Aurelie Moeremans dan Melodi yang Pernah Putus
Di sebuah sore yang temaram, ketika hujan baru saja reda dan menyisakan aroma tanah basah, seorang perempuan duduk di sudut kafe kecil di kawasan Jakarta Selatan. Tangannya menggenggam secangkir teh h...
Di sebuah sore yang temaram, ketika hujan baru saja reda dan menyisakan aroma tanah basah, seorang perempuan duduk di sudut kafe kecil di kawasan Jakarta Selatan. Tangannya menggenggam secangkir teh hangat, sementara matanya menerawang jauh, seolah sedang menyusuri lorong-lorong waktu yang telah lama ia tinggalkan. Perempuan itu adalah Aurelie Moeremans—seorang aktris, musisi, dan kini, seorang penulis yang baru saja menuntaskan perjalanan panjangnya dalam sebentuk buku memoar berjudul Broken Strings.
Ia tidak datang dengan gemerlap lampu sorot atau gaun mewah yang biasa menemani langkahnya di karpet merah. Hari itu, ia hanya mengenakan kaus sederhana, rambutnya diikat seadanya, dan senyum tipis yang menyimpan berlapis cerita. "Buku ini bukan tentang ingin dikenal sebagai penulis," katanya pelan, "ini tentang ingin dimengerti sebagai manusia."
Senar-Senar yang Pernah Bergetar
Judul Broken Strings bukanlah sekadar metafora puitis. Bagi Aurelie, senar yang putus adalah simbol dari bagian-bagian hidup yang retak—hubungan yang kandas, kepercayaan yang dikhianati, dan suara-suara di kepala yang terus bertanya tentang harga diri. Buku ini, diakuinya, lahir dari masa-masa paling sunyi dalam hidupnya. Masa ketika dunia luar melihatnya sebagai sosok glamor, sementara di dalam kamar tidurnya, ia bergulat dengan kecemasan dan luka lama yang tak kunjung sembuh.
Dengan narasi yang terasa begitu intim, Broken Strings mengisahkan perjalanan seorang perempuan muda yang tumbuh di antara dua dunia—Belgia dan Indonesia—dan bagaimana pencarian identitasnya kerap terbentur ekspektasi. Aurelie menulis dengan jujur tentang masa kecil yang penuh tanya, tentang duka kehilangan orang tercinta, dan tentang pengalaman-pengalaman yang membentuk retakan-retakan di jiwanya. Setiap bab terasa seperti menyelami buku harian yang tak pernah dimaksudkan untuk dibaca orang lain.
Menulis sebagai Jalan Pulang
Menariknya, proses penulisan buku ini bukanlah sebuah rencana yang terstruktur rapi. Aurelie bercerita bahwa awalnya ia hanya menulis untuk dirinya sendiri—sebagai terapi, sebagai cara untuk menata kembali serpihan emosi yang berantakan. "Ada malam-malam ketika saya hanya duduk di depan laptop, mengetik, dan tiba-tiba sadar sudah menangis," ungkapnya. "Tapi di situlah saya merasa mulai sembuh."
Kalimat demi kalimat yang ia rangkai perlahan membentuk sebuah peta—peta emosional yang membawanya kembali ke titik-titik paling menyakitkan dalam hidupnya, namun kali ini dengan keberanian yang berbeda. Jika dulu ia berlari dari luka-luka itu, kini ia memilih untuk duduk bersamanya, mengenalinya, dan akhirnya, merangkulnya sebagai bagian dari dirinya yang utuh.
"Senar yang putus tidak selalu berarti akhir dari sebuah lagu," tulisnya dalam salah satu bagian buku. "Kadang ia hanya memberi jeda, agar kita bisa mendengarkan nada-nada yang sebelumnya tertutup riuh."
Momen Mengharukan di Balik Layar
Salah satu bagian paling menyentuh dalam buku ini adalah ketika Aurelie menceritakan hubungannya dengan ibunda tercinta. Dalam untaian kata yang sederhana namun penuh emosi, ia melukiskan sosok sang ibu sebagai perempuan tangguh yang menjadi jangkarnya di tengah badai. Ia menulis tentang pelukan terakhir, tentang kata-kata yang tak sempat terucap, dan tentang bagaimana kehilangan bisa mengubah seluruh orientasi hidup seseorang.
Proses mengungkap kisah ini bukanlah perkara mudah. Ada banyak keraguan, banyak ketakutan akan penghakiman. Namun dorongan untuk jujur akhirnya menang. "Saya ingin orang-orang yang membaca buku ini merasa tidak sendirian," ujarnya. "Saya ingin mereka tahu bahwa di balik setiap senyum di layar kaca, ada manusia biasa yang juga berjuang, jatuh, dan bangkit lagi."
Dari Panggung ke Halaman Buku
Keputusan Aurelie untuk menerbitkan Broken Strings sebagai memoar tentu mengejutkan banyak pihak. Publik lebih mengenalnya sebagai aktris berbakat dengan sejumlah film dan serial yang sukses. Namun justru di situlah letak keberaniannya—melepas topeng karakter-karakter yang biasa ia mainkan dan tampil dengan wajahnya sendiri, dengan segala kerapuhan dan ketidaksempurnaan yang melekat.
"Dunia akting mengajarkan saya untuk menjadi orang lain," katanya sambil tersenyum. "Menulis justru mengajarkan saya untuk menjadi diri sendiri." Pernyataan ini barangkali merangkum seluruh esensi dari Broken Strings: sebuah perjalanan pulang—pulang ke dalam diri, ke dalam luka, dan akhirnya ke dalam penerimaan.
Melodi yang Belum Selesai
Di penghujung perbincangan, ketika senja mulai berganti malam dan lampu-lampu kafe mulai dinyalakan satu per satu, Aurelie meraih tasnya dan mengeluarkan sebuah buku bersampul sederhana. Ia membuka halaman pertama, lalu menunjuk sebuah kalimat yang tertulis di sana: "Untuk siapa pun yang pernah merasa patah—kisah ini milikmu juga."
Mungkin itulah pesan terpenting yang ingin ia sampaikan. Broken Strings bukan hanya kisah seorang artis yang membuka lembaran hidupnya ke publik. Lebih dari itu, buku ini adalah cermin bagi siapa saja yang pernah berjuang dalam diam, yang pernah tersenyum di depan namun menangis di belakang layar, yang pernah merasa bahwa retakan-retakan di hidupnya tak akan pernah bisa direkatkan kembali.
Namun Aurelie membuktikan sebaliknya. Dengan keberanian yang tak banyak dimiliki orang, ia menunjukkan bahwa keindahan justru bisa lahir dari tempat-tempat yang paling retak. Seperti kintsugi—seni Jepang memperbaiki keramik pecah dengan emas—garis-garis retak itu justru membuatnya lebih berharga, lebih autentik, dan lebih sejati. Broken Strings adalah bukti bahwa dari senar-senar yang putus, masih bisa lahir melodi yang indah—jika kita cukup berani untuk memainkannya kembali.
Baca juga:
Comments (0)