Oct 16, 2026
entertainment

Ketika Embung Doho Berubah Jadi Taman Kuliner yang Menghidupkan Harapan

Di sudut Embung Doho yang biasa sepi, sebuah tenda putih berdiri sejak pagi. Aroma sate ayam dan gudeg menguar, bercampur semilir angin dari permukaan air yang tenang. Di salah satu meja kayu, seorang...

Ketika Embung Doho Berubah Jadi Taman Kuliner yang Menghidupkan Harapan

Di sudut Embung Doho yang biasa sepi, sebuah tenda putih berdiri sejak pagi. Aroma sate ayam dan gudeg menguar, bercampur semilir angin dari permukaan air yang tenang. Di salah satu meja kayu, seorang perempuan paruh baya menyeka matanya dengan ujung selendang. Bukan karena sedih, melainkan haru. “Dulu saya cuma bisa lihat air ini dari jauh. Sekarang saya bisa jualan di sini,” ujarnya lirih, hampir tak terdengar di antara riuhnya pengunjung.

Perempuan itu adalah salah satu dari puluhan pedagang kecil yang kini menempati Taman Kuliner Doho, sebuah ruang baru yang diresmikan pada 7 Oktober 2026. Berada di kawasan Embung Doho, Wonogiri, Jawa Tengah, taman ini bukan sekadar deretan stan makanan. Ia adalah panggung bagi mimpi-mimpi sederhana yang selama ini tertahan oleh sepi dan keterbatasan.

Dari Sepi Menjadi Semarak

Embung Doho selama bertahun-tahun hanya dikenal sebagai penampung air. Petani memanfaatkannya untuk irigasi, sesekali warga datang memancing. Namun menjelang senja, kawasan ini sering kali lengang. Tidak ada yang menyangka bahwa sebuah taman kuliner akan tumbuh di tepiannya. Coca-Cola Foundation Indonesia hadir membawa gagasan: menghidupkan kembali ruang publik yang selama ini hanya menjadi latar belakang kehidupan warga.

Pembangunan taman ini tidak serta-merta berjalan mulus. Ada perdebatan, ada keraguan. Sebagian warga khawatir limbah kuliner mencemari embung. Namun pendekatan yang digunakan bukan sekadar membangun fisik. Warga dilibatkan, diberi pelatihan mengelola usaha, hingga diajarkan menjaga kebersihan kawasan. “Kami belajar bahwa tempat ini bukan hanya milik kami, tapi milik anak cucu juga,” tutur Pak Slamet, salah satu pedagang yang kini menjual nasi liwet.

Air Mata di Balik Meja Kayu

Di balik setiap stan, tersimpan kisah yang menyentuh. Ada seorang ibu yang harus berjalan kaki dua kilometer setiap hari karena tidak punya sepeda motor. Ada pemuda yang putus sekolah dan kini kembali bangkit karena dipercaya mengelola kedai kopi. Ada juga pasangan suami istri yang hampir menyerah karena dagangan mereka sepi, lalu perlahan menemukan pelanggan setia di taman ini.

“Saya pernah berpikir untuk berhenti. Tapi di sini, orang-orang datang bukan hanya karena lapar, tapi karena ingin berbagi cerita,” ujar Pak Slamet, matanya berkaca-kaca. Ia mengisahkan bagaimana anaknya kini bisa kembali sekolah setelah pendapatannya stabil. Momen mengharukan itu tidak hanya dirasakan oleh para pedagang, tetapi juga pengunjung yang datang dari berbagai kota.

Ruang Publik yang Menghidupkan Kembali Harapan

Taman Kuliner Doho bukan hanya soal makanan. Ia adalah ruang di mana warga berkumpul, bercengkerama, dan merayakan kehidupan. Anak-anak berlarian di area bermain sederhana, sementara orang tua duduk menikmati senja. Di panggung kecil, sesekali ada musik akustik yang dibawakan pemuda setempat. Suasana itu sederhana, namun justru itulah yang membuatnya terasa hangat.

Kehadiran taman ini juga memberi dampak ekonomi nyata. Pendapatan pedagang meningkat, lapangan kerja baru muncul, dan nama Embung Doho mulai dikenal lebih luas. Namun yang paling penting, ada rasa bangga yang kembali tumbuh. Warga tidak lagi merasa kampungnya tertinggal. Mereka merasa memiliki, dan itu adalah modal terbesar untuk keberlanjutan.

“Air mata saya bukan karena sedih, tapi karena akhirnya kami punya tempat untuk berjuang,” pungkas seorang pedagang lain. Di Embung Doho, harapan itu tidak lagi menguap bersama angin. Ia menetas, tumbuh, dan menghangatkan hati siapa saja yang datang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User