Berburu Lailatul Qadar, Warga Cikampek Itikaf di Masjid Asy-Syuhada

Udara malam yang tenang menyelimuti kawasan Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pada Jumat (29/4/2022). Di dalam Masjid Asy-Syuhada, ratusan jemaah t

Jul 19, 2026 - 02:48
0 0
Berburu Lailatul Qadar, Warga Cikampek Itikaf di Masjid Asy-Syuhada

Udara malam yang tenang menyelimuti kawasan Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pada Jumat (29/4/2022). Di dalam Masjid Asy-Syuhada, ratusan jemaah tampak khusyuk melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Malam itu adalah malam ke-27 Ramadan 1443 Hijriah — salah satu malam ganjil di sepuluh hari terakhir yang diyakini umat Islam sebagai malam diturunkannya Lailatul Qadar. Lampu-lampu masjid yang temaram menciptakan atmosfer spiritual yang mendalam, seolah mengundang setiap jiwa untuk tenggelam dalam ibadah.

Masjid Asy-Syuhada, yang terletak di jantung Cikampek, menjadi pusat kegiatan itikaf bagi warga sekitar. Dengan kapasitas mencapai 1.500 jemaah, masjid ini sejak awal Ramadan telah mempersiapkan program ibadah intensif. Pada malam-malam ganjil, terutama malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29, jumlah jemaah yang datang melonjak hingga dua kali lipat dari hari biasa. Banyak di antara mereka yang membawa perlengkapan tidur sederhana, bertekad untuk bermalam di dalam masjid hingga waktu sahur tiba.

Malam Penuh Keberkahan: Keutamaan Lailatul Qadar

Lailatul Qadar, atau Malam Kemuliaan, adalah malam yang disebut dalam Alquran sebagai “lebih baik dari seribu bulan.” Dalam hitungan waktu dunia, seribu bulan setara dengan 83 tahun 4 bulan — usia yang melampaui rata-rata umur manusia. Keistimewaan ini diabadikan dalam Surah Al-Qadr ayat 1-5, yang menyatakan bahwa pada malam itu turun para malaikat dan Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 3-5)

Menurut Ustaz Abdul Malik, pengurus bidang ibadah Masjid Asy-Syuhada, malam Lailatul Qadar adalah kasih sayang Allah yang tidak boleh disia-siakan. “Rasulullah SAW meningkatkan ibadah beliau secara drastis pada sepuluh malam terakhir, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya. Inilah teladan yang kami coba hidupkan di masjid ini,” tuturnya saat ditemui di sela-sela kegiatan tadarus.

Itikaf: Menyepi untuk Mendekatkan Diri

Itikaf secara bahasa berarti berdiam diri. Dalam konteks ibadah, itikaf adalah aktivitas berdiam di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah, meninggalkan sejenak hiruk-pikuk dunia. Ibadah ini sangat dianjurkan pada sepuluh hari terakhir Ramadan, mengikuti sunah Nabi Muhammad SAW yang tidak pernah meninggalkannya. Masjid Asy-Syuhada menyediakan area khusus bagi para mu’takif (orang yang beritikaf), lengkap dengan pengaturan saf agar mereka tetap dapat beristirahat tanpa mengganggu jemaah lain.

“Saya sengaja mengosongkan jadwal kerja selama sepuluh hari terakhir ini. Di rumah, godaan untuk tidur atau menonton televisi terlalu besar. Di sini, semua orang membaca Alquran, salat, dan berdzikir. Energinya berbeda,” ujar Rahmat (45), seorang pengusaha konveksi asal Cikampek yang telah tiga kali mengikuti itikaf penuh di masjid tersebut.

Dari pantauan di lapangan, para mu’takif mengisi waktu dengan beragam amalan: membaca Alquran dengan target khatam, melaksanakan salat sunat seperti tahajud dan hajat, berdzikir, berselawat, serta memperbanyak doa. Beberapa di antara mereka bahkan membawa mushaf pribadi dan buku-buku doa. Panitia masjid juga menyediakan 500 porsi sahur gratis setiap malamnya, hasil dari donasi warga sekitar dan pengusaha lokal.

Malam ke-27: Puncak Harapan

Di antara malam-malam ganjil, malam ke-27 menyimpan tempat istimewa di hati umat Islam. Banyak ulama, termasuk Imam Syafi’i, berpendapat bahwa Lailatul Qadar paling sering jatuh pada malam tersebut. Keyakinan ini mendorong lonjakan jemaah yang signifikan di Masjid Asy-Syuhada. Sejak pukul 20.00 WIB, area parkir sudah penuh oleh kendaraan roda dua dan empat. Jemaah laki-laki menempati lantai utama, sementara jemaah perempuan di lantai atas yang telah dilengkapi hijab pembatas.

Suasana mencapai puncak kekhusyukan menjelang tengah malam, saat imam memimpin salat tahajud berjemaah. Suara isakan tangis terdengar dari beberapa sudut masjid, menandakan doa-doa yang dipanjatkan dengan sepenuh hati. Setelah salat, para jemaah melanjutkan dengan membaca Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, dan ayat-ayat pilihan secara bersama-sama. Kegiatan ini berlangsung hingga azan Subuh berkumandang, menutup malam yang penuh harap itu.

Bagi warga Cikampek dan sekitarnya, malam itikaf di Masjid Asy-Syuhada bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah perjalanan spiritual untuk meraih ampunan dan rida Allah, sekaligus memupuk kebersamaan dalam balutan iman. Seperti yang diungkapkan salah seorang jemaah, “Kami tidak tahu pasti kapan Lailatul Qadar datang. Tapi dengan beritikaf, kami berharap bisa menangkap malam itu, walau hanya sedetik.”

[SOCIAL_TWEET]: Di malam ke-27 Ramadan, ratusan warga Cikampek penuhi Masjid Asy-Syuhada untuk berburu Lailatul Qadar. Suasana khusyuk, doa dan haru mewarnai itikaf. Malam seribu bulan, adakah yang berhasil meraihnya? ✨ #LailatulQadar #Itikaf #Ramadan1443H[SOCIAL_TG]: 🕌 Malam Lailatul Qadar di Masjid Asy-Syuhada Cikampek: Ratusan mu’takif tenggelam dalam ibadah. Isak tangis, lantunan Alquran, dan doa-doa mewarnai malam ke-27. Simak cerita penuh haru di berita kami! ⭐

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User