Oct 13, 2026
entertainment

Jalan Baru Menuju Tanjung Lesung, Harapan Baru bagi Warga Pesisir

Di sebuah warung kopi sederhana di tepi Jalan Raya Pandeglang, seorang pria paruh baya bernama Hadi menatap layar ponselnya dengan mata berbinar. Kabar yang baru saja ia baca membuatnya tersenyum leba...

Jalan Baru Menuju Tanjung Lesung, Harapan Baru bagi Warga Pesisir

Di sebuah warung kopi sederhana di tepi Jalan Raya Pandeglang, seorang pria paruh baya bernama Hadi menatap layar ponselnya dengan mata berbinar. Kabar yang baru saja ia baca membuatnya tersenyum lebar. Mulai 3 Oktober 2026, bus DAMRI akan melayani rute langsung dari Bandara Soekarno Hatta menuju Tanjung Lesung. Bagi Hadi, yang telah puluhan tahun menggantungkan hidup dari sektor pariwisata di kawasan pantai barat Banten itu, berita ini terasa seperti oase di tengah padang gurun.

"Selama ini tamu-tamu yang datang ke sini kebanyakan rombongan atau sewa mobil sendiri. Kalau ada bus langsung dari bandara, alhamdulillah, itu mimpi yang lama kami tunggu," ujarnya dengan suara bergetar, mengisahkan perjuangan panjang warga Tanjung Lesung yang sempat terpuruk setelah bencana tsunami 2018 silam.

Ketika Akses Menjadi Penentu Nasib

Perjalanan menuju Tanjung Lesung selama ini memang menjadi tantangan tersendiri. Dari Jakarta, wisatawan harus menempuh perjalanan darat selama empat hingga lima jam, melewati jalan berkelok yang belum sepenuhnya mulus. Bagi wisatawan mancanegara yang baru mendarat di Soekarno Hatta, harus berpindah moda transportasi dua hingga tiga kali sebelum akhirnya tiba di kawasan pantai yang terkenal dengan panorama Gunung Anak Krakatau itu.

Kondisi itulah yang membuat Tanjung Lesung seperti permata yang tersembunyi terlalu dalam. Potensinya luar biasa, namun aksesnya seringkali membuat orang berpikir dua kali. "Banyak tamu asing cerita ke saya, mereka sebenarnya sudah dengar tentang keindahan sini dari teman-temannya. Tapi begitu tahu harus ganti angkutan berkali-kali, banyak yang akhirnya memilih ke Bali atau Yogya," tutur Sari, seorang pemilik penginapan kecil di kawasan Pantai Tanjung Lesung.

"Kalau ada bus langsung dari bandara, alhamdulillah, itu mimpi yang lama kami tunggu." — Hadi, warga Tanjung Lesung

Lebih dari Sekadar Transportasi

Keputusan membuka rute ini bukan sekadar menambah daftar trayek angkutan umum. Di baliknya, ada harapan besar bagi ratusan keluarga yang menggantungkan nafkah dari sektor wisata. Sejak pandemi dan tragedi tsunami yang menerjang akhir 2018, sebagian warga sempat beralih menjadi nelayan atau buruh bangunan untuk bertahan hidup. Kini, mereka kembali membangun mimpi.

"Saya pernah hampir menutup penginapan saya. Sepi sekali waktu itu. Air mata sudah tidak bisa ditahan lagi," kenang Rina, pemilik homestay yang memiliki enam kamar sederhana. "Tapi sekarang saya kembali berbenah. Kalau rute bus ini lancar, saya yakin tamu-tamu akan kembali berdatangan."

Rute DAMRI dari Bandara Soekarno Hatta menuju Tanjung Lesung ini menjadi angin segar tidak hanya bagi pelaku usaha penginapan, tetapi juga pedagang makanan, pemandu wisata, hingga para seniman lokal yang sering menggelar pertunjukan budaya di kawasan tersebut. Ekonomi kreatif yang sempat mati suri kini kembali bergairah.

Menghidupkan Kembali Denyut Pariwisata

Tanjung Lesung sendiri telah ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata sejak beberapa tahun lalu. Berbagai fasilitas mulai dibangun, mulai dari hotel berbintang, marina, hingga kawasan konservasi alam. Namun tanpa akses yang mudah, semua pembangunan itu seperti tubuh tanpa urat nadi yang menghubungkannya ke jantung.

"Dengan adanya transportasi langsung dari bandara, kami optimistis jumlah kunjungan bisa meningkat signifikan. Ini bukan hanya soal angka, tapi soal kehidupan orang banyak," ujar seorang pengelola kawasan wisata setempat. Ia berharap rute ini dapat beroperasi secara konsisten, bukan hanya sebagai program sesaat.

Bagi warga seperti Hadi, rute bus ini lebih dari sekadar kemudahan transportasi. Ia adalah simbol kebangkitan, tanda bahwa Tanjung Lesung perlahan pulih dari luka lama. "Saya tidak minta banyak. Cukup bus ini jalan terus, tamu datang, dan kami bisa berjuang lagi dengan tenang," katanya sambil menatap ke arah pantai yang membiru di kejauhan.

Di sudut lain kawasan, seorang pemuda bernama Dika sedang menyiapkan perahu untuk wisata mangrove. Ia baru saja mendengar kabar tersebut dari grup WhatsApp komunitas pariwisata. "Ini inspirasi baru buat kami anak muda. Kalau aksesnya bagus, kami punya alasan untuk tetap tinggal di sini, tidak perlu merantau ke kota," ucapnya penuh semangat.

Perjalanan dari bandara menuju Tanjung Lesung memang baru akan dimulai 3 Oktober 2026. Namun bagi mereka yang telah lama menanti, tanggal itu bukan sekadar jadwal keberangkatan. Ia adalah momen mengharukan yang menandai babak baru dalam perjalanan sebuah kawasan yang pernah nyaris kehilangan harapannya. Di balik layar kesuksesan pariwisata, selalu ada kisah manusia yang berjuang, bangkit, dan percaya bahwa pantai barat Banten masih menyimpan cahaya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User