Sep 18, 2026
DI Yogyakarta

BANTUL — Serangan Kutu Kebul Gagalkan Panen Ribuan Tanaman Melon

Harapan manis para petani melon di kawasan Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul, mendadak pupus di pertengahan musim tanam kali ini. Lahan pertanian yan

BANTUL — Serangan Kutu Kebul Gagalkan Panen Ribuan Tanaman Melon

Harapan manis para petani melon di kawasan Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul, mendadak pupus di pertengahan musim tanam kali ini. Lahan pertanian yang semula diproyeksikan menghasilkan buah segar berbobot prima justru berubah muram akibat serangan hama kutu kebul yang kian tak terkendali. Tak tanggung-tanggung, sekitar 2.000 batang melon dipastikan gagal panen total.

Ancaman Serangga Mini Berdampak Masif

Kutu kebul atau Bemisia tabaci mungkin berukuran sangat kecil, nyaris kasat mata bila dipandang sepintas. Namun, daya rusaknya terhadap tanaman hortikultura sungguh luar biasa. Serangga pengisap getah ini menyerang bagian bawah daun muda, membuat tanaman kehilangan nutrisi vital hingga perlahan layu, mengering, dan akhirnya mati sebelum sempat membesarkan buah.

Bagi petani di Banguntapan, kemunculan hama ini datang begitu cepat dan agresif. Perubahan cuaca yang tak menentu dalam beberapa pekan terakhir disinyalir menjadi pemicu utama ledakan populasi kutu kebul. Tanaman yang semula tampak subur mendadak menunjukkan gejala daun mengeriting dan menguning akibat paparan virus yang dibawa oleh serangga tersebut.

"Kami sudah mencoba berbagai cara penyemprotan sejak awal gejala muncul, tapi perkembangbiakannya luar biasa cepat. Rasanya sangat menyesakkan melihat ribuan pohon yang kami rawat setiap hari harus dibongkar tanpa menghasilkan sebutir pun buah yang layak jual," keluh salah seorang petani setempat.

Kerugian Finansial dan Beban Modal Petani

Gagal panen ini praktis menimbulkan kerugian material hingga mencapai jutaan rupiah. Angka tersebut mencakup modal pengadaan bibit unggul, pupuk organik maupun kimia, pemasangan mulsa plastik, hingga biaya operasional perawatan harian yang telah digelontorkan sejak masa olah tanah.

Bagi petani skala kecil, kehilangan seluruh modal dalam satu siklus tanam merupakan pukulan telak bagi keberlanjutan usaha tani mereka. Terlebih lagi, melon merupakan komoditas bernilai ekonomi tinggi yang membutuhkan investasi awal cukup besar dibandingkan tanaman palawija biasa. Kini, mereka terpaksa menanggung beban utang sarana produksi tanpa ada pemasukan dari hasil panen.

Upaya Pemulihan dan Edukasi Pengendalian Hama

Guna memutus siklus hidup kutu kebul agar tidak menular ke lahan pertanian lain di sekitarnya, petani terpaksa mencabuti dan memusnahkan sisa-sisa tanaman yang terinfeksi. Pembersihan sanitasi lahan secara menyeluruh menjadi langkah wajib sebelum mereka berani menanami kembali bidang tanah tersebut dengan varietas yang berbeda.

Para pengamat pertanian setempat menyarankan agar petani mulai menerapkan sistem pengendalian hama terpadu (PHT). Penggunaan perangkap likat kuning (yellow sticky trap), pergiliran tanaman non-inang, serta aplikasi pestisida nabati secara berkala dinilai lebih efektif menekan resistensi hama daripada bergantung sepenuhnya pada bahan kimia sintetis. Diharapkan ada pendampingan intensif dari dinas terkait agar kejadian serupa tidak terus berulang pada musim tanam berikutnya.

Petani melon di Kapanewon Banguntapan, Bantul, harus menelan kerugian jutaan rupiah setelah 2.000 batang tanaman melon mereka rusak terserang kutu kebul (Bemisia tabaci). Populasi hama melonjak drastis dan menularkan virus tanaman hingga panen dipastikan gagal total. Simak ulasan lengkapnya di Beritaseputar.com.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User