Arie Untung: Menebar Cinta di Bulan Ramadan MNCTV
Satu jam sebelum siaran langsung dimulai, suasana di balik panggung Berkah Cinta Ramadan sudah terasa hangat. Arie Untung berdiri di depan cermin kecil, merapikan kopiah hitam yang bertengger di rambu...
Satu jam sebelum siaran langsung dimulai, suasana di balik panggung Berkah Cinta Ramadan sudah terasa hangat. Arie Untung berdiri di depan cermin kecil, merapikan kopiah hitam yang bertengger di rambutnya yang mulai memutih. Tangannya bergetar halus—bukan karena gugup, melainkan karena haru yang sejak sore menggenang di dadanya. Di luar sana, ribuan keluarga akan duduk bersama, menanti kata-kata yang ia sampaikan, menanti kisah-kisah yang mungkin akan mengubah cara mereka memandang kasih sayang.
Tahun ini adalah kali ketiga Arie menjadi bagian dari program spesial Ramadan MNCTV ini. Namun, setiap kali ia memasuki studio, perasaan itu selalu hadir: perasaan bahwa ia bukan sekadar pembawa acara, melainkan sebuah titian. "Saya hanya perantara," ucapnya lirih, matanya menerawang pada layar monitor yang menampilkan grafis bulan sabit. "Yang menyampaikan pesan bahwa cinta itu harus bergerak. Tidak cukup hanya dirasa."
Awal Mula Sebuah Panggilan Hati
Terlibat di acara televisi bukan hal baru bagi Arie. Kariernya di dunia hiburan telah membentang lebih dari dua dekade. Namun, ia mengakui, tawaran untuk membawakan program Ramadan pada 2022 silam terasa berbeda. Saat itu, ia baru saja menyelesaikan perjalanan spiritual pribadi yang cukup dalam. Ada ruang kosong di hatinya yang hanya bisa diisi dengan memberi.
"Saya ingat betul, malam itu saya menelepon produser sambil menangis. Saya bilang, 'Saya mau. Tapi izinkan saya membacakan doa untuk anak-anak yatim di akhir setiap episode.' Mereka setuju. Sejak saat itu, saya merasa inilah jalan saya,"
Arie bercerita sambil memegang Al-Quran kecil bersampul kulit yang selalu ia bawa ke lokasi syuting. Kitab itu sudah lusuh, penuh catatan di pinggirannya, menjadi saksi bisu bagaimana setiap ayat yang ia kaji menjadi bekal untuk menyapa pemirsa dengan kelembutan.
Di Balik Layar: Air Mata yang Tak Terlihat
Pukul delapan malam, lampu studio meredup. Segmen pertama dimulai dengan kisah seorang ibu tunggal yang berjuang menghidupi tiga anaknya dengan berjualan kerupuk. Arie mendengarkan dengan mata berkaca-kaca. Ketika kamera menyorotnya, ia tak kuasa menahan tetesan air mata yang jatuh di pipi. Suasana hening. Bahkan kru yang biasanya sibuk dengan headset dan panggung, ikut terpaku.
"Momen seperti itu yang membuat saya sadar bahwa panggung ini bukan milik saya," ungkap Arie setelah syuting. "Ini panggung mereka, orang-orang kecil yang selama ini suaranya tidak terdengar. Saya hanya meminjamkan mikropon."
Di segmen lain, Arie harus mewawancarai seorang kakek renta yang baru saja kehilangan istri tercinta sehari sebelum Ramadan. Arie memeluknya erat. Tanpa diminta, ia lalu menyanyikan lagu “Bunda” ciptaan Melly Goeslaw. Satu studio larut dalam tangis. Bukan karena sedih semata, melainkan karena getaran empati yang begitu kental.
Pesawat Sederhana Bernama Cinta
Program Berkah Cinta Ramadan tidak hanya berhenti di layar kaca. Setiap pekan, Arie dan tim melakukan kunjungan ke panti asuhan dan permukiman padat penduduk. Ia membawa paket sembako, pakaian, dan terutama, kehadiran yang menenteramkan. Bagi Arie, ini adalah puncak dari Ramadan yang sesungguhnya.
"Kita bisa bicara tentang cinta sepanjang malam di televisi, tapi kalau tidak berwujud pada tindakan, itu hanya bunyi yang hilang diterpa angin," katanya tegas, namun tetap lembut. "Saya ingin pemirsa tidak hanya terhibur, tapi juga tergerak."
Di sudut ruangan 3x4 meter yang disulap menjadi ruang ganti darurat, Arie sering menulis catatan kecil. Di situ ia menuangkan refleksi harian, gagasan untuk segmen berikutnya, atau sekadar doa untuk mereka yang pernah ia temui. Satu catatannya yang ditempel di cermin berbunyi, "Jadilah seperti rembulan: tak perlu bersinar sendiri, cukup pantulkan cahaya-Nya."
Mimpi yang Terus Berjalan
Menjelang akhir ramadan tahun ini, Arie memiliki satu keinginan sederhana: ia ingin mengajak lebih banyak relawan untuk bergabung dalam misi-misi kemanusiaan. Ia bermimpi program ini bisa melahirkan gerakan nyata, tidak hanya menjadi tontonan yang berlalu begitu saja. "Kalau dari acara ini lahir seribu tangan yang siap membantu, maka itulah pahala yang paling besar buat saya," ucapnya.
Sementara janji-janji iklan berlalu di televisi, Arie melipat sajadahnya perlahan. Matanya masih merah. Malam ini ia telah mengantarkan ribuan hati menuju satu kata yang sederhana namun dahsyat: cinta. Dan ia tahu, esok hari, masih ada cerita lain yang harus ia sampaikan—dengan air mata, senyum, dan doa yang tak pernah putus.
Comments (0)