WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menanggapi enteng kekhawatiran publik yang kian membesar soal kecerdasan buatan (AI) dan pembangunan pusat data raksasa, bahkan ketika para ekonom dan pembuat kebijakan dari berbagai spektrum politik menyuarakan nada yang jauh lebih hati-hati. Di saat yang sama, pemerintahannya sendiri, melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA), justru mengambil langkah berbeda di sektor pangan: bergerak memperketat aturan terhadap bahan-bahan yang ditambahkan perusahaan ke dalam produk makanan.
Dua arah kebijakan yang tampak berseberangan ini menggambarkan wajah pemerintahan Trump saat ini — penuh optimisme terhadap teknologi, namun lebih intervensionis terhadap apa yang masuk ke piring makan warga Amerika.
Trump Optimistis soal AI, Ekonom Justru Waspada
Dalam sejumlah kesempatan, Trump berulang kali menampilkan antusiasme terhadap AI. Ia memandang teknologi itu sebagai medan pertarungan strategis melawan Tiongkok dan mendorong investasi besar-besaran, termasuk pembangunan pusat data bernilai ratusan miliar dolar bersama perusahaan-perusahaan raksasa teknologi.
Nada optimistis itu kontras dengan pandangan para ekonom, akademisi, dan bahkan sebagian sekutunya sendiri di Kongres. Mereka mengingatkan risiko gelembung investasi AI, potensi hilangnya jutaan lapangan kerja akibat otomatisasi, serta lonjakan kebutuhan listrik yang dipicu pusat-pusat data baru.
"Kita tidak boleh membiarkan negara lain mendahului kita. AI adalah masa depan, dan Amerika harus memenangkannya," ujar Trump dalam pernyataan yang kerap ia ulang di berbagai forum.
Namun bagi banyak pemilih, retorika kemenangan itu tak menjawab kegelisahan sehari-hari. Berbagai jajak pendapat menunjukkan warga Amerika semakin cemas: mereka khawatir AI menggerus pekerjaan, memperdalam misinformasi, dan memperkaya segelintir perusahaan teknologi sementara masyarakat umum menanggung biayanya.
Pusat Data Dituding Kerek Tagihan Listrik Warga
Salah satu sumber kecemasan yang paling nyata adalah ledakan pembangunan pusat data di berbagai negara bagian. Fasilitas raksasa penyokong AI itu menyedot listrik dan air dalam jumlah masif. Di sejumlah wilayah, warga melaporkan tagihan listrik yang merangkak naik seiring beroperasinya pusat data di dekat tempat tinggal mereka.
- Konsumsi listrik pusat data AI diproyeksikan melonjak tajam dalam lima tahun ke depan.
- Sejumlah pemerintah daerah mulai meninjau ulang insentif pajak bagi perusahaan teknologi.
- Kelompok lingkungan menyoroti penggunaan air untuk pendinginan server di tengah ancaman kekeringan.
Para ekonom dari kubu progresif maupun konservatif sama-sama menyerukan kehati-hatian, meski dengan alasan berbeda: yang satu menyoroti ketimpangan dan dampak lingkungan, yang lain mengkhawatirkan gelembung pasar yang bisa pecah dan menyeret perekonomian.
FDA Usulkan Aturan Lebih Ketat untuk Bahan Pangan
Sementara Gedung Putih menggenjot teknologi, FDA bergerak ke arah berbeda. Lembaga itu mengusulkan aturan baru yang akan mewajibkan perusahaan makanan memberitahu badan tersebut tentang bahan-bahan yang mereka rencanakan untuk ditambahkan ke dalam produk mereka.
Selama ini, industri pangan Amerika menikmati celah regulasi yang dikenal dengan sebutan GRAS — Generally Recognized as Safe (umumnya diakui aman). Lewat jalur itu, perusahaan dapat menentukan sendiri bahwa suatu bahan aman digunakan, tanpa wajib melapor ke FDA. Akibatnya, ratusan bahan kimia beredar dalam pasokan makanan Amerika tanpa pernah ditinjau langsung oleh regulator.
"Selama beberapa dekade, sistem ini membiarkan perusahaan menjadi wasit sekaligus pemain. Konsumen tidak pernah tahu bahan apa saja yang sesungguhnya masuk ke tubuh mereka," kata seorang advokat keamanan pangan di Washington.
Celah 'Pengawasan Mandiri' Tetap Jadi Sorotan
Kendati dianggap kemajuan, usulan itu tetap menuai kritik. Pasalnya, meski perusahaan nantinya wajib memberitahu FDA, mereka tetap diperbolehkan menilai sendiri keamanan bahan tersebut — praktik yang disebut para kritikus sebagai self-policing.
Artinya, FDA hanya berposisi menerima pemberitahuan, bukan menyetujui bahan sebelum beredar di pasaran. Kelompok konsumen menilai langkah ini belum cukup jauh, mengingat banyak bahan yang dilarang di Eropa masih bebas digunakan di Amerika Serikat. Langkah FDA sendiri tak lepas dari dorongan Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr. yang menjadikan reformasi pangan sebagai agenda utama lewat gerakan Make America Healthy Again.
Dua Wajah Kebijakan Satu Pemerintahan
Kontras kedua kebijakan ini menarik dicermati. Di satu sisi, pemerintah membiarkan sektor AI melaju kencang dengan pengawasan minimal, berharap tuah ekonomi dan keunggulan geopolitik. Di sisi lain, pemerintah justru mempererat pagar regulasi di sektor pangan yang selama puluhan tahun dibiarkan longgar.
Bagi pemilih yang cemas, pertanyaannya sederhana: apakah optimisme Trump terhadap AI akan terbukti, atau justru menjadi taruhan mahal yang risikonya ditanggung rakyat biasa — sama seperti bahan-bahan makanan yang selama ini lolos tanpa pengawasan berarti.
[SOCIAL_TWEET]: Trump meremehkan kecemasan publik soal AI dan pusat data. Sementara itu, FDA justru memperketat aturan bahan pangan. Dua wajah kebijakan satu pemerintahan. Baca selengkapnya di Beritaseputar.com[SOCIAL_TG]: 📰 Trump Abaikan Cemas soal AI, FDA Perketat Aturan Bahan Pangan — Gedung Putih menggenjot AI hampir tanpa rem, sementara regulator pangan justru mempererat pengawasan bahan makanan. Kontras dua kebijakan dalam satu pemerintahan. Selengkapnya di Beritaseputar.com
Comments (0)