Totalitas Kiesha Alvaro Tuai Pujian Sutradara di Film Sihir Tanah Kubur
Malam itu, di sebuah sudut pemakaman buatan yang dibangun khusus di kawasan studio di bilangan Ciputat, Kiesha Alvaro berdiri di antara gundukan tanah yang masih basah oleh hujan buatan. Lampu sorot m...
Malam itu, di sebuah sudut pemakaman buatan yang dibangun khusus di kawasan studio di bilangan Ciputat, Kiesha Alvaro berdiri di antara gundukan tanah yang masih basah oleh hujan buatan. Lampu sorot menyinari wajahnya yang berlepotan lumpur, matanya menerawang kosong—seolah nyawa benar-benar meninggalkan raga yang diperankannya. Adegan itu diulang hingga tujuh kali, bukan karena kesalahan teknis, melainkan karena Kiesha sendiri yang meminta pengulangan. Ia merasa tarikan napasnya belum sepenuhnya mewakili rasa takut yang ingin ia sampaikan. Di situlah semua orang di lokasi syuting menyaksikan totalitas yang jarang mereka temukan pada pemain muda seusianya.
Film Sihir Tanah Kubur menjadi salah satu proyek horor paling ambisius yang digarap rumah produksi itu tahun ini. Di tengah persaingan genre horor tanah air yang semakin ketat, sutradara Adrian Prayoga sejak awal menginginkan pendekatan yang berbeda. Ia tidak hanya mencari pemain yang bisa menjerit atau menangis saat ketakutan. Ia menginginkan seseorang yang sanggup menanggalkan citra pribadinya dan benar-benar menjadi karakter yang rapuh, teror yang mencekam, sekaligus manusia yang berjuang melawan kutukan. Sosok itu ia temukan pada Kiesha Alvaro.
Perjuangan di Balik Layar
Jauh sebelum hari pengambilan gambar pertama, Kiesha sudah mempersiapkan diri dengan cara yang tak biasa. Ia tidak hanya membaca naskah berulang kali dan mencatat motivasi karakternya. Perempuan berusia 24 tahun itu bahkan memutuskan untuk tinggal sendirian di sebuah rumah tua di kawasan pinggiran Bogor selama hampir dua minggu. Tanpa televisi, tanpa banyak interaksi dengan dunia luar. Tujuannya hanya satu: merasakan sendiri bagaimana kesepian dan ketakutan perlahan menyusup ke dalam jiwa, agar ia bisa menuangkannya dengan jujur ke dalam setiap adegan.
“Saya ingin penonton tidak hanya melihat Kiesha yang main film. Saya ingin mereka melihat sosok bernama Laila yang ketakutan, yang trauma, yang marah pada keadaan,” katanya suatu kali saat jeda syuting, suaranya masih bergetar setelah menjalani adegan emosional yang menguras tenaga. “Saya tidak mau separuh hati. Kalau saya sudah memutuskan untuk terlibat, ya harus total.”
Proses tersebut bukan tanpa risiko. Selama masa isolasi, Kiesha sempat mengalami gangguan tidur. Ia terbangun di tengah malam dengan perasaan diawasi, sesuatu yang persis seperti deskripsi dalam naskah. Tapi justru di titik itulah ia merasa telah mencapai kedalaman yang ia butuhkan untuk memerankan Laila secara utuh. Ia menuangkan semua pengalamannya itu ke dalam buku catatan kecil yang selalu ia bawa ke lokasi syuting, semacam jurnal karakter yang membantunya tetap terhubung dengan sisi tergelap perannya.
“Dia Bukan Lagi Kiesha yang Saya Kenal”
Sang sutradara, Adrian Prayoga, tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Dalam wawancara singkat di sela proses pascaproduksi, ia mengisahkan momen yang membuatnya merinding—bukan karena horor yang ada di dalam skenario, melainkan karena cara Kiesha menghidupkan karakternya. Dalam satu adegan klimaks, di mana Laila harus menghadapi sumber kutukan seorang diri, Kiesha meminta agar seluruh kru yang tidak berkepentingan meninggalkan area syuting. Ia ingin menciptakan ruang sunyi yang hanya diisi oleh dirinya, kamera, dan bayang-bayang terornya sendiri.
“Saya melihat Kiesha di monitor, dan jujur saya bergidik. Itu bukan lagi Kiesha yang saya kenal di hari pertama reading. Itu benar-benar Laila, dengan segala luka dan amarahnya,” ujar Adrian. “Jarang sekali saya menemukan aktor yang mau memberikan segalanya sampai batas seperti itu. Tidak hanya secara fisik—dia berguling-guling di tanah, wajahnya penuh lumpur, tangannya terluka karena properti—tapi secara mental dia benar-benar masuk ke ruang yang sangat gelap. Dan dia keluar dari sana dengan selamat, membawa sebuah penampilan yang luar biasa.”
Pujian itu bukan sekadar basa-basi. Di hari yang sama, Adrian memperlihatkan beberapa cuplikan kasar adegan Kiesha kepada tim produser. Reaksi mereka seragam: terdiam beberapa saat sebelum akhirnya memberikan tepuk tangan. Bagi seorang sutradara yang dikenal perfeksionis dan jarang mengumbar pujian, pengakuan ini menjadi penanda bahwa Kiesha telah melewati standar yang ditetapkan—bahkan melampauinya.
Air Mata dan Kebangkitan
Perjalanan Kiesha menuju titik ini bukanlah jalan yang mulus. Ia memulai karier dari panggung-panggung kecil teater komunitas, tempat di mana honor tidak selalu cukup untuk membayar transportasi. Dari satu peran kecil ke peran kecil lainnya, ia perlahan membangun reputasi sebagai aktor yang tidak rewel, selalu tepat waktu, dan paling penting: selalu memberikan kejujuran dalam aktingnya. Film Sihir Tanah Kubur adalah proyek layar lebar terbesarnya sejauh ini, dan ia menyadari betul bobot kesempatan yang ada di tangannya.
“Ada malam-malam saya menangis sendiri karena takut gagal,” aku Kiesha. “Takut nggak bisa memenuhi ekspektasi sutradara, takut mengecewakan teman-teman yang sudah percaya sama saya. Tapi saya ingat pesan ibu saya: kalau kamu takut, berarti kamu berada di jalan yang benar. Jadi saya peluk rasa takut itu, saya ajak dia jalan bareng.”
Kini, setelah proses syuting selesai dan film bersiap untuk segera tayang, Kiesha memilih untuk tidak berpuas diri. Ia justru kembali ke rutinitas dasarnya: membaca naskah-naskah baru, berlatih olah tubuh, dan sesekali kembali ke komunitas teater yang membesarkannya. Baginya, totalitas bukanlah sebuah pilihan dalam satu proyek tertentu. Ia adalah cara hidup, sebuah komitmen terhadap seni peran yang ia cintai sejak kecil.
Film Sihir Tanah Kubur menjanjikan teror yang mencekam dan efek visual yang megah, namun kekuatan utamanya mungkin justru terletak pada hal yang paling sederhana: seorang aktor yang bersedia memberikan seluruh jiwa dan raganya untuk sebuah cerita. Dan Kiesha Alvaro telah membuktikannya. Pujian sang sutradara hanyalah pengakuan dari satu pihak, tetapi apa yang ia torehkan di depan kamera akan berbicara jauh lebih lantang kepada setiap pasang mata yang menyaksikan film ini nanti.
Comments (0)