Air Pasang Menggenangi Pantura, Warga dan Alam dalam Dua Tekanan Sekaligus

Di sudut dapur rumahnya yang sederhana, Bu Sarmi menatap kosong ke arah pintu yang telah ia ganjal dengan karung-karung pasir basah. Air kecokelatan itu kembali datang sebelum azan subuh berkumandang,...

Jul 13, 2026 - 10:20
0 0

Di sudut dapur rumahnya yang sederhana, Bu Sarmi menatap kosong ke arah pintu yang telah ia ganjal dengan karung-karung pasir basah. Air kecokelatan itu kembali datang sebelum azan subuh berkumandang, merayap pelan melewati celah-celah kayu, membawa aroma lumpur dan sisa-sisa sampah dari laut lepas. “Setiap tahun begini, tapi kali ini rasanya lebih cepat,” bisiknya sambil menyingkirkan ember plastik yang mulai terapung. Pesisir Pantura Jawa Tengah telah kembali digenangi banjir rob yang datang lebih awal, sementara dari langit yang terik menyengat, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) justru mewanti-wanti ancaman lain: kebakaran hutan dan lahan yang mengintai.

Rutinitas yang Menyesakkan di Pinggir Laut

Bagi warga di kampung-kampung nelayan seperti Tambak Lorok, Tanjung Mas, hingga pesisir Pemalang dan Pekalongan, rob bukanlah tamu asing. Namun ketinggian air pagi itu mencatat rekor baru untuk bulan ini. Hamparan air payau merendam jalan-jalan kampung, membuat anak-anak terpaksa menunda keberangkatan ke sekolah dan para nelayan memilih menambatkan perahu di depan rumah ketimbang melaut. Di warung-warung kopi terapung—begitu warga setempat menyebutnya—para lelaki duduk dengan celana tergulung, menyeruput kopi hitam sembari mengamati arus yang membawa daun-daun pisang dan botol plastik menuju selokan yang sudah tak lagi berfungsi.

Rasa pasrah itu bercampur dengan upaya bertahan. Di salah satu gang sempit, pemuda-pemuda mendirikan panggung darurat dari bambu agar aktivitas jual beli tetap berjalan. Seorang penjual sayur keliling, Mbah Karto, dengan sabar mendorong gerobaknya menerjang genangan setinggi betis, sesekali berhenti untuk menolong kucing yang terjebak di atap kandang ayam yang rubuh. “Rezeki nggak boleh ikut tenggelam,” katanya lirih sambil tertawa getir.

Dari Genangan Rob ke Ancaman Bara

Di saat yang sama, kurang dari seratus kilometer ke arah pedalaman, kondisi kontras terjadi. Langit bersih tanpa awan, matahari bersinar galak, dan hembusan angin terasa seperti uap dari tungku raksasa. BMKG Stasiun Klimatologi Semarang mengeluarkan peringatan dini: potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Jawa Tengah bagian selatan dan timur meningkat tajam. Suhu udara mencapai 35 derajat Celcius dengan kelembaban yang terus menurun, menciptakan kondisi ideal bagi percikan kecil untuk berubah menjadi amukan api.

Ironi alam ini membelah Jawa Tengah dalam dua kutub bencana: di utara warga berjibaku melawan kelebihan air, di selatan mereka berdoa agar hujan tak menjadi barang langka yang membuat rumput dan ilalang sekering sumbu. Para petani di lereng-lereng Gunung Lawu dan Merbabu mulai resah. Sumur-sumur dangkal mulai menyusut, daun-daun tanaman palawija melengkung keperakan, dan asap tipis dari pembakaran lahan ilegal mulai terlihat di kaki-kaki bukit.

Peringatan Dini dan Langkah Antisipasi yang Tak Lagi Bisa Ditawar

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menyatakan bahwa sinergi antara alat deteksi cuaca dan kearifan lokal warga kini menjadi tameng utama. Di daerah rawan rob, pompa-pompa air mobile terus meraung dan tanggul-tanggul kecil diperkuat dengan bronjong batu. Sementara itu, di titik-titik rawan karhutla, patroli terpadu dari Manggala Agni, TNI, dan sukarelawan desa diperketat, terutama di kawasan hutan produksi dan lahan gambut tersisa di sekitar Cilacap dan Banyumas.

Yang lebih mengharukan adalah bagaimana warga saling bergerak. Di sebuah posko darurat rob, sekelompok ibu-ibu dengan sigap memasak bubur kacang hijau untuk dibagikan kepada tetangga yang rumahnya paling parah terendam. Sementara itu, di desa-desa lereng gunung, anak-anak muda suka rela membentuk regu pemadam dini lengkap dengan pompa punggung dan alat komunikasi radio sederhana. “Kalau bukan kita yang jaga hutan dan kampung kita sendiri, lalu siapa lagi?” ujar Dito, koordinator pemuda di Desa Banyukuning, dengan nada yang tegas namun matanya menyiratkan kelelahan.

Antara Harapan di Tengah Keterbatasan

Di tengah dua tekanan alam yang seolah berlomba menguji ketahanan masyarakat, secercah ketegaran justru lahir dari hal-hal kecil. Seorang nenek di Pekalongan mengubah lantai rumahnya yang kerap terendam rob menjadi kolam sederhana untuk budidaya ikan bandeng, percobaan yang kini mulai diikuti tetangga-tetangganya yang putus asa dengan tambak mereka yang tak lagi menghasilkan. Di sisi lain, para petani di lereng Muria mulai mengadopsi sistem embung mini dan pola tanam tumpang sari yang lebih tahan terhadap cuaca kering.

Kisah-kisah adaptasi ini belum menjadi jawaban sempurna atas kompleksnya persoalan perubahan iklim yang memicu rob dan cuaca panas ekstrem. Namun, di balik setiap laporan bencana yang masuk ke meja-meja instansi pemerintah, ada ribuan wajah yang memilih bangkit ketimbang tenggelam, menyusun siasat dari keterbatasan, dan menyalakan pelita di tengah tarikan air laut dan teriknya kemarau. Sembari menunggu kepastian dari alam yang kian sulit ditebak, warga Pantura dan lereng-lereng gunung Jawa Tengah terus menulis ulang definisi tangguh dengan cara mereka sendiri.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User