Di balik gemerlap panggung dan sorotan kamera, Shakira berdiri sebagai seorang ibu yang tengah berjuang untuk hal paling sederhana namun paling berharga: waktu bersama anak-anaknya. Bukan tentang album, bukan tentang tur dunia, melainkan tentang dua bocah kecil yang harus terus berpindah dari satu benua ke benua lain, dari Amerika Serikat ke Spanyol, mengikuti jadwal kunjungan yang telah ditetapkan pengadilan.
Dalam dokumen hukum yang diajukan ke pengadilan, penyanyi berusia 47 tahun itu memohon penyesuaian aturan kunjungan mantan pasangannya, Gerard Piqué, terhadap kedua putra mereka. Bukan untuk menjauhkan sang ayah dari anak-anaknya, melainkan untuk menghentikan perjalanan bolak-balik yang melelahkan dan menguras energi dua anak yang masih belia.
"Setiap kali mereka harus naik pesawat, aku melihat mata mereka yang lelah. Mereka masih kecil, tetapi mereka sudah tahu apa artinya berpindah-pindah," ujar Shakira dalam sebuah pernyataan yang dibacakan tim kuasa hukumnya, seperti dikutip dari dokumen pengadilan.
Ketika Cinta Harus Dibagi Dua Benua
Sejak perpisahannya dengan Piqué pada 2022, Shakira memilih menetap di Miami, Amerika Serikat, bersama putra-putranya, Milan dan Sasha. Sementara Piqué, mantan bek Barcelona itu, tetap tinggal di Spanyol. Jarak ribuan kilometer itu membuat anak-anak harus terbang melintasi Samudra Atlantik secara rutin demi menghabiskan waktu bersama sang ayah.
Perjalanan panjang itu bukan sekadar soal tiket pesawat dan jet lag. Ada beban emosional yang tidak kasat mata. Anak-anak kehilangan rutinitas, kehilangan waktu bermain dengan teman sekolah, dan kerap harus menyesuaikan diri dengan zona waktu yang berbeda dalam hitungan hari. Shakira mengisahkan bagaimana kedua putranya kerap tertidur di pesawat dengan wajah yang lelah, sementara ia hanya bisa menggenggam tangan mereka.
"Yang paling menyayat hati adalah ketika Sasha bertanya, 'Mama, kapan kita bisa tinggal di satu tempat saja?' Aku tidak tahu harus menjawab apa," kenang Shakira dalam wawancara yang menggambarkan perjuangannya sebagai ibu jarak jauh.
Perjuangan Seorang Ibu yang Tak Pernah Tampil di Panggung
Di balik layar, Shakira menjalani peran yang jarang tersorot kamera: bangun pagi menyiapkan sarapan, mengantar anak ke sekolah, menemani mereka belajar, lalu bekerja hingga larut malam. Ia mengaku tak ingin perceraian mengubah apa pun bagi anak-anaknya. Mereka tetap harus merasa dicintai, meski kedua orangtuanya kini hidup terpisah.
Namun, ia menyadari ada batas pada tubuh dan jiwa anak-anak. Perjalanan rutin lintas benua membuat mereka rentan terhadap kelelahan dan stres. Karena itu, melalui pengacara, ia meminta pengadilan menetapkan jadwal kunjungan yang lebih teratur, lebih realistis, dan lebih berpihak pada kesejahteraan anak.
"Bukan aku tak ingin mereka bertemu ayahnya. Aku hanya ingin waktu itu datang dalam bentuk yang lebih baik, bukan dengan mengorbankan kesehatan mereka," ujar Shakira, dikutip dari pernyataan resmi yang disampaikan kepada media.
Harapan Kecil untuk Anak yang Besar
Kisah Shakira adalah cermin bagi banyak orangtua di dunia yang harus berbagi cinta dalam dua rumah, dua negara, dua zona waktu. Perjuangannya bukan tentang siapa yang menang atau kalah dalam pengadilan, melainkan tentang dua anak yang berhak tumbuh dengan tenang.
Ia berharap keputusan pengadilan nanti bisa mempertimbangkan sisi manusiawi dari setiap perjalanan. Bukan sekadar angka, bukan sekadar jadwal, tetapi tentang dua bocah yang ingin bisa bermain di satu taman tanpa harus mengemas koper setiap bulan.
"Mimpiku sederhana. Aku ingin anak-anak bangun di tempat yang sama setiap pagi, tumbuh di lingkungan yang mereka kenal, dan tetap merasakan cinta kedua orangtuanya," tutup Shakira dengan nada yang lebih mirip doa daripada pernyataan.
Di tengah hiruk-pikuk dunia hiburan, kisah ini menyentuh sisi paling dasar dari kemanusiaan: seorang ibu yang berjuang agar anak-anaknya tetap punya tempat untuk pulang.
Comments (0)