Oct 10, 2026
entertainment

Sentuhan Lembut di Balik Bedak Tabur dan Kisah Perempuan yang Bangkit

Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, sebuah cermin bundar berdiri di atas meja rias kayu yang sudah tak lagi mengilap. Seorang perempuan duduk di depannya, menggenggam sebuah wadah kecil berisi b...

Sentuhan Lembut di Balik Bedak Tabur dan Kisah Perempuan yang Bangkit

Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter itu, sebuah cermin bundar berdiri di atas meja rias kayu yang sudah tak lagi mengilap. Seorang perempuan duduk di depannya, menggenggam sebuah wadah kecil berisi bedak tabur. Jemarinya bergerak perlahan, mengambil sedikit demi sedikit serbuk halus itu, lalu menepiskannya ke wajah dengan gerakan yang hampir seperti ritual. Bukan sekadar rutinitas pagi, melainkan momen kecil yang menyentuh—sebuah cara ia menyapa hari yang tak selalu ramah.

Namanya Sari, seorang penjahit keliling yang tinggal di pinggiran kota. Setiap pagi, sebelum berangkat mencari pelanggan, ia selalu meluangkan waktu beberapa menit untuk merias wajahnya. Bukan karena tuntutan pekerjaan, bukan pula karena ingin tampil sempurna. "Ini cara saya bilang ke diri sendiri bahwa saya masih berharga," ujarnya lirih, matanya menatap pantulan dirinya di cermin.

Di balik kebiasaan sederhana itu, tersimpan perjalanan panjang yang jarang ia ceritakan kepada orang lain. Bedak tabur bukan sekadar kosmetik baginya. Ia adalah penanda bahwa ia pernah jatuh, lalu bangkit kembali.

Ketika Hidup Harus Dimulai dari Nol

Empat tahun lalu, Sari kehilangan hampir segalanya. Usaha kateringnya bangkrut setelah pandemi menghantam. Utang menumpuk, dan ia harus merelakan rumah kecilnya dijual untuk membayar cicilan. Ia pindah ke sebuah kamar sewa sempit, membawa dua koper dan seorang anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

"Malam itu saya menangis sampai air mata habis. Saya merasa tak punya apa-apa lagi," kenangnya. Namun pagi berikutnya, ia bangkit. Ia menemukan mesin jahit tua peninggalan ibunya di gudang, membersihkannya, dan mulai menerima orderan jahitan dari tetangga.

Awalnya hanya satu-dua pelanggan. Tapi dari mulut ke mulut, namanya mulai dikenal. Kini, ia memiliki tujuh penjahit yang membantunya, dan pesanan datang dari berbagai kota. "Saya belajar bahwa mimpi tidak selalu harus besar. Kadang cukup satu jahitan rapi setiap hari," tuturnya dengan senyum tipis.

Ritual Kecil yang Menghidupkan Rasa Percaya Diri

Di tengah kesibukannya, Sari tetap setia pada ritual paginya. Menggunakan bedak tabur sebelum beraktivitas menjadi momen yang ia sebut sebagai "perlindungan diri". Bukan dari sinar matahari semata, melainkan dari tatapan sinis atau kata-kata yang bisa meruntuhkan semangat.

"Waktu usaha saya jatuh, banyak yang menjauh. Ada yang bilang saya tidak akan pernah pulih. Tapi setiap kali saya melihat cermin dan menyentuh wajah saya dengan bedak, saya ingat bahwa saya punya kendali atas diri sendiri," paparnya.

Psikolog klinis dari sebuah komunitas kesehatan mental, Ratna Wulandari, menjelaskan bahwa ritual kecil seperti ini memang memiliki dampak besar. "Aktivitas sederhana yang dilakukan dengan penuh kesadaran dapat menjadi jangkar emosional. Ia membantu seseorang merasa hadir, merasa cukup, dan merasa mampu melewati hari," ujarnya.

Bagi Sari, bedak tabur itu juga menjadi simbol berbagi. Ia sering membeli beberapa wadah kecil untuk diberikan kepada tetangga yang tengah berjuang. "Saya bilang, ini bukan soal cantik-cantikan. Ini soal kamu masih peduli sama diri sendiri," kisahnya sambil tertawa kecil.

Inspirasi dari Hal yang Sederhana

Kisah Sari mungkin tidak akan pernah masuk ke berita besar. Namun di lingkungannya, ia telah menjadi inspirasi. Beberapa perempuan muda di kampungnya mulai belajar menjahit, dan lebih dari sekadar keterampilan, mereka belajar tentang ketangguhan.

"Bu Sari itu contohnya. Beliau tidak pernah mengeluh, tapi selalu punya cara untuk mengingatkan kami agar tidak menyerah," kata Ika, salah satu muridnya.

Di akhir wawancara, Sari kembali menatap cermin. Ia mengambil bedak taburnya, menepiskan sedikit ke wajah, lalu tersenyum. Bukan senyum palsu, melainkan senyum perempuan yang telah melewati banyak hal dan memilih untuk tetap melangkah.

"Saya tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Tapi pagi ini, saya sudah siap. Dan itu cukup," ujarnya, meninggalkan ruangan kecil itu dengan langkah ringan.

Kisahnya menyentuh hati, sederhana, dan mengingatkan kita bahwa di balik setiap rutinitas kecil, ada perjuangan besar yang layak dihargai.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS kartika-dewi

Reporter Cybersecurity. Fokus pada keamanan siber, privasi data, dan regulasi digital.

Comments (0)

User