Sutradara Gonjiam Sambut Hangat Adaptasi Film Horor 402 Rumah Sakit

Di sebuah ruang sunyi di Seoul, seorang pria paruh baya duduk di depan layar laptop. Matanya tak berkedip. Di hadapannya, adegan demi adegan dari sebuah rumah sakit terbengkalai bergulir—bukan Gonji...

Jul 12, 2026 - 07:53
0 0
Sutradara Gonjiam Sambut Hangat Adaptasi Film Horor 402 Rumah Sakit

Di sebuah ruang sunyi di Seoul, seorang pria paruh baya duduk di depan layar laptop. Matanya tak berkedip. Di hadapannya, adegan demi adegan dari sebuah rumah sakit terbengkalai bergulir—bukan Gonjiam yang pernah ia ciptakan, melainkan versi Indonesia yang dihidupkan oleh tangan sutradara lain. Senyum tipis mengembang di wajah Jung Bum-shik. Ada sesuatu yang menggetarkan: rasa haru, bangga, dan mungkin sedikit cemas. Bagaimana tidak? Karya yang dulu ia bangun dengan susah payah, kini menjelma di negeri yang belum pernah ia kunjungi.

Itulah momen ketika Jung Bum-shik menyaksikan cuplikan pertama 402 Rumah Sakit Angker Korea, adaptasi bebas dari film horor legendarisnya, Gonjiam: Haunted Asylum. Bukan sekadar daur ulang, adaptasi ini digarap oleh Anggy Umbara, sutradara yang punya nyali besar menafsir ulang horor Korea dalam bingkai budaya Indonesia. “Saya melihatnya sebagai surat cinta dari Indonesia untuk horor Korea,” ujar Jung dalam percakapan virtual yang hangat, beberapa waktu lalu. Suaranya tenang, tapi ada getar emosi yang sulit disembunyikan.

Ketika Dua Dunia Horor Bertemu

Perjalanan menuju momen itu tidaklah singkat. Jung Bum-shik mengisahkan bahwa ketika pertama kali mendengar kabar adaptasi ini, ia merasa was-was. Gonjiam bukan sekadar film baginya; itu adalah hasil riset bertahun-tahun tentang rumah sakit jiwa terbengkalai di Korea Selatan. Lokasi yang angker, kisah-kisah urban legend, dan ketakutan kolektif masyarakat Korea ia ramu menjadi satu. “Saya tidak pernah bermimpi film ini akan melampaui batas negara,” katanya, mengenang.

Namun, ketika Anggy Umbara menghubunginya lewat produser, semua keraguan mulai mencair. Jung melihat keseriusan tim produksi Indonesia untuk menghormati akar horor Gonjiam, sekaligus berani menyuntikkan elemen lokal. “Mereka tidak sekadar menyalin. Mereka mengadaptasi dengan hati,” ucap Jung, memuji. Dalam 402 Rumah Sakit Angker Korea, nuansa mistis Indonesia yang kental justru memperkaya teror psikologis yang menjadi ciri khas Gonjiam. “Rumah sakit itu kini punya dua jiwa: Korea dan Indonesia.”

Perjalanan Emosional Sang Sutradara

Ada satu adegan yang membuat Jung Bum-shik tertegun. Di layar, ia menyaksikan karakter utama masuk ke koridor gelap, dengan lantunan gamelan pelan di latar. “Bulu kuduk saya merinding. Bukan karena takut, tapi karena saya merasa film saya dihidupkan kembali dengan napas baru,” kenangnya. Momen mengharukan itu, katanya, adalah bukti bahwa horor bisa menjadi bahasa universal.

Jung lalu berkisah tentang perjuangannya saat menggarap Gonjiam. Ia ingat betul hari-hari syuting yang melelahkan, ketika kru harus bekerja di lokasi yang benar-benar angker. “Kami bukan hanya berakting takut; kami benar-benar takut,” ujarnya sambil tertawa kecil. Pengalaman itulah yang ia harap bisa tersampaikan lewat adaptasi Indonesia. “Saya ingin penonton Indonesia merasakan ketakutan yang sama, tapi juga punya ikatan emosional dengan ceritanya.”

Hal yang paling menyentuh hati Jung adalah ketika ia menerima pesan dari Anggy Umbara. “Dia bilang, ‘Kami ingin menghormati ibu dari film ini’. Saya terharu.” Ungkapan sederhana itu menjadi fondasi kolaborasi tak langsung di antara dua sutradara yang berbeda benua. Bagi Jung, inilah esensi perfilman: menyeberangi sekat-sekat geografis dan budaya.

Harapan di Balik Layar

Meski belum bisa memastikan apakah ia akan terbang ke Jakarta saat film tayang, Jung Bum-shik menyimpan harapan besar. Ia ingin penonton Indonesia menikmati 402 Rumah Sakit Angker Korea dengan perspektif segar. “Saya percaya Anggy dan timnya telah melahirkan sesuatu yang jujur dan berani. Saya bangga menjadi bagian dari perjalanan ini,” tuturnya.

Di balik layar, adaptasi ini juga menjadi cermin bagi Jung untuk merefleksikan kariernya. “Sewaktu muda, saya hanya ingin membuat film yang menakutkan. Sekarang, saya sadar bahwa ketakutan bisa menyatukan orang-orang dari latar yang berbeda,” ucapnya. Bagi sutradara yang rendah hati ini, karya bukanlah milik mutlak seorang kreator. Setelah dilempar ke publik, ia menjadi milik siapa saja yang tersentuh—bahkan hingga ke Indonesia.

Saat sesi perbincangan hampir berakhir, Jung Bum-shik menatap kamera dengan mata berbinar. Ia mengucapkan satu kalimat dalam bahasa Indonesia yang sudah ia latih: “Terima kasih.” Sederhana, namun penuh arti. Seperti dua film horor yang berbeda, yang kini berbagi satu nafas di gelap bioskop.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User