Tarif Listrik Tak Naik, Denyut Usaha Kecil Terus Berdetak

Di balik suara mesin jahit yang berisik, Siti (42) tengah menyelesaikan setelan baju pesanan pelanggan. Tangannya cekatan, namun wajahnya menyimpan guratan lelah yang dalam. Selama berbulan-bulan, ia ...

Jul 13, 2026 - 20:57
0 1

Di balik suara mesin jahit yang berisik, Siti (42) tengah menyelesaikan setelan baju pesanan pelanggan. Tangannya cekatan, namun wajahnya menyimpan guratan lelah yang dalam. Selama berbulan-bulan, ia gelisah. Tagihan listrik—urat nadi usahanya—terus membayangi. Setiap kenaikan harga berarti mengurangi keuntungan tipisnya, keuntungan yang ia andalkan untuk menyekolahkan dua anaknya. Di ruang tamu berukuran 3x4 meter yang ia sulap menjadi bengkel jahit, listrik adalah segalanya: penerangan, mesin, setrika. Maka, ketika kabar bahwa tarif listrik triwulan ketiga 2026 tak jadi naik, Siti menarik napas panjang. Air matanya nyaris tumpah. Bukan karena dramatis, tapi karena lega yang tak terperi.

Keputusan yang Menjaga Napas Usaha Kecil

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah memutuskan untuk tidak menaikkan tarif tenaga listrik bagi seluruh golongan pelanggan, baik yang menerima subsidi maupun nonsubsidi, pada periode Juli hingga September 2026. Langkah ini diambil semata-mata untuk memastikan daya beli masyarakat, khususnya kalangan bawah, tetap terlindungi di tengah tekanan ekonomi yang masih membayangi. Sebuah kebijakan yang mungkin terdengar teknis di telinga banyak orang, tapi bagi Siti dan jutaan pelaku usaha mikro lainnya, ini adalah sinyal bahwa negara hadir di sisi mereka, di tengah gejolak harga kebutuhan pokok yang terus merayap naik.

"Kenaikan tarif listrik, meski kecil, bisa mematikan usaha saya perlahan," ujar Siti saat ditemui di rumahnya di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara. "Saya hanya bisa mengandalkan mesin jahit tua ini. Kalau biaya listrik naik, saya harus menaikkan ongkos jahit. Pelanggan saya juga orang-orang kecil. Kalau ongkos naik, mereka bisa lari." Air mukanya berubah sendu, namun kemudian ia tersenyum getir. "Keputusan ini seperti memberi saya waktu bernapas lebih panjang."

Di Balik Layar: Mengapa Tarif Tak Bergerak?

Keputusan menahan tarif listrik bukanlah tanpa perhitungan. Parameter ekonomi makro—seperti nilai tukar rupiah, harga minyak mentah Indonesia, dan inflasi—menunjukkan kondisi yang memungkinkan pemerintah menahan kenaikan. Namun di balik angka-angka itu, ada kisah perjuangan manusia yang tak terhitung. Seorang pejabat kementerian yang enggan disebut namanya mengisahkan, "Kami melihat bahwa menaikkan tarif pada saat ini hanya akan menambah beban. Beban yang mungkin tak terasa bagi kami, tapi sangat berat bagi mereka yang pendapatannya pas-pasan."

Bagi Siti, parameter ekonomi adalah bahasa asing. Ia hanya tahu, pagi ini ia bisa menyalakan setrika tanpa dihantui ketakutan. Setiap hari, ia bekerja dari pukul enam pagi hingga tengah malam, dengan mesin jahit butut yang ia beli dari hasil menggadaikan perhiasan satu-satunya. Pendapatannya rata-rata Rp2,5 juta sebulan, dari situ ia menyisihkan sekitar Rp300 ribu untuk listrik. Angka itu mungkin kecil bagi sebagian orang, tapi bagi Siti, itu adalah harga dari harapan.

Momen Mengharukan di Tengah Ketidakpastian

Kisah Siti bukanlah satu-satunya. Di pasar tradisional yang berdebu, di warung-warung kecil yang menjual kopi sachet, di tempat sablon kaos di gang sempit, kabar ini disambut dengan suka cita yang sederhana. Tidak ada selebrasi, hanya napas yang lebih lega. "Saya tidak perlu menaikkan harga gorengan saya," ujar Marno, penjual gorengan keliling di kawasan Senen. "Listrik untuk kulkas dan penggorengan itu penting. Alhamdulillah, belum naik."

Kebijakan ini juga menyentuh pelanggan subsidi, yang sebagian besar adalah rumah tangga prasejahtera. Bagi mereka, setiap rupiah sangat berarti. Listrik bukan sekadar penerangan, tapi juga sumber kehidupan: untuk menyalakan pompa air, televisi yang menjadi hiburan satu-satunya, dan lampu belajar anak-anak di malam hari. Dengan tarif tetap, mimpi-mimpi kecil di sudut ruangan itu terus menyala.

Daya Beli: Pertaruhan Masa Depan yang Rapuh

Menjaga daya beli adalah upaya menjaga harapan. Di tengah harga beras yang fluktuatif dan biaya transportasi yang cenderung naik, listrik menjadi salah satu komponen yang bila digoyang bisa menimbulkan efek domino yang menyakitkan. Seorang pengamat ekonomi menuturkan, "Keputusan ini tepat. Menahan tarif listrik saat pemulihan ekonomi adalah langkah yang manusiawi. Karena inflasi yang terjadi akibat kenaikan tarif listrik akan langsung menghantam kelompok rentan."

Bagi Siti, diskusi tentang dampak ekonomi makro mungkin terlalu jauh. Yang ia tahu, malam nanti ia akan duduk di depan mesin jahitnya, dengan lampu yang terus menerangi. Ia akan menjahit hingga larut, menuntaskan pesanan seragam sekolah yang mendekati tenggat. Di luar, hujan mungkin turun, tapi di dalam hati Siti, ada kehangatan yang tak bisa dibeli dengan listrik: keyakinan bahwa usahanya masih bisa bertahan, dan anak-anaknya masih bisa tersenyum esok pagi.

Di balik keputusan tak menaikkan tarif listrik, ada ribuan Siti yang berjuang dalam diam. Mereka tidak butuh bantuan besar, hanya kepastian bahwa roda kecil kehidupan mereka masih bisa berputar.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User