Oct 12, 2026
entertainment

Shelyn, Gadis 8 Tahun Pemukul Drum dari Tanah Papua

Di sebuah ruang tamu berukuran tak lebih dari 4x5 meter di sebuah kota kecil di Papua, terdengar dentuman ritmis yang memecah keheningan sore. Bukan suara hujan, bukan pula bunyi peralatan rumah tangg...

Shelyn, Gadis 8 Tahun Pemukul Drum dari Tanah Papua

Di sebuah ruang tamu berukuran tak lebih dari 4x5 meter di sebuah kota kecil di Papua, terdengar dentuman ritmis yang memecah keheningan sore. Bukan suara hujan, bukan pula bunyi peralatan rumah tangga. Itu adalah irama drum yang dimainkan oleh sepasang tangan mungil milik Shelyn Adlyani, seorang gadis berusia delapan tahun. Di sudut ruangan itu, duduk sebuah drum set sederhana — mungkin bukan yang termahal, tetapi cukup untuk membuat mata Shelyn berbinar setiap kali tongkat kayu di tangannya menyentuh permukaan membran drum.

Shelyn bukanlah anak yang tumbuh besar di lingkungan musik. Ia hanyalah anak biasa yang bersekolah di sekolah dasar, bermain dengan teman sebaya, dan sesekali membantu ibunya berjualan kue di depan rumah. Namun, ada satu hal yang membuatnya berbeda: kecintaannya pada drum. Sebuah kecintaan yang, menurut ibunya, muncul secara tak terduga ketika Shelyn masih berusia lima tahun.

“Waktu itu ada acara musik di gereja. Shelyn kecil cuma diam, matanya terus menatap ke arah pemain drum. Pulangnya, dia langsung bilang, ‘Mama, Shelyn mau main drum,’” kenang sang ibu dengan suara bergetar. “Saya dan bapaknya cuma bisa saling pandang. Kami bukan keluarga yang punya banyak uang. Tapi melihat mata Shelyn yang begitu bersinar, kami tidak tega untuk bilang tidak.”

Perjuangan di Balik Set Drum Pertama

Membeli satu set drum bukanlah perkara mudah bagi keluarga Shelyn. Ayahnya bekerja sebagai buruh bangunan, sementara ibunya hanya mengandalkan penghasilan dari berjualan kue. Namun, tekad Shelyn untuk belajar drum begitu besar. Setiap kali melihat drum di toko musik, ia selalu berhenti dan menatapnya lama, seolah sedang berbicara dengan alat musik itu.

“Shelyn pernah bilang, ‘Mama, Shelyn tidak butuh mainan mahal. Shelyn cuma butuh drum.’ Kalimat itu yang membuat saya dan bapaknya memutuskan untuk menabung,” ujar sang ibu sambil menyeka sudut matanya. Butuh waktu hampir satu tahun bagi keluarga kecil itu untuk mengumpulkan uang. Mereka mengurangi pengeluaran, menunda membeli barang-barang baru, dan sesekali mendapat bantuan dari tetangga yang terharu melihat kegigihan Shelyn.

Akhirnya, pada ulang tahun Shelyn yang keenam, sebuah set drum bekas layak pakai tiba di rumah mereka. Shelyn tidak bisa menahan air matanya. Ia memeluk drum itu erat-erat, seolah tak ingin melepaskannya. “Shelyn bilang, ‘Terima kasih, Mama. Shelyn akan jadi drummer hebat,’” kenang ibunya.

Belajar Sendiri di Tengah Keterbatasan

Shelyn tidak pernah mengikuti kursus drum formal. Biaya les yang mahal membuatnya harus belajar secara otodidak. Ia menonton video tutorial di ponsel milik ayahnya, meniru gerakan tangan para drummer terkenal, dan berlatih berjam-jam setiap hari. Kadang, ia harus menahan sakit di pergelangan tangan karena terus memukul drum.

“Shelyn itu keras kepala kalau soal latihan. Kalau ada gerakan yang belum bisa, dia nggak mau berhenti sampai bisa,” kata seorang tetangga yang sering mendengar suara drum dari rumah Shelyn. “Kadang kami semua ikut bangun pagi karena dia sudah mulai latihan jam lima pagi.”

Di sekolah, Shelyn dikenal sebagai anak yang pendiam. Namun, ketika ia duduk di belakang drum, kepribadiannya berubah total. Ia menjadi percaya diri, energik, dan penuh semangat. Guru-gurunya pun kagum dengan bakat yang dimiliki gadis kecil itu.

Mimpi yang Terus Dipukul Hingga Nyata

Saat ini, Shelyn sudah beberapa kali tampil di acara-acara lokal, seperti perayaan hari kemerdekaan dan acara gereja. Penampilannya selalu berhasil memukau penonton. Banyak yang tidak menyangka bahwa anak seusianya bisa memainkan drum dengan begitu lincah dan penuh perasaan.

“Saya pernah lihat Shelyn main drum di acara sekolah. Saya sampai merinding. Dia mainnya bukan cuma asal pukul, tapi ada jiwanya,” ujar salah satu penonton yang hadir saat itu.

Meski begitu, Shelyn tidak pernah sombong. Ia tetap anak yang sederhana dan penuh kasih sayang kepada keluarganya. Setiap kali mendapat uang saku lebih, ia sering menyisihkannya untuk membeli stik drum baru atau memperbaiki bagian drumnya yang rusak.

“Shelyn punya mimpi besar. Dia ingin suatu hari bisa main drum di panggung besar, mewakili Papua. Dia ingin menunjukkan bahwa anak dari kampung juga bisa punya mimpi,” ujar ibunya dengan bangga. “Kami hanya bisa mendukung dan mendoakan. Selebihnya, Shelyn yang akan berjuang.”

Kisah Shelyn Adlyani adalah pengingat bahwa bakat tidak memandang usia, latar belakang, atau kondisi ekonomi. Di balik set drum sederhana yang berdiri di sudut ruang tamu, ada mimpi besar yang terus dipukul setiap hari. Shelyn mungkin masih kecil, tetapi semangatnya sudah menggetarkan banyak hati. Ia adalah bukti bahwa dari tempat paling sederhana, suara paling nyaring bisa lahir — asalkan kita berani bermimpi dan terus berjuang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS eko-saputra

Reporter Gadget. Review smartphone, laptop, dan consumer tech.

Comments (0)

User