Di dapur berukuran tak lebih dari tiga kali tiga meter itu, aroma pandan dan gula merah menyeruak pelan, bercampur dengan hangatnya santan yang baru saja dimasak. Nenek Sumarni, perempuan berusia 68 tahun, mengaduk perlahan campuran agar-agar di atas kompor. Tangannya yang keriput namun cekatan itu seolah hafal setiap gerakan—tidak terburu-buru, tidak pula ragu. Baginya, memasak puding santan gula merah bukan sekadar rutinitas dapur, melainkan ritual yang menghubungkan ia dengan kenangan panjang keluarganya.
“Dulu ibu saya yang mengajari resep ini. Katanya, puding itu makanan orang sabar. Kalau terburu-buru, santannya pecah, gula merahnya pahit,” ujarnya sambil tersenyum tipis, suaranya serak namun hangat. Ia lalu menuang adonan ke dalam loyang brownies kesayangannya—cetakan tua yang sisi-sisinya sudah tergores puluhan tahun pemakaian.
Puding santan gula merah memang bukan hidangan mewah. Ia lahir dari bahan-bahan sederhana yang hampir selalu ada di dapur rumah tangga Indonesia: santan kelapa, gula merah, agar-agar, sedikit garam, dan selembar daun pandan. Namun di balik kesederhanaannya, hidangan ini menyimpan lapisan rasa yang kompleks—gurih dari santan, manis legit dari gula aren, dan wangi pandan yang menenangkan. Tak heran bila ia kerap hadir di meja-meja pertemuan, syukuran, hingga acara arisan keluarga.
Perjalanan Rasa yang Tak Pernah Lekang
Menelusuri sejarahnya, puding berbahan dasar agar-agar sebenarnya merupakan pengaruh budaya luar yang tiba di Nusantara melalui jalur perdagangan. Namun masyarakat setempat lantas memodifikasinya dengan bahan-bahan lokal. Gula merah—yang di berbagai daerah dikenal sebagai gula aren atau gula jawa—menjadi jiwa dari hidangan ini. Proses pembuatannya pun tergolong unik: gula merah disisir halus, lalu direbus bersama air hingga larut, sebelum akhirnya disaring untuk membuang kotoran dan sisa-sisa seratnya.
Sementara itu, santan diperoleh dari parutan kelapa tua yang diperas dengan air hangat. Kunci kelezatannya terletak pada keseimbangan: santan tidak boleh terlalu kental, sebab bisa membuat puding berat dan mudah pecah. Sebaliknya, bila terlalu encer, rasa gurihnya akan hilang tertelan manisnya gula.
“Yang paling saya ingat dari ibu saya adalah pesannya: jangan pernah mengukur cinta dari banyaknya gula. Ukurlah dari kesabaran saat mengaduknya.” — Sumarni, 68 tahun
Di tangan Sumarni, adonan itu kemudian dibagi menjadi dua lapisan. Lapisan pertama adalah campuran agar-agar bening dengan air gula merah yang telah disaring. Lapisan kedua adalah santan yang dimasak bersama sedikit garam dan daun pandan. Saat menuang lapisan kedua, ia menunggu hingga lapisan pertama sedikit mengeras—teknik yang ia pelajari dari ibunya agar kedua lapisan tidak bercampur.
Momen Mengharukan di Balik Loyang Tua
Loyang aluminium itu sendiri menyimpan kisah. Sumarni mengaku mendapatkannya sebagai hadiah pernikahan dari almarhum suaminya, Pak Rahmat, pada 1978. “Waktu itu kami belum punya apa-apa. Beliau bilang, ‘Ini buat kamu bikin puding, biar rumah kita selalu wangi,’” kenangnya. Sejak itu, loyang tersebut tak pernah absen digunakan, termasuk saat anak-anak mereka masih kecil, hingga kini ketika cucu-cucunya berkumpul setiap akhir pekan.
Bagi Sumarni, puding santan gula merah adalah cara ia merawat memori. Setiap kali ia mengiris puding yang telah mengeras, ia seperti mengiris lapisan waktu—mengingat tawa anak-anaknya, kehangatan dapur rumah kontrakan, dan doa-doa yang ia bisikkan pelan sambil menunggu air mendidih.
Kini, tradisi itu ia teruskan kepada cucunya, Alya, 21 tahun, yang tengah kuliah di kota lain. Melalui panggilan video, Alya belajar mengaduk adonan, meski sering kali terlalu cepat. “Nenek selalu bilang, ‘Pelan-pelan, Nak. Hidup ini bukan lomba,’” cerita Alya sambil tertawa. Baginya, puding nenek bukan hanya hidangan penutup, tetapi juga pelajaran hidup yang dikemas dalam rasa manis.
Inspirasi Sederhana dari Dapur Rumah
Di tengah maraknya dessert modern dengan tampilan mengilap dan harga selangit, puding santan gula merah tetap punya tempat istimewa. Ia hadir di warung-warung tradisional, pasar pagi, hingga meja-meja rapat keluarga. Kehadirannya sederhana, namun selalu dinanti. Mungkin karena di dalamnya terkandung sesuatu yang tak bisa dibeli: kenangan, kesabaran, dan cinta yang dituangkan tanpa takaran.
Sumarni menutup ceritanya dengan satu harapan kecil. “Saya ingin cucu-cucu saya tetap bikin puding ini, walau saya sudah tidak ada. Biar mereka ingat, makanan paling enak itu yang dibuat dengan tenaga sendiri,” ujarnya lirih. Di atas meja, puding itu telah mengeras sempurna—warnanya cokelat kemerahan, memantulkan cahaya lampu dapur yang temaram, siap dipotong dan disantap bersama keluarga.
Comments (0)