Di sudut dapur berukuran 2x3 meter, uap tipis mengepul dari wajan tua yang mulai menghitam di bagian bawah. Aroma cabai dan bawang yang ditumis perlahan bercampur dengan harum santan, menciptakan wangi yang langsung membangkitkan rindu akan rumah masa kecil. Di hadapan kompor, Bu Ratna, 58 tahun, dengan sabar membalik satu per satu telur ceplok yang mulai berkerak di bagian pinggirnya. Sesekali ia menyiramkan kuah santan yang jingga kemerahan ke atas telur menggunakan sendok sayur kayu yang sudah licin oleh minyak. Ini bukan sekadar masakan, katanya lirih, ini perjalanan pulang ke masa lalu.
Jejak Dapur Nenek di Atas Meja Makan
Resep telur ceplok masak santan pedas ini bukan berasal dari buku masakan, melainkan warisan lisan yang mengalir dari generasi ke generasi. Bu Ratna pertama kali mencicipi masakan ini dari tangan neneknya, seorang perempuan Jawa yang membesarkan tujuh anak dengan penghasilan pas-pasan sebagai penjual jamu. Di tengah keterbatasan, telur adalah bahan pangan mewah yang sering diganti dengan tempe atau tahu. Namun setiap kali ada rezeki lebih, neneknya akan menggoreng dua butir telur, lalu mencemplungkannya ke dalam kuah santan bercampur cabai rawit utuh.
"Nenek selalu bilang, kalau kepepet nggak punya lauk, telur ceplok bisa jadi raja. Asal diolah dengan bumbu yang pas, sepotong telur bisa menyelamatkan makan sekeluarga," kenang Bu Ratna sambil mengaduk kuah.
Di balik kesederhanaan bahan, ada cinta yang tak terukur. Neneknya dulu biasa memasak dengan kayu bakar sehingga bumbu meresap perlahan, menciptakan cita rasa yang tidak bisa ditiru kompor gas modern. Bu Ratna masih ingat jelas, bagaimana ia duduk di dekat tungku, menunggu telur ceplok santan matang sambil bercerita tentang sekolah dan mimpi-mimpi kecilnya. Kini, saat ia memasak resep yang sama, ia seperti dibawa ke masa itu lagi: suara jangkrik di malam hari, cahaya lampu teplok yang redup, dan pelukan hangat sang nenek.
Mengolah Sederhana dengan Cinta
Proses memasak telur ceplok santan pedas sebenarnya sederhana, namun Bu Ratna percaya bahwa ada sentuhan batin yang membuatnya istimewa. Ia memilih telur ayam kampung dengan kuning telur berwarna oranye pekat, lalu menceplokkannya ke dalam minyak panas hingga bagian pinggirnya renyah kecokelatan. Sementara itu, ia menghaluskan bawang merah, bawang putih, cabai merah keriting, dan cabai rawit—yang jumlahnya tak pernah ditakar, cukup dikira-kira sesuai rasa hati. Bumbu itu ditumis hingga benar-benar matang dan mengeluarkan minyak, lalu baru dituangi santan segar yang diambil dari kelapa parut yang masih hangat.
Yang paling penting, ucapnya, adalah memasukkan telur ceplok setelah kuah mendidih agar bumbu menyerap hingga ke kuning telur. "Saya tidak pernah memotong telurnya. Biarkan utuh, supaya saat digigit, kuningnya meleleh di mulut dan bercampur kuah santan yang pedas," jelasnya. Di akhir, ia menambahkan daun jeruk dan serai yang digeprek, memberi kesegaran yang menyeimbangkan lemak santan. Aroma segar dari daun jeruk itu selalu menjadi pertanda bahwa makan siang sudah siap, dan dulu anak-anaknya akan berebut mengambil nasi paling hangat dari rice cooker.
Lebih dari Lauk, Simbol Kebersamaan
Bagi keluarga besar Bu Ratna, telur ceplok masak santan pedas bukan sekadar lauk. Setiap kali hujan deras di luar dan udara terasa dingin, masakan ini seolah menjadi ritual yang wajib. Momen ketika seluruh anggota keluarga berkumpul di meja makan, menyendok nasi putih, lalu menuang kuah santan yang kental dan pedas ke atasnya. Perut hangat, percakapan mengalir, dan semua beban seakan luruh.
"Anak bungsu saya paling suka kuahnya. Dia selalu minta dilebihkan, biar bisa dicampur nasi sampai seperti bubur. Kalau saya masak ini, dia pasti pulang lebih cepat dari kantor," cerita Bu Ratna sambil tertawa kecil, matanya sedikit berkaca-kaca karena anak bungsunya kini merantau jauh dan hanya bisa menikmati masakan itu lewat video call.
Yang mengharukan, resep ini kini mulai diwariskan ke cucu pertamanya yang berusia 12 tahun. Setiap akhir pekan, sang cucu dengan semangat membantu mengaduk bumbu dan menakar santan. Bu Ratna menyaksikan tangan kecil itu memegang sendok dengan antusias, dan ia yakin, meski zaman berubah, cerita tentang dapur kecil dan telur ceplok santan ini akan terus hidup. Sebab di setiap suapan, tersimpan kenangan, perjuangan, dan cinta yang tak lekang oleh waktu.
Comments (0)