Di sudut dapur berukuran tak lebih dari tiga kali empat meter itu, aroma daun kemangi yang ditumbuk perlahan menyatu dengan wangi oncom yang baru saja diangkat dari kukusan. Ibu Eni, perempuan berusia 58 tahun asal Cianjur, mengisahkan bahwa sejak ia kecil, dapur selalu menjadi tempat paling hangat di rumahnya. "Bagi saya, oncom bukan sekadar makanan murah. Ia adalah cerita ibu saya yang selalu bisa menyulap bahan sederhana jadi hidangan istimewa," ujarnya sambil tersenyum, mata tuanya berbinar mengenang masa lalu.
Pepes oncom kemangi pedas memang bukan hidangan mewah. Namun justru dari kesederhanaannya, makanan ini menyimpan perjalanan panjang yang menyentuh banyak keluarga di tanah Sunda. Berbagai resep yang kini berseliweran di internet—termasuk yang dikembangkan dengan bantuan teknologi—nyatanya berakar dari dapur-dapur sederhana yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Ketika Bahan Sederhana Menjadi Obat Rindu
Eni mengaku, ketika anak-anaknya merantau ke kota besar, ia sering mengirimkan pepes oncom kemangi melalui titipan tetangga. "Kata anak saya, rasa itu yang bikin dia ingat rumah. Bukan sekadar pedasnya, tapi aroma daun pisang dan kemanginya," tuturnya dengan suara bergetar. Momen mengharukan itu membuat Eni semakin yakin bahwa masakan bukan hanya soal rasa, melainkan juga cara merawat kenangan.
"Saya tidak pernah mengukur bumbu pakai sendok. Tangan saya yang hafal. Kalau rindu anak, saya bikin lebih pedas, karena dia suka begitu."
Bagi banyak orang, oncom adalah bahan yang kerap dipandang sebelah mata. Namun di balik tampilannya yang sederhana, oncom menyimpan proses fermentasi yang panjang. Dari kedelai yang difermentasi oleh ragi, oncom berubah menjadi gumpalan lembut berwarna oranye keabuan dengan cita rasa gurih yang khas. Perjalanan itulah yang membuat pepes oncom punya tempat istimewa di hati para penikmatnya.
Harmoni Kemangi, Daun Pisang, dan Bara Kukusan
Yang membuat pepes oncom begitu istimewa adalah perpaduan tiga elemen: oncom yang gurih, kemangi yang harum, dan daun pisang yang membungkus semuanya. Saat dikukus, aroma ketiganya menyatu menciptakan sensasi yang membangkitkan selera. Tidak heran bila banyak orang menyebut pepes oncom sebagai hidangan yang paling jujur—ia tidak butuh bahan mahal untuk terasa lezat.
Eni menuturkan, ada satu rahasia yang jarang dibicarakan orang, yakni cara membungkus pepes. "Jangan terlalu longgar, jangan terlalu kencang. Kalau kencang, bumbu tidak meresap. Kalau longgar, isinya keluar," jelasnya sambil memperagakan tangannya yang keriput namun lincah. Ia juga menambahkan bahwa daun pisang sebaiknya dipanaskan dulu di atas api agar lentur dan mengeluarkan aroma khasnya.
Mimpi Kecil dari Dapur Tua
Di balik berbagai resep yang kini bisa ditemukan dengan mudah, tersimpan mimpi besar dari para perempuan seperti Eni. Ia berjuang mempertahankan masakan tradisional di tengah gempuran makanan instan. "Saya sedih kalau generasi muda tidak kenal oncom. Padahal ini makanan nenek moyang kita," katanya dengan nada haru. Berkat kegigihannya, kini dua cucunya mulai belajar memasak pepes oncom dari tangannya sendiri.
Kisah Eni adalah satu dari sekian banyak kisah di balik layar yang mengingatkan kita bahwa setiap hidangan punya cerita. Pepes oncom kemangi pedas bukan hanya soal resep, melainkan tentang cinta yang diwariskan, tentang air mata yang pernah jatuh di dapur, dan tentang bangkit dari kesederhanaan. Bagi siapa pun yang pernah merasakannya, satu suapan pepes oncom mampu membawa pulang kenangan yang paling dalam.
Comments (0)