Di sebuah kediaman sederhana di kawasan Jakarta Selatan, seorang penyanyi yang namanya dikenal jutaan orang menatap layar ponselnya tanpa sepatah kata pun. Di sana, sebuah video pendek memperlihatkan hamparan hutan Kalimantan yang diselimuti asap tebal, diiringi suara kicau burung yang perlahan meredup. Air matanya jatuh diam-diam. Sejak malam itu, ia memutuskan untuk tidak lagi hanya diam menyaksikan bumi yang tengah berduka.
Peristiwa kebakaran hutan dan lahan, atau yang akrab disebut karhutla, kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, bukan hanya pegiat lingkungan yang lantang bersuara. Sejumlah artis Indonesia berbondong-bondong menyuarakan keprihatinan mereka, menyerukan penanganan yang lebih serius terhadap bencana yang hampir setiap tahun datang menghampiri.
Suara yang Menggema dari Panggung ke Panggung
Gelombang kepedulian itu bermula dari unggahan-unggahan sederhana. Seorang aktris membagikan foto langit kota yang berubah kelabu; seorang musisi menuliskan lirik pendek tentang rindu pada udara bersih; seorang komedian bercerita tentang keluarganya di Kalimantan yang kesulitan bernapas. Meski datang dari latar yang berbeda, pesan mereka sama: hutan bukan hanya milik pemerintah, melainkan warisan yang harus dijaga bersama.
Di atas panggung sebuah konser amal di akhir pekan lalu, seorang penyanyi folk menahan tangis saat mengenang perjalanannya menyusuri Sungai Mahakam beberapa tahun silam. Ia mengisahkan bagaimana ia pernah terpukau oleh kawanan bekantan yang melompat di antara pepohonan, sebelum akhirnya menyaksikan pemandangan yang sama berubah menjadi abu. “Kalau bukan kita yang bersuara, siapa lagi?” ujarnya di hadapan ribuan penonton. Kalimat itu disambut tepuk tangan panjang, bahkan sebagian penonton ikut menitikkan air mata.
Di panggung lain, seorang penyanyi pop menutup penampilannya dengan sebuah lagu tentang hutan yang ia tulis khusus untuk peristiwa ini. Lampu panggung meredup, layar raksasa menampilkan potret asap yang membubung di atas cakrawala Kalimantan. Penonton berdiri dalam hening, sebagian menutup wajah dengan kedua tangan, larut dalam momen yang terasa jauh dari sekadar hiburan.
Mimpi yang Ikut Terbakar
Kepedulian para artis tidak lahir dari ruang hampa. Banyak di antara mereka tumbuh dengan cerita-cerita tentang Kalimantan yang hijau: hutan yang menjadi rumah bagi orang utan, sungai yang menjadi urat nadi kehidupan, serta masyarakat adat yang menjaga rimba selama ratusan tahun. Ketika asap tebal menelan semua itu, yang mereka rasakan bukan sekadar kabar buruk, melainkan kehilangan.
Seorang aktris yang kerap tampil dalam film-film drama mengaku pertama kali menangis ketika melihat video seekor orang utan yang kelelahan mencari tempat berlindung dari kepungan api. “Itu bukan hanya soal lingkungan. Itu soal makhluk hidup yang kehilangan rumahnya, sama seperti kita kehilangan tempat tinggal,” tuturnya dengan suara bergetar.
Di balik layar, para artis itu tidak hanya berbicara. Sebagian dari mereka menggalang dana, mengirimkan bantuan masker dan alat pemadam ringan ke daerah terdampak, serta berdiskusi dengan pegiat lingkungan untuk memahami akar persoalan. Mereka sadar, sebuah unggahan di media sosial tidak akan memadamkan api. Namun mereka percaya, suara publik yang besar dapat mendorong perubahan kebijakan yang selama ini berjalan lambat.
Kekompakan ini pun mendapat sambutan hangat dari para pegiat lingkungan. Mereka menilai, kehadiran nama-nama besar di tengah isu karhutla mampu membuka mata publik yang selama ini abai terhadap bencana yang terjadi jauh dari kota-kota besar, sekaligus mengingatkan bahwa kebakaran hutan bukanlah persoalan yang bisa diselesaikan setengah hati.
Harapan di Tengah Asap
Hujan yang turun beberapa hari terakhir membawa secercah harapan. Namun para artis mengingatkan, pemadaman api bukanlah akhir dari perjalanan. Yang jauh lebih penting, menurut mereka, adalah mencegah agar peristiwa serupa tidak terulang setiap tahun, dengan memperkuat penegakan hukum, memulihkan lahan gambut, dan melibatkan masyarakat setempat sebagai garda terdepan.
“Kami bukan pahlawan. Pahlawan sejati adalah para petugas pemadam, relawan, dan masyarakat adat yang bertahan di sana,” kata seorang musisi yang selama sepekan terakhir aktif mengampanyekan kesadaran lingkungan. “Kami hanya ingin memastikan perjuangan mereka tidak berjalan sendiri.”
Kisah para artis ini menyentuh banyak orang bukan karena kemewahan nama besar mereka, melainkan karena kejujuran perasaan yang mereka bagikan. Di tengah hingar-bingar dunia hiburan yang seringkali terasa jauh dari persoalan nyata, mereka membuktikan bahwa kepedulian bisa hadir dari mana saja, termasuk dari panggung, studio rekaman, dan layar kaca.
Perjalanan menyelamatkan hutan Kalimantan masih panjang. Namun ketika semakin banyak suara yang berani bangkit, harapan itu menjadi sedikit lebih terang — seperti cahaya yang perlahan menembus asap, mengingatkan bahwa masih ada banyak orang yang percaya pada masa depan yang lebih hijau.
Comments (0)