Sep 18, 2026
Bali

Badung Sabet Juara Utama Lomba Nyanyian Keagamaan UDG Bali XXXIII

Suasana khidmat bercampur antusiasme tinggi menyelimuti gelaran Utsawa Dharma Gita (UDG) Bali XXXIII. Ajang tahunan yang menjadi wadah pelestarian sastra s

Badung Sabet Juara Utama Lomba Nyanyian Keagamaan UDG Bali XXXIII

Suasana khidmat bercampur antusiasme tinggi menyelimuti gelaran Utsawa Dharma Gita (UDG) Bali XXXIII. Ajang tahunan yang menjadi wadah pelestarian sastra suci dan lagu keagamaan Hindu ini kembali hadir membawa pesona kebudayaan yang kental. Namun, ada pemandangan yang tak biasa sekaligus menyita perhatian publik pada kategori perlombaan nyanyian keagamaan kali ini. Dari total sembilan kabupaten dan kota yang tersebar di Pulau Dewata, rupanya hanya ada tiga daerah yang secara resmi mengirimkan kontingen terbaiknya untuk berlaga di atas panggung.

Ketiga daerah yang memberanikan diri untuk menguji kebolehan seni mereka adalah Kabupaten Badung, Gianyar, dan Tabanan. Pertarungan sengit namun tetap menjunjung tinggi nilai persaudaraan pun tak terhindarkan. Setelah melewati proses pengamatan dan penilaian yang cukup ketat dari juri-juri ahli, kontingen **Badung** akhirnya keluar sebagai **Juara I**. Keberhasilan ini disusul oleh kontingen **Gianyar** yang meraih **Juara II**, serta kontingen **Tabanan** yang harus puas menduduki posisi **Juara III**.

Hasil Akhir dan Peta Persaingan UDG Bali XXXIII

Keterbatasan jumlah peserta tidak mengurangi kemeriahan kompetisi, meski harus diakui panggung persaingan menjadi jauh lebih sempit. Kategori nyanyian keagamaan yang seharusnya menjadi ajang unjuk kebolehan seluruh sudut Bali kini hanya diwarnai oleh pertarungan tiga kekuatan utama tersebut. Berikut adalah rekapitulasi raihan prestasi pada kategori ini:

Peringkat Kabupaten / Kota Status Capaian
Juara I Kabupaten Badung Pemenang Utama
Juara II Kabupaten Gianyar Runner-Up
Juara III Kabupaten Tabanan Posisi Ketiga

Evaluasi Dewan Juri: Potensi Minim Akibat Sepi Peserta

Minimnya keterlibatan kabupaten/kota di Bali dalam kategori ini rupanya memicu kekhawatiran tersendiri di kalangan dewan juri. Salah satu anggota dewan juri yang juga akademisi seni, **Prof. Dr. Desak Made Suarti Laksmi**, menyampaikan catatan kritisnya usai sesi penilaian berlangsung. Menurutnya, ajang UDG tingkat provinsi memiliki peran yang sangat strategis, bukan sekadar mencari pemenang trofi lokal, melainkan juga menyaring talenta emas yang siap diterjunkan mewakili Bali di tingkat nasional.

“Kalau hanya tiga, ya hanya tiga peluang. Kalau delapan atau sembilan ikut, kita lebih banyak peluang untuk mencari yang terbaik,” tegas Prof. Dr. Desak Made Suarti Laksmi saat ditemui wartawan di lokasi acara.

Sepinya partisipasi ini dinilai membatasi ruang gerak tim penilai dalam menjaring bakat-bakat potensial. Juri menegaskan bahwa bisa jadi ada talenta luar biasa yang tersembunyi di kabupaten lain, namun gagal bersinar karena daerahnya absen mengirimkan wakil. Hal ini tentu menjadi kerugian tersendiri bagi pembinaan seni keagamaan Bali secara keseluruhan di masa yang akan datang.

Kualitas Pertunjukan dan Tantangan Pembinaan Daerah

Kendati dari segi kuantitas mengalami penurunan drastis, dari sisi kualitas sajian, para peserta yang tampil tetap mendapatkan apresiasi tinggi. Setiap kontingen berhasil menyuguhkan pertunjukan dengan karakter yang kuat dan unik. Penilaian dewan juri tidak hanya terfokus pada teknik vokal dan harmonisasi nada semata, melainkan mencakup keutuhan sajian pertunjukan.

Aransemen lagu yang dibawakan, tingkat kreativitas musikal, hingga eksplorasi koreografi di atas panggung menjadi poin penting yang memperketat persaingan antara Badung, Gianyar, dan Tabanan. “Semua mempunyai penyajian, semua mempunyai kelebihan dan semua mempunyai kekurangan,” tambah Suarti Laksmi saat menggambarkan keunikan tiap kontingen.

Mengenai penyebab di balik absennya enam kabupaten/kota lainnya, pihak dewan juri menyadari adanya beragam faktor kompleks di tingkat daerah. Persoalan ini diduga bersumber dari berbagai kendala, mulai dari kesiapan fisik dan mental peserta, ketersediaan penyanyi lagu keagamaan yang terlatih, hingga hambatan teknis yang berkaitan langsung dengan pengelolaan anggaran daerah.

Ke depannya, panitia dan para pemerhati seni berharap pemerintah daerah di seluruh Bali dapat memberikan perhatian lebih terhadap pembinaan Utsawa Dharma Gita. Partisipasi yang merata di setiap kategori perlombaan diyakini tidak hanya membuat atmosfer kompetisi semakin hidup dan kompetitif, tetapi juga memastikan proses regenerasi dan penggalian bibit penyanyi keagamaan terbaik di Pulau Dewata terus berjalan secara berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User