbar-mimbar masjid, namun sunyi di ruang-ruang kekuasaan?

Pengamat sosial dan politik lokal menilai bahwa kasus ini seharusnya menjadi bahan refleksi bagi seluruh jajaran pemerintahan. Program safari dakwah Brimob adalah contoh konkret bagaimana institusi negara bisa menjadi motor transformasi spiritual. Namun, efek baik itu akan tergerus jika para pemimpin politik justru gagal menunjukkan etika dasar sekalipun. Masyarakat Sumut berhak menagih konsistensi: apakah pembinaan moralitas hanya berlaku untuk rakyat biasa, atau juga wajib dimiliki oleh para pemimpin?

Peristiwa meninggalkan sidang paripurna oleh Gubernur Bobby Nasution mencerminkan urgensi untuk merajut kembali komunikasi politik yang sehat antara eksekutif dan legislatif. Tanpa fondasi saling menghormati, agenda-agenda strategis daerah terancam menjadi korban ego sektoral. Sebaliknya, langkah Brimob Polda Sumut menjadikan momentum 1448 Hijriah sebagai panggung dakwah meneguhkan bahwa kolaborasi antara penjaga keamanan dan pembimbing rohani adalah jalur yang patut diperkuat dalam memelihara keutuhan sosial.

Keduanya ibarat dua sisi mata uang yang mempertanyakan kembali komitmen moralitas publik. Bila safari dakwah yang dihelat dengan semangat membangun umat mampu menjangkau hati masyarakat di pelosok Aceh, maka panggung politik di Sumut harus segera membersihkan citranya sendiri—dimulai dari hal paling sederhana: hadir dan menghormati forum kenegaraan hingga selesai. Hanya dengan cara itulah, tema besar "Pembangunan Spiritualitas dalam Membangun Moralitas Umat" dapat benar-benar menemukan wujudnya, bukan sekadar slogan di spanduk-acara, melainkan napas yang menghidupi setiap tindakan para pemimpin.

[SOCIAL_TWEET]: Dua wajah Sumut dalam sehari: Brimob lepas safari dakwah jaga moralitas umat, sementara Gubernur Bobby Nasution dikritik tinggalkan sidang paripurna. Simak selengkapnya di sini. #EtikaPolitik #Sumut[SOCIAL_TG]: 🔴 FOKUS SUMUT: Brimob Polda Sumut lepas tim safari dakwah ke Aceh demi membangun moralitas umat. Tapi di hari yang sama, Gubernur Bobby Nasution dikritik tinggalkan rapat paripurna DPRD sebelum selesai. Etika politik dipertanyakan. Bagaimana kita memaknai kontras ini? Selengkapnya di artikel berikut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User