Oct 16, 2026
entertainment

Ubi Ungu, Camilan Sore yang Menghangatkan Cerita Keluarga

Di sudut dapur berukuran tiga kali empat meter itu, aroma karamel bercampur mentega hangat menyeruak pelan. Siti, perempuan 54 tahun, mengangkat selembar adonan ungu keunguan dari wajan datar. Warnany...

Ubi Ungu, Camilan Sore yang Menghangatkan Cerita Keluarga

Di sudut dapur berukuran tiga kali empat meter itu, aroma karamel bercampur mentega hangat menyeruak pelan. Siti, perempuan 54 tahun, mengangkat selembar adonan ungu keunguan dari wajan datar. Warnanya pekat seperti senja yang baru saja tenggelam di ufuk barat. Di tangannya, ubi ungu bukan sekadar bahan pangan, melainkan warisan yang ia jaga sejak ibunya masih hidup.

"Dulu, setiap sore, ibu selalu menggoreng ubi ungu untuk menemani ayah minum kopi," kisahnya lirih, mata tuanya berkaca. "Sekarang, saya yang meneruskan. Rasanya seperti ibu masih ada di sini, menemani saya memasak."

Ubi ungu, atau yang dikenal dengan nama ilmiah Ipomoea batatas varietas ungu, memang bukan camilan mewah. Ia tumbuh sederhana di pekarangan, berharga murah, tetapi menyimpan kehangatan yang sulit ditandingi oleh camilan modern mana pun. Di balik warna ungunya yang memikat, tersimpan antosianin—zat antioksidan yang membuatnya kian istimewa.

Perjalanan Rasa dari Pekarangan ke Meja Tamu

Bagi banyak keluarga di Nusantara, ubi ungu adalah teman setia saat sore menjelang. Ia hadir dalam berbagai bentuk: digoreng renyah, dikukus lembut, dijadikan kolak, atau diolah menjadi bolu yang mengembang sempurna. Namun, ada satu hal yang jarang dibicarakan: setiap olahan membawa cerita dan kenangan masing-masing.

Ratna, 38 tahun, mengisahkan bagaimana ia belajar mengolah ubi ungu dari neneknya di kampung. "Nenek selalu bilang, jangan buang kulitnya. Cuci bersih, lalu kukus. Katanya, di situlah rasanya paling jujur," tuturnya sambil tersenyum. Kini, Ratna rutin menyajikan ubi ungu kukus untuk anak-anaknya yang tengah bersiap ujian. "Mereka bilang, ubi nenek bikin fokus belajar. Mungkin karena rasanya yang manis alami, tidak bikin ngantuk."

Momen mengharukan terjadi ketika Ratna pertama kali menirukan resep neneknya. "Saya menangis. Rasanya persis. Seperti nenek duduk di samping saya, mengawasi setiap langkah," ujarnya dengan suara bergetar.

Menemani Kopi dan Teh dengan Sentuhan Hangat

Tidak bisa dimungkiri, camilan sore selalu punya tempat khusus bagi para penikmat kopi dan teh. Ubi ungu menawarkan keseimbangan sempurna: manis lembut yang tidak menutupi pahitnya kopi, dan tekstur lembut yang melengkapi hangatnya teh. Di beberapa kedai kopi kecil, ubi ungu goreng kini kembali naik daun sebagai pendamping espresso atau teh melati.

Seorang barista muda, Dwi, 27 tahun, mengaku awalnya ragu menyajikan ubi ungu di kedainya. "Saya pikir terlalu kampungan. Ternyata pelanggan justru suka. Mereka bilang, rasanya seperti pulang ke rumah," katanya sambil tertawa. "Ada satu pelanggan yang menangis saat mencium aroma ubi goreng kami. Katanya, itu aroma dapur ibunya di desa."

"Camilan itu bukan cuma soal rasa. Ia menyimpan memori, menyimpan cinta yang tak sempat terucap."

— Siti, penjual camilan ubi ungu

Inspirasi dari Dapur Sederhana

Di balik kelezatannya, ubi ungu juga menyimpan kisah perjuangan. Banyak pedagang kecil yang bangkit setelah pandemi berkat camilan ini. Mereka berjualan dari rumah ke rumah, menawarkan ubi ungu goreng yang masih hangat. Ada yang memulai dengan modal Rp50 ribu, kini bisa menyekolahkan anaknya.

"Saya dulu kehilangan pekerjaan. Tapi ubi ungu menyelamatkan kami," kata Sri, 45 tahun, yang kini memiliki tiga karyawan. "Setiap sore, anak saya ikut membantu membungkus. Itu momen paling membahagiakan."

Pada akhirnya, ubi ungu bukan sekadar camilan. Ia adalah jembatan antara generasi, teman setia di sore hari, dan saksi bisu dari mimpi-mimpi kecil yang perlahan tumbuh. Saat kopi atau teh mulai dingin, dan obrolan mulai larut, sepotong ubi ungu hangat di tangan bisa menjadi pengingat bahwa kebahagiaan sering kali datang dari hal-hal paling sederhana. Dan di situlah, di dapur-dapur kecil penuh kenangan, ubi ungu terus mengisahkan perjalanannya—dari pekarangan, ke meja tamu, hingga ke relung hati.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User