Sep 20, 2026
Hukum

Ualá — CEO Soroti Pentingnya Struktur Horizontal untuk Pacu Inovasi

Lanskap dunia usaha global kini tengah mengalami pergeseran paradigma yang sangat fundamental. Model hierarki korporasi tradisional yang berbentuk piramida

Ualá — CEO Soroti Pentingnya Struktur Horizontal untuk Pacu Inovasi

Lanskap dunia usaha global kini tengah mengalami pergeseran paradigma yang sangat fundamental. Model hierarki korporasi tradisional yang berbentuk piramida bertingkat dinilai kian usang dan mulai ditinggalkan. Sejumlah pemimpin industri dari sektor otomotif, barang konsumsi (FMCG), hingga teknologi finansial (fintech) sepakat bahwa kunci keberhasilan organisasi modern bertumpu pada struktur yang lebih datar (horizontal), kepemimpinan yang membumi, serta kejelasan visi perusahaan.

Perubahan dinamis pasar yang dipacu percepatan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) menuntut respons bisnis yang serba cepat. Dalam lanskap baru ini, birokrasi berbelit justru dipandang sebagai penghambat utama adaptasi dan daya saing bisnis masa kini.

Awal Transformasi: Mengapa Struktur Piramida Mulai Ditinggalkan

Pandangan mengenai pentingnya perombakan struktur manajemen ini disuarakan secara gamblang oleh Pierpaolo Barbieri, Pendiri sekaligus Chief Executive Officer (CEO) dari perusahaan fintech unicorn Ualá. Menurutnya, terdapat perbedaan mencolok antara dua tipe organisasi kerja di era digital.

"Hanya ada dua tipe organisasi di dunia: organisasi horizontal yang mirip jejaring sosial dan sangat hebat dalam berinovasi, serta organisasi vertikal dengan struktur hierarkis kaku yang mungkin bertahan lama tetapi sangat buruk dalam hal inovasi," ungkap Barbieri.

Barbieri menekankan bahwa perusahaan vertikal sering kali terjebak dalam jalur birokrasi yang panjang. Akibatnya, ide-ide segar dari talenta muda di tingkat bawah kerap kali terhambat atau bahkan hilang sebelum sempat mencapai meja pengambil keputusan.

Prinsip Utama: Tiga Pilar Mengikis Sekat Hierarki Perusahaan

Guna mempertahankan fleksibilitas dan kecepatan berinovasi, manajemen modern mulai menerapkan pendekatan radikal dalam operasional harian mereka. Di perusahaannya sendiri, Barbieri menerapkan serangkaian prinsip kepemimpinan yang menempatkan kesetaraan di atas gelar jabatan formal.

  1. Horizontalitas dalam Pengambilan Keputusan: Menghapus sekat komunikasi antardepartemen sehingga koordinasi antartim dapat berlangsung secara langsung tanpa harus menunggu persetujuan berjenjang.
  2. Budaya Meritokrasi Murni: Gagasan terbaiklah yang menang, bukan ditentukan oleh siapa yang memiliki jabatan paling tinggi di dalam ruangan.
  3. Keteladanan Kepemimpinan (Lead by Example): Para eksekutif senior tidak boleh menuntut anggota tim melakukan sesuatu yang mereka sendiri tidak bersedia mengerjakannya.

Sebagai wujud nyata dari komitmen tersebut, seluruh jajaran eksekutif tertinggi di Ualá diwajibkan untuk turun tangan langsung menangani layanan pelanggan (customer service). Langkah ini dilakukan agar para pemimpin tetap terhubung secara nyata dengan kebutuhan pengguna sekaligus memahami beban kerja karyawan di lini depan.

Masa Depan Bisnis: Efisiensi Jalur Komunikasi dan Integrasi AI

Di samping mengubah kultur kerja, pemangkasan rantai komando manajemen terbukti mempercepat transmisi misi strategis perusahaan. Jalur koordinasi yang ringkas memudahkan pemanfaatan otomatisasi dan kecerdasan buatan dengan tetap mempertahankan sentuhan humanis.

Barbieri mencatat bahwa memangkas rantai birokrasi menjadi prioritas mutlak bagi perusahaan yang ingin lincah bermanuver. "Jauh lebih mudah meyakinkan tim tentang misi perusahaan ketika Anda hanya memiliki 5 tingkat manajemen dibandingkan jika ada 8 tingkat manajemen," pungkasnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS salsa-bintari

Reporter Startup. Meliput ekosistem startup Indonesia, venture capital, dan unicorn.

Comments (0)

User