BOGOR — Dosen IPB Ungkap Penyebab Udara Makin Panas dan Jarang Hujan

Beritaseputar.com, Bogor — Warga Kota Bogor dan sekitarnya dalam beberapa pekan terakhir mengeluhkan kondisi cuaca yang tidak biasa. Udara terasa jauh lebi

Jul 12, 2026 - 13:10
0 0

Beritaseputar.com, Bogor — Warga Kota Bogor dan sekitarnya dalam beberapa pekan terakhir mengeluhkan kondisi cuaca yang tidak biasa. Udara terasa jauh lebih panas dari tahun-tahun sebelumnya, sementara hujan yang biasanya rutin mengguyur kota hujan ini semakin jarang turun. Fenomena ini memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat maupun akademisi. Seorang dosen dari Institut Pertanian Bogor (IPB) angkat bicara dan mengungkapkan temuan mengejutkan tentang biang kerok di balik anomali cuaca tersebut.

Kronologi Perubahan: Bogor yang Tak Lagi Sejuk

Bogor telah lama dikenal dengan julukan "Kota Hujan" berkat curah hujannya yang tinggi dan suhu udaranya yang sejuk. Namun, julukan itu kini mulai dipertanyakan. Berdasarkan catatan observasi lapangan dan data meteorologi, perubahan signifikan mulai terasa sejak awal tahun 2025 dan semakin menguat pada kuartal ketiga.

  1. Januari–Maret 2025: Curah hujan masih dalam batas normal, namun suhu rata-rata harian mulai menunjukkan tren kenaikan sebesar 0,8°C dibanding periode sama tahun 2024.
  2. April–Juni 2025: Intensitas hujan menurun drastis hingga 40%. Hari tanpa hujan (dry spell) meningkat menjadi 12–15 hari berturut-turut, dua kali lipat dari pola biasanya.
  3. Juli–September 2025: Suhu maksimum harian mencapai 35–37°C, sebuah rekor yang belum pernah tercatat sebelumnya di wilayah Bogor. Kebun Raya Bogor, yang biasanya menjadi oasis kesejukan, turut mencatat suhu permukaan tanah yang lebih tinggi.
  4. Oktober–November 2025: Masyarakat mulai mengeluhkan gangguan kesehatan akibat panas, sementara petani lokal melaporkan gagal panen pada komoditas sayuran dataran tinggi.

Analisis Ahli: Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Dosen IPB yang melakukan kajian mendalam terhadap fenomena ini menyampaikan hasil analisisnya secara eksklusif. Menurutnya, penyebab utama memanasnya udara Bogor dan berkurangnya curah hujan bukanlah faktor tunggal, melainkan akumulasi dari beberapa penyebab yang saling berkaitan.

"Temuan kami di lapangan cukup mengejutkan. Ada tiga faktor dominan yang menjadi biang kerok: pertama, pengurangan drastis tutupan vegetasi akibat alih fungsi lahan di kawasan penyangga Bogor. Kedua, peningkatan emisi gas rumah kaca dari sektor transportasi dan industri di Jabodetabek yang efeknya meluas. Ketiga, fenomena El Niño Modoki yang tahun ini polanya berbeda dan berdampak langsung pada wilayah Jawa Barat bagian barat," ujar dosen tersebut saat ditemui di Kampus IPB Dramaga, Kamis (28/11/2025).

Alih Fungsi Lahan: Luka di Jantung Pendingin Alami

Salah satu temuan paling mengkhawatirkan adalah laju deforestasi dan alih fungsi lahan di kawasan Puncak, Ciawi, dan sekitarnya. Data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa dalam kurun waktu lima tahun terakhir, lebih dari 2.500 hektare lahan hijau di kawasan Bogor dan sekitarnya telah beralih fungsi menjadi perumahan, vila komersial, dan area parkir wisata.

Dampaknya sangat nyata: hilangnya efek evapotranspirasi yang selama ini menjadi mekanisme alami pendinginan suhu udara. Pepohonan besar yang dulu berfungsi sebagai "AC raksasa" kini digantikan oleh beton dan aspal yang justru memerangkap panas dan menciptakan fenomena urban heat island di wilayah yang dulunya hijau.

  • Kehilangan tutupan pohon: lebih dari 1,2 juta pohon dalam satu dekade terakhir
  • Peningkatan suhu permukaan: 3–5°C lebih panas di area yang kehilangan vegetasi
  • Penurunan kelembapan relatif: dari rata-rata 85% menjadi 72% pada siang hari

Dampak Nyata di Masyarakat

Kondisi ini tidak sekadar menjadi bahan diskusi akademis. Masyarakat Bogor merasakan langsung dampaknya. Seorang pedagang kaki lima di kawasan Sempur mengaku pendapatannya menurun karena pembeli enggan keluar rumah saat siang hari yang menyengat. Petani di lereng Gunung Salak melaporkan tanaman selada dan brokoli mereka layu sebelum masa panen karena suhu tanah yang terlalu tinggi.

Selain itu, beberapa puskesmas di Kota Bogor mencatat peningkatan kunjungan pasien dengan keluhan dehidrasi, heat exhaustion, hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat debu jalanan yang beterbangan karena tanah yang terlalu kering.

Langkah Mitigasi: Apa yang Bisa Dilakukan?

Dosen IPB tersebut menekankan bahwa situasi ini belum terlambat untuk diperbaiki, namun membutuhkan langkah kolektif dan segera. Beberapa rekomendasi yang disampaikan meliputi moratorium alih fungsi lahan di kawasan resapan air, program penanaman kembali pohon-pohon besar endemik, serta pengelolaan transportasi untuk menekan emisi kendaraan yang semakin masif di jalur Puncak dan lingkar luar Bogor.

"Kita harus bertindak sekarang. Jika dibiarkan, dalam 5–10 tahun ke depan Bogor akan kehilangan identitasnya sebagai kota hujan. Yang lebih parah, krisis air bersih bisa menjadi ancaman serius berikutnya," pungkasnya dengan nada prihatin.

Pemerintah Kota Bogor dan Kabupaten Bogor diharapkan segera berkoordinasi dengan pemerintah provinsi serta kementerian terkait untuk merumuskan kebijakan terpadu. Masyarakat pun diimbau untuk berpartisipasi aktif, mulai dari menanam pohon di pekarangan rumah hingga mengurangi penggunaan kendaraan bermotor pribadi.

[SOCIAL_TWEET]: Bogor yang dulu dikenal sebagai Kota Hujan kini justru makin panas dan jarang diguyur hujan. Dosen IPB ungkap tiga biang kerok di balik anomali ini, dari alih fungsi lahan hingga El Niño Modoki. Lebih dari 2.500 hektare lahan hijau lenyap dalam lima tahun! #BogorPanas #KotaHujan #PerubahanIklim[SOCIAL_TG]: 🌡️ Bogor Makin Panas, Dosen IPB Ungkap Biang Keroknya! Udara makin menyengat, hujan makin jarang. Ternyata ini penyebabnya: alih fungsi lahan masif, emisi kendaraan, dan El Niño Modoki. Lebih dari 2.500 hektare lahan hijau lenyap dalam 5 tahun. Apa kata ahli selengkapnya? Baca di sini 👇

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User