Aurelie Moeremans: Menyusun Kembali Nada yang Patah
Di sebuah sudut kedai kopi di bilangan Jakarta Selatan, hujan baru saja reda. Aurelie Moeremans duduk dengan secangkir kopi yang sudah dingin. Matanya menerawang, seolah sedang mencari sesuatu di bali...
Di sebuah sudut kedai kopi di bilangan Jakarta Selatan, hujan baru saja reda. Aurelie Moeremans duduk dengan secangkir kopi yang sudah dingin. Matanya menerawang, seolah sedang mencari sesuatu di balik rintik yang tersisa. "Saya tidak pernah membayangkan akan menulis buku," ujarnya lirih, setengah berbisik. Namun, di tangannya kini ada sebuah buku bersampul biru dengan judul Broken Strings. Buku itu adalah memoar, sekaligus surat cinta untuk sang ibu, dan juga pengakuan paling jujur tentang luka yang selama ini ia sembunyikan. Menulisnya adalah perjalanan menembus kembali lorong-lorong tergelap dalam hidupnya.
Melodi yang Terputus
Aurelie lahir di Antwerp, Belgia, dari seorang ayah Belgia dan ibu Indonesia. Corinne, ibunya, adalah seorang perempuan yang penuh warna. "Mama saya adalah orang yang paling ceria yang pernah saya kenal," kenang Aurelie. Setiap pagi, Corinne akan memanggang kue sambil menyanyikan lagu-lagu Prancis. Hubungan mereka sangat dekat. Namun, pada 2019, kabar buruk datang: Corinne didiagnosis kanker paru-paru stadium lanjut. Dunia Aurelie runtuh seketika. Di tengah jadwal syuting yang padat, ia bolak-balik rumah sakit, memegangi tangan ibunya yang semakin lemah. "Saat Mama pergi, saya merasa seperti kehilangan separuh jiwa saya," bisiknya, suaranya bergetar. Kehilangan itu begitu dalam, menyisakan ruang kosong yang terasa mustahil diisi. Hari-harinya berubah menjadi gulita, seakan seluruh melodi yang pernah dimainkan sang ibu tiba-tiba berhenti tanpa aba-aba.
Saat Raga dan Jiwa Patah
Sebelum ibunya sakit, Aurelie sendiri pernah nyaris kehilangan nyawa. September 2016, mobil yang ditumpanginya terlibat kecelakaan hebat di tol. Ia mengalami cedera serius: patah tulang rusuk, patah kaki kanan, dan gegar otak. "Saya ingat terbangun di rumah sakit dengan selang di mana-mana. Saya tidak bisa bergerak," tuturnya. Dokter mengatakan kemungkinan berjalan lagi tipis. Tapi Aurelie menolak menyerah. Setiap hari ia menjalani fisioterapi yang menyakitkan, sementara ibunya setia menunggu di kursi penjaga. "Mama selalu ada, meskipun dia sendiri sedang tidak sehat. Itu yang membuat saya kuat." Proses pemulihan itu mengajarkan Aurelie satu hal: senar kehidupan bisa putus kapan saja, dan hanya dirinya yang bisa memutuskan untuk menyambungnya kembali. Namun, ujian belum selesai. Delapan tahun berselang, ia harus menatap kepergian yang lebih menyayat hati.
Merangkai Kembali Senar-Senar yang Patah
Setelah ibunya pergi, Aurelie tenggelam dalam duka mendalam. Ia sulit tidur, sering menangis sendiri. Sampai suatu malam, ia teringat pesan ibunya: "Jangan biarkan luka menghentikanmu. Jadikanlah ia cerita." Maka, ia mulai menulis. Tiga bulan pertama hanya menghasilkan halaman kosong dan air mata. Namun perlahan, kata-kata muncul. Ia menulis tentang kenangan indah bersama Mama, tentang rasa sakit di rumah sakit, tentang perjuangan bangkit dari tempat tidur. "Setiap bab yang saya tulis seperti melepaskan beban di dada," akunya. Buku Broken Strings pun lahir—bukan sebagai kitab kesedihan, melainkan sebagai ungkapan syukur bahwa ia pernah memiliki cinta sebesar itu dari ibunya. Dalam setiap halaman, ia merangkai kembali puing-puing ingatan menjadi narasi yang menyembuhkan. Buku itu kini menjadi teman bagi banyak orang yang sedang berduka, dan Aurelie menemukan makna baru: luka tidak perlu dilawan, cukup dirangkul. "Saya hanya ingin bilang, tidak apa-apa merasa patah. Tapi ingat, kamu bisa menyusunnya lagi," katanya sederhana.
Hari ini, Aurelie telah kembali tersenyum. Di sela-sela syuting dan kegiatan, ia masih sesekali menulis—bukan untuk buku lain, melainkan untuk dirinya sendiri. Karena, katanya, "Hidup ini seperti simfoni. Kadang ada nada sumbang, kadang ada senar yang putus. Tapi musisi sejati akan terus bermain sampai lagunya selesai." Dan Aurelie Moeremans, dengan segala luka dan cintanya, telah membuktikan bahwa simfoni itu bisa terus berkumandang, tak pernah benar-benar padam.
Baca juga:
Comments (0)