Di ruang sidang yang pengap itu, Derry Sulaiman duduk tegap di kursi saksi. Suaranya tenang, tetapi setiap kata yang keluar terasa berat. Ia bukan sedang berbicara tentang dirinya sendiri, melainkan tentang sebuah persoalan yang jauh lebih pelik: bagaimana seseorang begitu mudah menghakimi keimanan orang lain, seolah surga dan neraka berada di ujung jarinya.
Mantan gitaris band cadas yang kini menekuni dakwah itu datang memenuhi panggilan pengadilan dalam perkara yang menjerat Richard Lee. Ia mengisahkan perjalanan panjangnya meninggalkan panggung musik dan memilih jalan yang ia yakini. Namun di balik kesaksiannya, ada kegelisahan yang ia rasa perlu disuarakan.
Ketika Keimanan Jadi Bahan Perdebatan
Derry menyoroti sebuah fenomena yang ia nilai semakin marak belakangan ini. Orang-orang dengan lantang saling menuding sesat, mengklaim diri paling benar, dan merasa berhak menilai isi hati orang lain. Baginya, cara beragama seperti itu justru melelahkan dan jauh dari hakikat ajaran yang ia pelajari.
"Saya ini bukan siapa-siapa. Saya hanya hamba yang masih belajar. Tapi saya sedih kalau ada orang yang merasa paling suci lalu dengan mudahnya menuduh orang lain keluar dari agama," ujarnya dengan nada getir.
Ia mengisahkan pengalaman pribadinya saat memutuskan berhijrah. Bukan hanya pujian yang ia terima, tetapi juga cemoohan dan tuduhan bahwa perubahan hidupnya hanyalah topeng. Momen itulah yang membuatnya sadar, bahwa menilai keimanan seseorang bukanlah pekerjaan manusia.
"Dulu saya pernah dihina, dianggap nggak mungkin berubah. Air mata saya jatuh, bukan karena mereka menghina saya, tapi karena saya berpikir, kok ya ada orang yang begitu yakin bisa membaca isi hati orang lain," kenangnya.
Perjalanan yang Tidak Instan
Derry mengakui, perjalanannya menuju titik ini tidak singkat. Ada masa-masa ia jatuh, bangkit lagi, dan terus belajar. Ia menuturkan bahwa iman itu naik turun, seperti gelombang yang tak pernah benar-benar tenang. Karena itulah, ia menolak keras sikap yang merasa paling benar dan menghakimi perjalanan orang lain.
Di hadapan majelis sidang, ia berpesan agar setiap orang lebih sibuk memperbaiki diri sendiri ketimbang mengurus keimanan orang lain. Menurutnya, terlalu banyak energi yang habis untuk saling menyerang, padahal masih banyak hal bermanfaat yang bisa dikerjakan.
Saat ditemui awak media usai persidangan, Derry tampak ramah. Ia sesekali tersenyum, namun matanya menyiratkan keseriusan. Ia berharap polemik seputar keimanan tidak lagi menjadi alat untuk menjatuhkan sesama. "Kalau mau menasihati, lakukan dengan cara yang menyentuh, bukan dengan pedang yang melukai," pesannya.
Pelajaran dari Balik Layar Pengadilan
Kehadiran Derry di ruang sidang menjadi pengingat bahwa di balik persoalan hukum yang rumit, ada dimensi manusiawi yang sering terlupakan. Ada hati yang lelah dihakimi, ada keluarga yang menunggu, dan ada harapan agar semuanya bisa kembali pada jalur yang benar.
Ia menegaskan, dirinya hadir bukan untuk membela atau menyerang siapa pun, melainkan untuk mengungkap fakta yang ia ketahui. Namun ia tak menampik, ada beban moral yang ia rasakan. "Saya datang karena dipanggil. Kalau saya punya ilmu, saya sampaikan. Selebihnya, biar kebenaran yang berbicara," ucapnya.
Kisah Derry ini menjadi cermin bagi banyak orang. Bahwa beragama bukan soal siapa yang paling lantang bersuara, melainkan bagaimana sikap kita kepada orang lain. Bahwa keimanan adalah perjalanan pribadi yang penuh liku, dan tidak ada seorang pun yang punya hak untuk mengadilinya.
Di ujung wawancara, Derry berpesan sederhana. Ia ingin masyarakat berhenti saling mencurigai dan mulai merangkul. "Kita semua sedang berjuang. Jangan tambah beban orang lain dengan tuduhan yang belum tentu benar. Cukup perbaiki diri, lalu bantu orang lain dengan kasih," pungkasnya, meninggalkan ruang sidang dengan langkah mantap dan hati yang lapang.
Comments (0)