Oct 12, 2026
entertainment

27 Tahun Sinetron Tersayang, Para Pemainnya Kini Berbeda Peran

Di sebuah kafe kecil di kawasan Jakarta Selatan, Anjasmara duduk dengan secangkir kopi yang mulai dingin. Ia tersenyum tipis ketika seseorang menyapanya dengan nama karakter yang ia perankan lebih dar...

27 Tahun Sinetron Tersayang, Para Pemainnya Kini Berbeda Peran

Di sebuah kafe kecil di kawasan Jakarta Selatan, Anjasmara duduk dengan secangkir kopi yang mulai dingin. Ia tersenyum tipis ketika seseorang menyapanya dengan nama karakter yang ia perankan lebih dari dua dekade silam. Momen itu selalu mengharukan baginya — sebuah pengingat bahwa perjalanan panjang di dunia seni peran telah meninggalkan jejak yang tak pernah hilang dari ingatan penonton.

Dua puluh tujuh tahun bukan waktu yang singkat. Sejak sinetron Tersayang pertama kali mengudara di layar kaca, banyak hal berubah. Bukan hanya industri hiburan yang terus bergerak, tetapi juga kehidupan para pemainnya yang kini menapaki babak baru dengan cerita masing-masing.

Jejak yang Tak Pernah Pudar

Bagi para penggemar setia, nama-nama seperti Anjasmara, Donna Harun, dan Ersa Mayori bukan sekadar deretan kredit di akhir acara. Mereka adalah bagian dari memorabilia masa kecil, teman makan malam keluarga, dan saksi bisu dari pertumbuhan generasi penonton yang kini telah beranjak dewasa.

"Saya sering bertemu orang yang bilang, 'Wah, saya dulu kecil banget nonton Mama ikut sinetron ini.' Rasanya seperti menemukan keluarga yang belum pernah bertemu," ujar Donna Harun dalam suatu kesempatan, mengenang bagaimana karyanya masih hidup di hati banyak orang.

Di balik layar, proses syuting dulu jauh dari kemewahan. Lokasi berpindah-pindah, jadwal padat, dan waktu istirahat yang singkat menjadi makanan sehari-hari. Namun dari kesederhanaan itulah lahir ikatan kekeluargaan yang hingga kini masih erat terjalin di antara para pemainnya.

"Yang paling saya rindukan bukan gemerlap panggungnya, tapi tawa di belakang kamera saat kami semua kelelahan tapi tetap saling menyemangati," kenang Ersa Mayori suatu ketika.

Menemukan Peran Baru dalam Kehidupan

Anjasmara kini lebih banyak terlibat di balik layar, mengembangkan proyek-proyek kreatif dan membimbing talenta-talenta muda. Ia mengaku bahwa perjalanan panjang di industri ini mengajarkannya untuk tidak pernah berhenti belajar, bahkan ketika popularitas mulai bergeser ke generasi berikutnya.

Sementara itu, Donna Harun memilih untuk lebih aktif dalam kegiatan sosial dan keagamaan. Ia mengisahkan bahwa ketenaran masa lalu justru menjadi bekal untuk berbuat lebih banyak bagi sesama, bukan sekadar menikmati sorotan kamera.

Ersa Mayori, dengan karakter khasnya yang hangat, kini dikenal sebagai salah satu figur ibu di layar kaca. Ia berhasil membangun identitas baru tanpa harus melupakan akar kariernya di sinetron Tersayang. "Setiap peran adalah kesempatan untuk bertumbuh. Saya bersyukur pernah menjadi bagian dari sesuatu yang berarti bagi banyak orang," ujarnya.

Bagi mereka, kepopuleran bukan lagi soal berapa banyak layar yang menampilkan wajah mereka, tetapi seberapa besar dampak yang bisa diberikan kepada orang lain. Ada yang menjadi mentor, ada yang aktif berkarya di balik kamera, dan ada yang memilih jalan spiritual untuk menenangkan hati.

Kisah yang Belum Selesai

Meskipun sinetron Tersayang telah lama berakhir, kisah para pemainnya belum benar-benar tamat. Setiap dari mereka masih berjuang, berjuang menemukan makna baru, berjuang menjaga api kreativitas tetap menyala, dan berjuang menjadi versi terbaik dari diri mereka sendiri.

"Kami ini seperti keluarga besar yang pernah tinggal serumah, lalu pindah ke rumah masing-masing. Tapi kalau ketemu, rasanya selalu hangat," tambah Anjasmara sambil tersenyum.

Di sudut lain kota, seorang perempuan paruh baya mengaku masih menyimpan foto lama saat dirinya remaja bersama keluarga menonton sinetron itu setiap malam. "Sekarang saya nonton mereka di acara televisi lain. Rasanya seperti melihat sahabat lama yang tumbuh bersama saya," katanya haru.

Momen seperti itulah yang membuat perjalanan 27 tahun terasa singkat. Air mata yang pernah jatuh di depan layar kaca kini menjelma menjadi kenangan manis yang diwariskan dari generasi ke generasi. Para pemain Tersayang tidak pernah benar-benar menghilang; mereka hanya berubah dan bangkit dalam bentuk yang baru, tetap menyentuh, dan tetap menginspirasi.

Karena pada akhirnya, kisah hebat tidak diukur dari berapa lama ia berlangsung, melainkan dari jejak yang ia tinggalkan di hati orang-orang yang pernah menyaksikannya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User