Hujan baru saja turun ketika aroma minyak panas mulai menyeruak dari sebuah dapur kecil di sudut gang sempit kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Di atas kompor tua yang apinya diatur hati-hati, Ibu Sumarni, 58 tahun, mencelupkan potongan singkong ke dalam adonan tepung. Bunyi desisnya bersahutan dengan suara rintik air di atap seng. "Kalau hujan datang, rasanya tangan ini ingin terus menggoreng," ujarnya sambil tersenyum, matanya menerawang pada kenangan puluhan tahun silam.
Bagi banyak orang, hujan bukan sekadar perubahan cuaca. Ia memanggil ingatan pada kehangatan rumah, pada camilan sederhana yang tersaji di atas meja, dan pada tangan-tangan yang tak pernah lelah menyiapkan sesuatu untuk keluarga. Di rumah Sumarni, singkong adalah bahan yang paling setia menemani musim hujan sejak ia masih gadis.
Dari Ladang Kecil di Kampung Halaman
Sumarni mengisahkan bahwa resep gorengan singkong yang ia jual kini bukan warisan dari buku catatan mewah, melainkan dari ibunya di sebuah desa di Kebumen, Jawa Tengah. Setiap kali musim penghujan tiba, sang ibu akan mencabut beberapa batang singkong di pekarangan belakang, mengupasnya dengan sabar, lalu memotongnya menjadi bagian-bagian kecil yang seragam. "Ibu saya bilang, singkong itu tanaman rendah hati. Ia tumbuh di tanah biasa, tapi bisa menghangatkan perut yang kedinginan," kenangnya dengan suara bergetar.
Perjalanan hidup membawa Sumarni merantau ke ibu kota setelah menikah. Ia sempat bekerja sebagai penjaga warung, lalu menjadi buruh cuci, sebelum akhirnya memutuskan berjualan gorengan singkong di depan rumah kontrakannya. Modal awalnya hanya sepuluh ribu rupiah dan satu wajan berkarat. "Awalnya saya malu, rasanya seperti membuka aib sendiri. Tapi anak-anak butuh makan," tuturnya. Air matanya sempat menetes saat mengingat masa-masa itu.
Kini, lebih dari dua dekade kemudian, gorengan singkongnya dikenal luas di lingkungan sekitar. Beberapa pelanggan setia bahkan datang khusus saat langit mendung, seolah sudah tahu bahwa kehangatan yang mereka cari hanya muncul bersamaan dengan turunnya hujan.
Rempah Rahasia dan Kesabaran yang Tak Terburu
Yang membuat gorengan Sumarni berbeda bukan hanya singkongnya yang dipilih dengan cermat—harus yang berumur cukup, tidak terlalu muda, tidak terlalu tua. Ada juga bumbu rahasia yang ia racik sendiri: bawang putih, ketumbar, sedikit kunyit, dan sejumput garam kasar. Semua diulek manual di cobek batu yang sudah retak di salah satu sisinya. "Cobek ini hadiah dari almarhum suami. Kalau pakai blender, rasanya beda. Tidak ada doa di dalamnya," katanya sambil tertawa kecil.
Proses menggoreng pun tidak bisa terburu-buru. Api harus sedang, minyak harus cukup panas, dan singkong harus dibolak-balik dengan penuh perhatian. "Kalau sambil marah atau buru-buru, gorengannya jadi keras. Itu kata ibu saya dulu," ujarnya. Ada kearifan sederhana yang tersimpan dalam setiap helai adonan yang ia genggam.
"Bagi saya, gorengan ini bukan sekadar jualan. Ini cara saya bercerita pada anak-anak bahwa hidup memang sederhana, tetapi bisa dibuat hangat."
Pelanggannya beragam. Ada mahasiswa yang mampir selepas kuliah, ada tukang ojek yang berteduh dari hujan, hingga seorang nenek yang selalu membeli dua potong untuk cucunya. Sumarni mengenal hampir semua nama mereka. "Kalau hujan, saya kadang sengaja menambah jumlah gorengan. Siapa tahu ada yang butuh kehangatan lebih," ucapnya.
Momen Mengharukan di Balik Meja Dagang
Salah satu kisah yang paling membekas bagi Sumarni terjadi dua tahun lalu. Seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun datang dengan uang logam yang ia kumpulkan dari sisa jajan. Ia ingin membeli satu gorengan singkong untuk ibunya yang sedang sakit di rumah. "Dia bilang, ibunya tidak bisa keluar karena hujan. Saya langsung bungkuskan lima potong, gratis," kenang Sumarni. Matanya kembali berkaca-kaca. "Anak itu menangis. Saya juga menangis. Kita berdua berdiri di bawah tenda, diam-diam menahan haru."
Momen-momen seperti itulah yang membuat Sumarni bertahan meski usia tak lagi muda. Baginya, berjualan gorengan singkong adalah cara ia merawat kenangan, merawat hubungan dengan orang-orang di sekitarnya, dan merawat mimpi kecil yang tak pernah ia ucapkan dengan lantang. "Saya ingin punya warung kecil sendiri. Tidak besar. Yang penting ada tempat duduk, supaya pelanggan saya bisa berteduh lebih lama saat hujan," katanya.
Di tengah kota yang bergerak cepat, kisah Sumarni mungkin terasa kecil. Namun di sudut dapur berukuran tiga kali empat meter itu, ada pelajaran tentang ketekunan, cinta, dan kehangatan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Setiap kali hujan turun, aroma gorengan singkongnya mengingatkan kita bahwa hal-hal paling menyentuh sering hadir dalam bentuk paling sederhana.
Ketika langit kembali gelap dan rintik air mulai menyentuh tanah, Sumarni sudah bersiap di depan wajan. Tangannya cekatan, hatinya lapang. "Hujan bukan alasan untuk sedih," ujarnya penuh syukur. "Justru saat hujan, kita belajar untuk saling menghangatkan."
Comments (0)