Sutradara Gonjiam Siap Syuting Horor di Indonesia, Begini Syaratnya

Di sudut gelap sebuah bangunan tua di bilangan Kota Tua Jakarta, sorot senter kecil menari di dinding yang mengelupas. Jeong Beom-sik, sutradara di balik fenomena Gonjiam: Haunted Asylum, berdiri mema...

Jul 12, 2026 - 11:09
0 0
Sutradara Gonjiam Siap Syuting Horor di Indonesia, Begini Syaratnya

Di sudut gelap sebuah bangunan tua di bilangan Kota Tua Jakarta, sorot senter kecil menari di dinding yang mengelupas. Jeong Beom-sik, sutradara di balik fenomena Gonjiam: Haunted Asylum, berdiri mematung. Matanya berbinar, bukan lantaran gentar, melainkan karena jatuh hati pada atmosfer yang menyelimuti tempat itu.

“Saya merasakan energi yang berbeda di sini,” ujarnya lirih, setengah berbisik. “Seperti ada cerita yang menunggu untuk diangkat.”

Kunjungan ini bukan sekadar inspeksi lokasi biasa. Jeong membawa serta kenangan akan kesuksesan besar yang pernah ia raih—sekaligus sebuah janji yang membuat para penggemar horor Tanah Air menahan napas.

Kilas Balik Kesuksesan Gonjiam dan Rumah Sakit Angker

Lima tahun silam, nama Jeong Beom-sik melejit berkat film horor yang mengisahkan eksplorasi sekelompok pemuda ke rumah sakit jiwa Gonjiam yang legendaris di Korea. Film tersebut bukan hanya mendulang pujian kritikus, tetapi juga mencatat sejarah box office dengan pendapatan fantastis. Lebih dari itu, Gonjiam berhasil membangkitkan kembali genre found footage horor di Asia dengan sentuhan psikologis yang mencekam.

Keberhasilan itu tidak lepas dari kepiawaian Jeong dalam meramu suasana mencekam tanpa bergantung pada efek khusus yang berlebihan. Ia selalu percaya bahwa kengerian sejati lahir dari imajinasi penonton yang dipantik oleh suasana dan suara. Prinsip inilah yang membawanya kini menatap Indonesia sebagai kanvas baru. Baginya, setiap sudut gelap di negeri ini adalah undangan untuk berkisah.

Misi Baru: Menemukan Lokasi Angker di Nusantara

Kedatangan Jeong ke Indonesia bukan sekadar lawatan biasa. Ia bersama tim kecilnya telah mengunjungi beberapa lokasi yang dianggap memiliki sejarah kelam, mulai dari gedung tua di Semarang hingga bekas rumah sakit di Bandung. Setiap tempat memberinya inspirasi yang berbeda. Namun ada satu syarat yang ia pegang teguh: keaslian suasana harus tetap dijaga.

“Saya tidak ingin membuat film horor yang steril,” tegasnya saat ditemui di sela-sela kunjungannya. “Penonton harus merasakan bahwa apa yang mereka tonton benar-benar terjadi di tempat yang hidup, bukan sekadar set buatan.”

Obsesinya pada kejujuran lokasi itulah yang membuat para produser lokal mulai menyadari bahwa sutradara ini tidak akan berkompromi. Dan ia punya alasan kuat di balik semua tuntutannya.

Syarat Khusus demi Kengerian yang Otentik

Dalam diskusi dengan sejumlah produser lokal, Jeong menyampaikan beberapa prasyarat jika proyek syuting horor di Indonesia benar-benar terwujud. Pertama, lokasi syuting harus asli bangunan bersejarah yang belum banyak tersentuh renovasi modern. “Saya ingin dinding yang menyimpan memori, lantai yang berderit alami, dan jendela yang berbisik saat angin lewat,” ucapnya puitis.

Kedua, ia menginginkan para pemain yang tidak sekadar berakting takut, melainkan benar-benar masuk ke dalam karakter dengan kedalaman emosi. Ia berencana menggelar proses karantina ala Gonjiam di mana para aktor menjalani isolasi di lokasi syuting beberapa hari sebelum pengambilan gambar dimulai. Sutradara itu mengenang betapa para pemain Gonjiam benar-benar mengalami malam-malam panjang tanpa tidur di lokasi rumah sakit yang konon berhantu. Air mata dan jeritan yang terekam di film, sebagian besar bukan akting belaka.

“Ketakutan itu harus jujur, tidak dibuat-buat,” imbuhnya. “Dan untuk itu, kami butuh aktor yang berani menghadapi ketakutan mereka sendiri.”

Harapan Kolaborasi dengan Sineas Lokal

Lebih dari sekadar syuting, Jeong mengaku ingin menjalin kolaborasi dengan para sineas muda Indonesia. Ia melihat potensi besar dalam industri film horor Tanah Air yang kaya akan cerita rakyat dan urban legend. “Kalian punya mitos-mitos yang sangat kuat, dari leak Bali hingga kuntilanak. Itu harta karun yang belum banyak tergarap secara maksimal di layar lebar,” katanya sambil tersenyum.

Rencananya, ia akan menggandeng penulis skenario dan sinematografer lokal untuk memberikan warna autentik dalam produksi. Bukan sekadar mengambil latar Indonesia, tetapi juga menggali akar budaya dan kengerian khas Nusantara. Baginya, kolaborasi ini adalah jalan agar cerita yang lahir tidak hanya menyeramkan, tetapi juga menyentuh hati penonton lokal.

Perjalanan Panjang Menuju Mimpi

Di balik antusiasmenya, Jeong Beom-sik menyadari bahwa mewujudkan proyek ini bukanlah perkara mudah. Mulai dari perizinan lokasi yang berbelit hingga penyesuaian regulasi perfilman antara dua negara menjadi tantangan tersendiri. Namun ia tetap optimis. “Setiap film horor yang saya buat selalu dimulai dari ketidakpastian,” ungkapnya. “Tapi justru di situlah letak magisnya. Sama seperti kita masuk ke rumah sakit angker, kita tidak pernah tahu apa yang menanti. Tapi kita tetap melangkah.”

Di ujung pertemuan, ketika mentari mulai tenggelam di balik gedung tua itu, Jeong Beom-sik menatap langit dan berbisik, “Saya percaya Indonesia punya banyak kamar gelap yang siap bercerita. Tinggal kita berani memutar kuncinya atau tidak.” Bagi para penggemar horor di Tanah Air, janji ini adalah secercah harapan bahwa suatu hari nanti, layar bioskop akan dihiasi oleh kengerian khas Korea yang berbalut atmosfer Nusantara. Dan Jeong, dengan syarat-syarat yang ia ajukan, seakan berbisik bahwa mimpi itu akan hadir dalam wujud yang paling otentik.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User