Aug 25, 2026
entertainment

Jejak Mesin dan Air Mata Naoya Sukeda di Power Design Project 2026

Senja belum sepenuhnya turun ketika seorang pria Jepang berdiri di samping etalase kaca, memandangi jam tangan rancangannya dengan tatapan seorang ayah kepada anaknya. Tangannya sesekali merapikan let...

Jejak Mesin dan Air Mata Naoya Sukeda di Power Design Project 2026

Senja belum sepenuhnya turun ketika seorang pria Jepang berdiri di samping etalase kaca, memandangi jam tangan rancangannya dengan tatapan seorang ayah kepada anaknya. Tangannya sesekali merapikan letak display, memastikan cahaya jatuh tepat di permukaan dial. Pemandangan menyentuh itu terekam di Plaza Senayan, Jakarta, Senin, 21 Juli 2026, saat pameran Power Design Project 2026 dibuka untuk publik.

Pria itu adalah Naoya Sukeda, Design Director of SEIKO Selection Team. Baginya, sore itu bukan sekadar pembukaan pameran. Ada perjalanan panjang, keraguan, dan mimpi yang akhirnya menemukan rumahnya di hadapan publik Jakarta.

Perjalanan yang Dirajut dengan Kesabaran

Kepada awak media, Sukeda mengisahkan bahwa desain bukanlah pekerjaan yang lahir dari kejeniusan sesaat, melainkan dari kesabaran mengamati hal-hal kecil yang sering dilewatkan orang lain. Ia menghabiskan bertahun-tahun di balik meja gambar, mempelajari bagaimana sebuah benda mungil di pergelangan tangan bisa menyimpan cerita besar tentang manusia dan waktu.

"Saya selalu percaya, desain yang baik lahir dari hati yang mau mendengar. Mesin pun punya suara, tugas kami adalah menerjemahkannya," tutur Sukeda pelan.

Perjalanannya bersama SEIKO membawanya melintasi berbagai fase: dari sketsa-sketsa awal yang tak pernah dipublikasikan, hingga akhirnya dipercaya memimpin tim desain. Kini, di Jakarta, ia berdiri di depan karyanya sendiri — sebuah momen yang ia akui membuat dadanya sesak oleh haru.

Machining Marks, Puisi di Atas Logam

Karya yang ia bawa kali ini bernama Machining Marks. Nama itu merujuk pada jejak-jejak halus yang ditinggalkan mesin perkakas saat memotong logam — sesuatu yang selama ini dianggap cacat dan harus dihilangkan. Sukeda justru melakukan sebaliknya: ia merayakan jejak itu, menjadikannya elemen utama pada permukaan jam tangan.

Di tangannya, guratan-guratan tipis hasil pemesinan berubah menjadi tekstur yang hidup. Ketika cahaya menyapu dial, bayangan halus bergerak perlahan, seolah waktu benar-benar terlihat sedang berjalan. Sebuah gagasan sederhana yang lahir dari cara pandang yang tidak sederhana.

"Ketidaksempurnaan itu jujur. Ia mengingatkan kita bahwa segala sesuatu dibuat oleh tangan, oleh manusia, oleh usaha. Di situlah keindahannya," ucapnya, sesaat sebelum matanya tampak berkaca-kaca.

Bagi Sukeda, jam tangan ini adalah metafora kehidupan. Setiap orang membawa goresan masa lalunya masing-masing, dan justru goresan itulah yang membuat setiap manusia berbeda, bernilai, dan utuh. Kisah itulah yang ingin ia titipkan pada setiap orang yang melihat karyanya.

Di Balik Layar Power Design Project 2026

Di balik layar, Power Design Project merupakan panggung bagi para desainer SEIKO untuk keluar sejenak dari bingkai komersial dan menjelajah gagasan-gagasan liar yang jarang mendapat tempat di lini produksi biasa. Di sinilah imajinasi dibiarkan berlari bebas, dan keberanian bereksperimen dirayakan sebagai sebuah keutamaan.

Kehadiran pameran ini di Jakarta menjadi penanda hangatnya hubungan antara rumah desain Jepang itu dengan publik Indonesia. Pengunjung yang datang sore itu tampak tak hanya menyaksikan benda-benda presisi, tetapi juga mendengar kisah-kisah manusia di baliknya — kisah tentang berjuang, jatuh, dan bangkit kembali.

Beberapa pengunjung tampak berlama-lama di depan karya Sukeda. Ada yang mengabadikannya dengan ponsel, ada pula yang sekadar terdiam, seakan menemukan potongan dirinya pada guratan-guratan kecil di permukaan logam itu. Sebuah momen mengharukan yang tak direncanakan.

Sebuah Pesan yang Tertinggal

Sebelum meninggalkan area pameran, Sukeda menyempatkan diri menyapa para pengunjung muda yang ingin berfoto bersamanya. Kepada mereka, ia menitipkan pesan yang sederhana namun dalam, sebuah inspirasi bagi siapa pun yang sedang meragukan langkahnya sendiri.

"Jangan takut pada jejak yang tertinggal di hidupmu. Suatu hari, kamu akan melihatnya kembali dan berkata: inilah yang membuatku sampai di sini," katanya sembari tersenyum.

Malam itu, lampu-lampu Plaza Senayan perlahan meredup. Namun di dalam etalase kaca, Machining Marks tetap memantulkan cahaya — seperti mimpi yang menolak padam, seperti kisah manusia yang terus berjalan, mengikuti detak waktu yang tak pernah berhenti.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS rina-wulandari

Product Reviewer. Mengulas software, aplikasi, dan tools produktivitas.

Comments (0)

User