Di sebuah ruangan kecil berjendela lebar, Alfred Young Sugiri duduk di depan piano hitam yang telah menemaninya bertahun-tahun. Jari-jarinya menyentuh tuts dengan lembut, memainkan melodi yang mengalun pelan, seolah sedang berbicara dengan kenangan. Di dinding ruangan itu, tergantung selembar kertas undangan berbahasa asing—sebuah tiket menuju panggung Eropa tahun depan. Bagi banyak orang, ini hanya secarik surat. Namun bagi Alfred, ini adalah buah dari perjalanan panjang yang tak pernah ia bayangkan akan sampai sejauh ini.
Perjalanan dari Ruang Latihan Sederhana
Alfred mengisahkan bahwa kecintaannya pada piano berawal dari masa kecil yang sederhana. Ia bukan anak yang lahir di keluarga musisi. Orang tuanya hanya pedagang kecil, namun mereka selalu mendukung mimpi sang anak. "Saya ingat betul, ibu saya harus menyisihkan uang belanja selama berbulan-bulan agar bisa membayar les piano pertama saya. Air mata saya jatuh ketika tahu itu," kenangnya dengan suara pelan, menahan haru.
Sejak saat itu, Alfred berjanji tidak akan menyia-nyiakan setiap kesempatan. Ia berlatih berjam-jam setiap hari, bahkan ketika listrik rumah sering mati, ia tetap bermain dalam gelap, mengandalkan ingatan dan pendengaran. "Kalau mati lampu, saya tetap main. Rasanya musik itu tidak butuh cahaya, dia butuh hati," ujarnya.
Momen Mengharukan di Balik Layanan Undangan
Undangan konser orkestra dan chamber music di Eropa tahun depan bukanlah hal yang datang tiba-tiba. Alfred mengaku sempat gagal dalam beberapa audisi. Ada masa di mana ia merasa ingin menyerah. "Saya pernah menangis di toilet setelah audisi gagal. Saya pikir, mungkin ini bukan jalannya," tuturnya.
Namun, dukungan dari guru dan sahabat-sahabatnya membuatnya bangkit. Ia kembali berlatih, memperbaiki teknik, dan memahami bahwa musik bukan soal siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang paling jujur menyampaikan cerita. "Saya belajar bahwa piano bukan alat untuk pamer. Piano adalah cara saya bercerita tentang ibu, tentang kampung, tentang mimpi anak yang dulu takut gagal," katanya dengan mata berkaca.
Ketika surat undangan itu akhirnya tiba, Alfred tidak langsung membukanya. Ia menelpon ibunya lebih dulu. Di ujung sambungan, ibunya terdiam, lalu menangis. "Mama cuma bilang, jangan lupa doa ya, Nak. Momen itu yang paling menyentuh dalam hidup saya," ujarnya.
Mimpi untuk Anak-Anak Indonesia
Bagi Alfred, panggung Eropa bukan sekadar pencapaian pribadi. Ia ingin perjalanan ini menjadi inspirasi bagi anak-anak di daerah yang mungkin merasa mimpi mereka terlalu jauh. "Dulu saya bahkan tidak punya piano sendiri. Saya latihan di gereja, di sekolah, di mana saja. Kalau saya bisa, mereka juga bisa," tegasnya.
Alfred berencana membagikan pengalamannya kepada anak-anak melalui lokakarya musik sederhana saat ia kembali ke Indonesia. Ia juga berharap pemerintah dan komunitas lebih memperhatikan ruang bagi musisi muda. "Banyak sekali bakat besar yang mati bukan karena tidak bisa, tapi karena tidak pernah punya panggung," ujarnya.
Pada akhir perbincangan, Alfred kembali duduk di depan piano. Ia memainkan satu lagu sederhana, lagu yang selalu ia mainkan sejak kecil. "Lagu ini saya dedikasikan untuk semua orang yang pernah merasa kecil, tapi tetap berani bermimpi besar," tuturnya sambil tersenyum. Di luar jendela, senja mulai turun, namun di dalam ruangan itu, nada-nada pianonya terus bergaung, membawa doa dan harapan menuju panggung Eropa tahun depan.
Comments (0)