Aug 25, 2026
entertainment

Sepiring Nasi Briyani dari Rice Cooker Tua dan Rindu yang Pulang

Pukul lima pagi, di dapur mungil berukuran 2x3 meter di sebuah rumah petak di pinggiran Bekasi, aroma kayu manis dan cengkeh perlahan memenuhi udara. Ratna Wulandari (38) berdiri di depan rice cooker ...

Sepiring Nasi Briyani dari Rice Cooker Tua dan Rindu yang Pulang

Pukul lima pagi, di dapur mungil berukuran 2x3 meter di sebuah rumah petak di pinggiran Bekasi, aroma kayu manis dan cengkeh perlahan memenuhi udara. Ratna Wulandari (38) berdiri di depan rice cooker tuanya yang sudah belasan tahun menemaninya, menatap butiran beras basmati yang mulai mengembang kekuningan. Tangannya gemetar pelan saat membuka tutup panci itu. Harumnya persis seperti dapur almarhumah neneknya dulu.

Pagi itu, untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, Ratna berhasil menghadirkan kembali rasa yang selama ini hanya hidup dalam ingatannya: nasi briyani buatan sang nenek yang selalu menjadi bintang di meja makan keluarga setiap Lebaran tiba.

Rindu yang Mengendap di Dapur Kecil

Ratna mengisahkan, semasa kecilnya di kampung halaman di Tanah Datar, Sumatera Barat, nasi briyani adalah hidangan istimewa yang hanya muncul pada momen-momen besar. Neneknya akan bangun sebelum subuh, menumis rempah-rempah di atas tungku kayu, lalu memasak nasi dengan sabar hingga setiap butirnya menyerap sari bumbu.

"Nenek selalu bilang, briyani itu bukan sekadar nasi. Ini doa yang dimasak pelan-pelan. Setiap rempah ada maknanya," tutur Ratna dengan mata berkaca-kaca.

Ketika sang nenek berpulang tujuh tahun silam, Ratna merasa kehilangan lebih dari sekadar sosok yang dicintainya. Ia kehilangan rasa. Pernikahannya dengan pria asal Jawa membawanya merantau ke Bekasi, dan di sanalah kerinduan itu semakin mengendap — terutama setiap kali Ramadan tiba dan ia melihat anak-anaknya hanya mengenal briyani dari bungkusan restoran cepat saji.

"Saya ingin anak-anak saya tahu, briyani yang sesungguhnya itu seperti apa. Yang dimasak dengan tangan, bukan yang dibeli," ujarnya lirih.

Berjuang dengan Rice Cooker Tua

Perjalanan Ratna menghidupkan kembali resep keluarga itu tidak mudah. Di dapur sederhananya, tidak ada tungku kayu seperti milik neneknya. Tidak ada pula periuk tanah liat besar. Yang ia punya hanyalah sebuah rice cooker tua bermodal tombol cook dan warm yang bahkan catnya sudah mengelupas.

Percobaan pertama berakhir dengan nasi yang gosong di dasar panci. Percobaan kedua, nasinya terlalu lembek karena takaran air yang keliru. Percobaan ketiga, rempahnya pahit karena ia menumis terlalu lama. Suaminya sempat menyarankan untuk menyerah saja dan membeli di luar.

"Tapi saya tidak mau berhenti. Setiap gagal, saya ingat wajah nenek. Rasanya seperti beliau sedang menunggu saya berhasil," kenang Ratna.

Di balik layar kegigihan itu, Ratna mencatat setiap kegagalan di buku tulis bersampul biru. Takaran air, lama menumis, urutan memasukkan bumbu — semua ia dokumentasikan seperti seorang peneliti di laboratorium kecilnya sendiri.

Resep Sederhana yang Lahir dari Kegagalan

Setelah empat belas kali percobaan, Ratna akhirnya menemukan rumusnya. Ia menumis bawang merah, bawang putih, dan jahe hingga keemasan, lalu memasukkan kayu manis, cengkeh, kapulaga, dan bunga lawang hingga aromanya menyeruak. Beras basmati yang sudah dicuci dan direndam tiga puluh menit kemudian dimasukkan bersama santan encer, sedikit kunyit, dan kaldu ayam.

"Kuncinya di air. Untuk rice cooker, takarannya harus sedikit lebih sedikit dari masak nasi biasa, karena basmati tidak menyerap air sebanyak beras lokal," jelasnya bersemangat.

Tumisan bumbu dan beras lalu ia pindahkan ke rice cooker, ditekan tombol cook, dan dibiarkan hingga matang. Potongan ayam yang sudah dimasak terpisah dengan bumbu kari diletakkan di atasnya, ditaburi bawang goreng dan kismis. Saat tombol berpindah ke warm, Ratna membiarkannya lima menit lebih lama — trik kecil yang ia pelajari dari kegagalan ketujuhnya.

Air Mata di Meja Makan

Momen mengharukan itu tiba pada sebuah Minggu pagi. Ratna menyajikan briyani buatannya di meja makan, lengkap dengan acar mentimun dan kerupuk. Anak sulungnya yang berusia sebelas tahun mengambil suapan pertama, lalu terdiam sejenak sebelum berkata pelan, "Bu, ini enak banget."

"Saya menangis di depan mereka. Bukan karena nasinya enak, tapi karena akhirnya nenek bisa hadir lagi di meja makan kami. Lewat masakan ini," ucap Ratna, suaranya bergetar.

Kini, nasi briyani rice cooker ala Ratna menjadi hidangan wajib keluarganya setiap akhir bulan. Ia juga mulai membagikan resepnya kepada tetangga dan sesama perantau di kompleksnya — perempuan-perempuan yang, seperti dirinya, menyimpan kerinduan pada masakan kampung halaman namun terbatas pada peralatan sederhana.

Bagi Ratna, rice cooker tua itu bukan lagi sekadar alat masak. Ia adalah jembatan antara generasi, antara kampung halaman dan perantauan, antara kenangan dan harapan. Dari dapur mungil 2x3 meter itu, sebuah mimpi sederhana terus diwariskan — satu piring briyani dalam satu waktu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS andika-rivaldi

Reporter Fintech. Meliput payment gateway, bank digital, dan inklusi keuangan.

Comments (0)

User