Aug 25, 2026
entertainment

Di Balik Senyum Perempuan Multitasking: Lelah yang Tak Terucap

Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter yang hanya diterangi lampu meja temaram, seorang perempuan duduk mematung di depan laptop. Punggungnya membungkuk, tangan kanan masih memegang mouse, tangan kiri m...

Di Balik Senyum Perempuan Multitasking: Lelah yang Tak Terucap

Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter yang hanya diterangi lampu meja temaram, seorang perempuan duduk mematung di depan laptop. Punggungnya membungkuk, tangan kanan masih memegang mouse, tangan kiri menopang dagu. Layar masih menampilkan puluhan tab spreadsheet, grup WhatsApp kantor yang tak henti berdenting, dan pesan singkat dari grup keluarga yang menanyakan menu makan malam. Matanya menerawang kosong, bukan pada layar, melainkan pada dinding yang penuh coretan krayon anaknya. Di ruangan itu, ia adalah karyawan, ibu, istri, dan anak—semua dalam satu tubuh yang mulai letih.

Pagi yang Dimulai Sebelum Matahari

Kisah ini bukan milik satu orang. Ia adalah cermin ribuan perempuan yang setiap hari berlari sebelum sempat berjalan. Pukul setengah lima pagi, alarm belum berbunyi, tapi pikirannya sudah terjaga. Ia mulai dengan menyiapkan sarapan, menyetrika seragam, mengecek PR anak, sambil merebus air untuk kopi yang sering kali dingin sebelum sempat diteguk. Di antara uap dapur dan tangis si bungsu yang minta digendong, ia menyempatkan diri membaca email dari atasan: deadline proyek dimajukan.

“Saya merasa seperti sedang menyulap. Tapi bukan sulap yang menghibur, melainkan sulap yang jika salah sedikit, semuanya jatuh berantakan,” tutur Dina, seorang manajer pemasaran dan ibu dua anak, suaranya bergetar. Kalimat itu meluncur pelan, hampir seperti bisikan yang ia sendiri takut mendengarnya.

Multitasking bagi banyak perempuan bukanlah keahlian yang dipamerkan di CV, melainkan mekanisme bertahan hidup. Mereka melakukannya bukan karena ingin, tetapi karena keadaan menuntut, dan masyarakat menganggapnya wajar. Sejak kecil, perempuan dididik untuk menjadi “pengatur segalanya,” namun tak pernah diajari bagaimana cara berhenti.

Senja yang Enggan Beranjak

Di kantor, ia adalah tulang punggung tim. Presentasi berjalan mulus, klien tersenyum puas. Namun ketika jam menunjukkan pukul lima sore, perang sesungguhnya baru dimulai. Ia harus menerobos kemacetan, menahan godaan untuk sekadar duduk diam di mobil beberapa menit, sebelum akhirnya membuka pintu rumah dengan senyum yang sudah disiapkan sejak di parkiran. Di balik senyum itu, ada beban mental yang tidak terlihat: mengingat jadwal vaksin, membayar tagihan listrik, memastikan orang tua di kampung sudah minum obat. Semua tersimpan dalam otaknya yang tak pernah benar-benar istirahat.

Suatu sore, saat ia sedang menggoreng tempe sambil mengikuti rapat daring melalui headset, anak pertamanya datang membawa gambar pelangi. “Bu, lihat gambarku!” seru bocah itu. Ia hanya bisa mengangguk, melambaikan tangan, tanpa benar-benar melihat. Momen itu berlalu begitu saja, namun kemudian menjelma menjadi rasa bersalah yang mendalam menjelang tidur. Menjadi perempuan multitasking artinya terus-menerus berdamai dengan rasa “tidak cukup” atas semua peran yang dijalani.

Bangkit dari Lelah yang Diam

Dina mengenang momen ketika ia akhirnya ambruk—bukan secara fisik, tapi emosional. Di sebuah malam setelah anak-anak terlelap, ia duduk di lantai kamar mandi dan menangis tanpa suara. Air mata itu bukan karena satu masalah besar, melainkan akumulasi dari ribuan keping kecil yang menumpuk bertahun-tahun. Saat itulah ia menyadari bahwa multitasking telah merenggut kemampuannya untuk merasakan hidup, bukan sekadar menjalankannya.

Perlahan, ia belajar bahwa kekuatan terbesar bukanlah mampu melakukan banyak hal sekaligus, melainkan keberanian untuk berkata “cukup”. Ia mulai meminta bantuan, berani menolak rapat yang tak esensial di akhir pekan, dan mengajarkan anak-anaknya untuk merapikan mainan sendiri. Bukan berarti lelah itu hilang, tetapi ia tak lagi bertarung sendirian.

Di banyak sudut kota, perempuan lain mungkin sedang duduk dengan cara yang sama: lelah, namun masih memaksa diri untuk terus mengetik, terus melipat baju, terus tersenyum. Mereka adalah para pejuang senyap, yang kisahnya jarang masuk berita utama, namun menjaga dunia tetap berputar. Di balik layar laptop yang menyala 24 jam, ada hati yang berharap sederhana: agar hari esok bisa berjalan sedikit lebih lambat, sedikit lebih manusiawi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User