Di sudut dapur berukuran tak lebih dari 3x4 meter itu, tangan keriput seorang nenek bernama Mbah Sri bergerak lincah meski usianya telah menginjak 78 tahun. Ia mengaduk adonan tepung beras dengan penuh perasaan, seolah setiap putaran sendok kayu itu menyimpan doa dan kenangan yang tak terhitung jumlahnya. Aroma daun pandan yang menguar dari kukusan sederhana di atas tungku tanah liat seakan memanggil siapa saja yang melintas di depan rumah panggungnya di pinggiran Kota Yogyakarta.
"Ini bukan sekadar kue, Nak. Ini adalah napas hidup saya sejak saya masih gadis," ujarnya lirih, matanya berkaca-kaca saat mengenang almarhum suaminya yang pertama kali mengajarinya membuat nagasari puluhan tahun silam. Mbah Sri mengisahkan bagaimana ia harus berjuang menghidupi tujuh anaknya dari berjualan kue tradisional yang kini semakin jarang ditemui.
Perjalanan Panjang Sebungkus Nagasari
Nagasari pisang, begitu orang biasa menyebutnya, adalah kue basah tradisional yang terbuat dari tepung beras, santan, gula, dan isian pisang kepok atau pisang raja. Ia dibungkus rapi dengan daun pisang muda, lalu dikukus hingga matang sempurna. Proses pembuatannya membutuhkan kesabaran luar biasa — mulai dari memilih pisang yang tepat, mengukur kekentalan adonan, hingga melipat daun pisang dengan teknik yang diwariskan turun-temurun.
"Setiap lipatan daun pisang itu harus rapat. Kalau tidak, adonannya bocor dan rasanya tidak akan pernah sama. Hidup ini seperti nagasari, Nak. Kalau tidak sabar membungkusnya, isinya bisa berantakan," pesan Mbah Sri sambil tersenyum tipis.
Di balik kesederhanaannya, nagasari menyimpan filosofi mendalam bagi masyarakat Jawa. Kue ini kerap hadir dalam berbagai upacara adat, mulai dari syukuran kelahiran, pernikahan, hingga selamatan kematian. Warna putih dari tepung beras melambangkan kesucian hati, sementara rasa manis dari pisang dan gula menggambarkan harapan akan kehidupan yang penuh berkah.
Namun, perjalanan nagasari tidak selalu mulus. Di era modern ini, kue tradisional seperti nagasari mulai tersingkir oleh derasnya arus kue-kue modern dari luar negeri. Mbah Sri mengaku sempat merasa air matanya menetes ketika melihat generasi muda di kampungnya lebih memilih membeli donat atau brownies ketimbang kue buatannya.
Berjuang di Tengah Gempuran Zaman
"Dulu, setiap pagi saya bisa menjual 200 bungkus. Sekarang, kalau laku 50 bungkus sudah alhamdulillah," ungkapnya dengan suara bergetar. Meski begitu, semangat Mbah Sri tak pernah padam. Ia justru bangkit dengan cara mengajak cucu-cucunya untuk ikut membuat nagasari di dapur tuanya.
Salah satu cucunya, Dwi Lestari, 24 tahun, mengaku awalnya merasa malu berjualan kue tradisional. Namun, setelah melihat langsung perjuangan neneknya, hatinya tergerak. "Saya sadar, ini bukan soal uang. Ini soal menjaga warisan yang tidak ternilai harganya. Saya tidak mau nagasari hilang begitu saja," ujarnya penuh haru.
Dwi kemudian berinisiatif memasarkan nagasari buatan neneknya melalui media sosial. Hasilnya luar biasa — dalam waktu tiga bulan, pesanan mulai berdatangan dari berbagai kota. Bahkan, beberapa restoran dan kafe di Jakarta tertarik menjadikan nagasari sebagai menu penutup khas Nusantara.
Inspirasi dari Dapur Tua yang Sederhana
Kisah Mbah Sri dan nagasari-nya telah menjadi inspirasi bagi banyak orang di kampungnya. Beberapa ibu muda mulai belajar membuat kue basah tradisional, membentuk kelompok usaha kecil, dan kembali menghidupkan pasar tradisional yang sempat sepi. Momen mengharukan terjadi ketika Mbah Sri diminta menjadi narasumber dalam sebuah festival kuliner tradisional di kotanya. Dengan tongkat di tangan, ia berdiri di depan ratusan orang dan menceritakan perjalanan hidupnya.
"Saya tidak pernah membayangkan bisa berdiri di sini. Tapi inilah bukti bahwa sesuatu yang sederhana, jika dikerjakan dengan cinta, tidak akan pernah hilang ditelan zaman," katanya, disambut tepuk tangan meriah dari hadirin.
Di balik sebungkus nagasari pisang, tersimpan kisah tentang ketekunan, air mata, dan mimpi yang tak pernah padam. Mbah Sri bukan hanya penjual kue — ia adalah penjaga warisan budaya yang berjuang dengan caranya sendiri. Setiap gigitan nagasari yang lembut dan manis itu seakan membawa kita kembali pada kenangan masa kecil, pada kehangatan dapur nenek, dan pada cinta yang tak pernah lekang oleh waktu.
"Saya akan terus membuat nagasari sampai tangan ini tidak bisa lagi mengaduk. Karena bagi saya, nagasari adalah cara saya bersyukur kepada Tuhan dan menjaga kenangan orang-orang yang saya cintai," pungkas Mbah Sri, sementara tangannya kembali membungkus adonan dengan selembar daun pisang, selembar demi selembar, penuh cinta dan harapan.
Comments (0)