Aug 25, 2026
entertainment

Seni Soekarno dan Si Unyil Hidup Kembali di Hotel Indonesia Kempinski

Sore itu, cahaya keemasan menembus kaca-kaca tinggi di lobi Hotel Indonesia Kempinski Jakarta. Seorang kakek berusia tujuh puluhan tahun berdiri lama di depan sebuah boneka kayu berwajah polos dengan ...

Seni Soekarno dan Si Unyil Hidup Kembali di Hotel Indonesia Kempinski

Sore itu, cahaya keemasan menembus kaca-kaca tinggi di lobi Hotel Indonesia Kempinski Jakarta. Seorang kakek berusia tujuh puluhan tahun berdiri lama di depan sebuah boneka kayu berwajah polos dengan senyum khas. Matanya berkaca-kaca. Tangan keriputnya menggenggam jari mungil cucunya yang baru berusia enam tahun, lalu ia berbisik pelan, seolah takut memecahkan kenangan, "Namanya Unyil, Nak. Dulu, setiap Minggu pagi, Kakek selalu menunggunya muncul di televisi." Tak jauh dari tempat mereka berdiri, deretan lukisan bernuansa klasik terpajang anggun—karya-karya yang menghidupkan kembali selera seni Presiden Soekarno. Sore itu, dua potongan memori bangsa bertemu dalam satu ruang.

Pemandangan mengharukan tersebut menjadi bagian dari perayaan ulang tahun ke-64 hotel legendaris ini. Alih-alih sekadar menggelar pesta, manajemen memilih jalan yang lebih sunyi namun bermakna: menghadirkan kembali warisan seni yang pernah dicintai sang proklamator serta karakter boneka kesayangan lintas generasi. Hasilnya adalah sebuah perayaan yang terasa seperti pulang ke rumah—hangat, akrab, dan penuh cerita.

Jejak Seni Sang Proklamator yang Tak Pernah Pudar

Hotel Indonesia bukan sekadar bangunan megah di jantung Jakarta. Ia lahir dari mimpi besar Soekarno menjelang Asian Games 1962—sebuah etalase bagi dunia bahwa Indonesia mampu berdiri sejajar dengan bangsa lain. Sang presiden pertama, yang dikenal sebagai pencinta seni sejati, menitipkan jiwanya pada setiap sudut bangunan ini. Kini, lebih dari enam dekade berlalu, semangat itu dihidupkan kembali melalui pameran karya seni yang mengingatkan pengunjung pada koleksi dan selera estetiknya.

Di antara lukisan yang terpajang, tampak goresan-goresan yang memikat mata: potret rakyat kecil, pemandangan alam nusantara, hingga sosok perempuan dalam balutan kain tradisional. Semuanya mengisahkan cinta mendalam pada tanah air—tema yang selalu dekat di hati Soekarno. Para pengunjung tampak berjalan perlahan, seakan tengah berziarah pada masa lalu yang indah, sesekali berhenti untuk membaca cerita di balik setiap kanvas.

"Seni bagi Bung Karno bukan sekadar hiasan dinding. Itu adalah cara beliau berbicara tentang Indonesia. Kami ingin generasi hari ini ikut mendengar percakapan itu," ujar seorang perwakilan manajemen hotel dengan nada penuh hormat.

Si Unyil, Boneka Kecil Penjaga Sejuta Rindu

Di sisi lain ruangan, tawa anak-anak pecah ketika mereka berhadapan dengan sosok boneka berpipi tembam itu. Si Unyil—tokoh yang pernah menemani Minggu pagi jutaan keluarga Indonesia pada era 1980-an—kini hadir dalam wujud nyata. Bersamanya, kenangan tentang Pak Raden dengan kumis tebalnya, Pak Ogah yang selalu meminta uang jajan, dan lagu pembuka yang melegenda seolah bangkit dari tidur panjang.

Bagi banyak orang tua, momen ini lebih dari sekadar pameran. Ini adalah jembatan waktu. Mereka yang dulu menonton Unyil sambil duduk bersila di lantai rumah kini datang menggandeng anak dan cucu mereka sendiri. Air mata haru tak jarang jatuh tanpa malu-malu, bercampur dengan tawa ketika lagu-lagu lama kembali terdengar.

"Rasanya seperti bertemu teman lama yang hilang kontak selama puluhan tahun. Saya ingin anak saya tahu, dulu ayahnya bahagia karena hal-hal sederhana seperti ini," tutur seorang pengunjung sambil tersenyum menahan haru.

Enam Puluh Empat Tahun Menjaga Cerita Tetap Hidup

Perjalanan 64 tahun bukanlah waktu yang singkat. Hotel ini telah menjadi saksi bisu berbagai babak sejarah bangsa: dari hiruk-pikuk Asian Games, pergantian zaman, hingga wajah Jakarta yang terus berubah. Namun di balik kemegahan dan kemewahannya, ada satu hal yang tak pernah berubah—komitmen untuk menjaga cerita agar tak lekang dimakan usia.

Perayaan tahun ini menjadi pengingat bahwa sebuah bangunan bisa saja menua, tetapi nilai yang diperjuangkannya tetap muda. Dengan memadukan warisan seni Soekarno dan nostalgia Si Unyil, hotel ini mengirim pesan sederhana namun dalam: bahwa masa lalu bukan untuk ditinggalkan, melainkan untuk dirawat dan diwariskan kepada mereka yang datang kemudian.

Menjelang malam, sang kakek dan cucunya masih berada di sana. Si kecil kini memeluk erat boneka Unyil di dadanya, sementara sang kakek memandangi sebuah lukisan dengan senyum yang sulit diartikan—antara rindu dan syukur. Di ruangan itu, dua generasi berdiri berdampingan, disatukan oleh karya-karya yang menolak untuk dilupakan.

Barangkali, itulah arti perayaan yang sesungguhnya: bukan tentang berapa lama sesuatu bertahan, melainkan tentang berapa banyak hati yang masih ia sentuh. Dan sore itu, di jantung Jakarta, sebuah hotel tua membuktikan bahwa kenangan—jika dirawat dengan cinta—akan selalu menemukan jalannya untuk hidup kembali.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS galih-pratama

Editor Teknologi. Mantan software engineer. Meliput AI, cloud, dan transformasi digital.

Comments (0)

User