Satu Dekade Wilsen Willim: Tenun, Denim Daur Ulang, dan Jiwa Pemberontak
Di sebuah ruang peragaan yang remang-remang, dentuman bass bergema seperti detak jantung yang tak mau tunduk. Satu per satu model melangkah dengan tatapan tajam, tubuh dibalut siluet longgar berlapis ...
Di sebuah ruang peragaan yang remang-remang, dentuman bass bergema seperti detak jantung yang tak mau tunduk. Satu per satu model melangkah dengan tatapan tajam, tubuh dibalut siluet longgar berlapis tenun ikat Sumba dan songket Palembang, namun dihiasi rantai logam, jahitan kontras, dan tekstur denim yang sengaja diurai. Malam itu bukan sekadar pagelaran busana; ia adalah deklarasi satu dekade perjalanan Wilsen Willim—perancang yang memilih merayakan usia berkaryanya dengan membenturkan pesona wastra Nusantara dan denyut memberontak budaya punk.
Koleksi bertajuk Algorithm: Universal Language itu menghadirkan 60 tampilan yang seakan berbicara dalam bahasa visual baru. Benang denim yang ditenun ulang dari limbah pabrik bertemu dengan helai-helai tenun tradisional hasil tangan para perajin perempuan di pelosok. Ada jaket kebesaran dengan potongan oversized yang dipadu sarung menjadi rok asimetris, ada celana baggy dengan detail bleaching yang kontras di atas blus berbahan lurik. Semuanya terasa akrab sekaligus asing—seperti surat cinta yang ditulis dengan tinta pemberontakan.
Antara Benang dan Kenangan
Perjalanan Wilsen Willim tidak dimulai dari gedung mode ternama. Ia mengisahkan bagaimana satu dekade silam ia hanya bermodal mesin jahit pinjaman dan keyakinan bahwa tenun Indonesia layak berada di panggung dunia. “Dulu saya sering dianggap aneh karena tetap bertahan dengan wastra saat tren cepat berganti,” kenangnya, suara sedikit bergetar ketika momen itu muncul kembali di ingatan. Namun, justru dari keanehan itu lahir pendekatan yang kini menjadi ciri khasnya: mempertemukan material yang dianggap tidak mungkin.
Di balik layar, proses kreatif untuk koleksi ulang tahun ini memakan waktu hampir dua tahun. Wilsen menghabiskan berbulan-bulan mengunjungi komunitas tenun di Nusa Tenggara Timur, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat, mendengarkan kisah di balik setiap motif. Ia ingin Algorithm: Universal Language bukan cuma soal estetika, melainkan juga transkripsi perjalanan budaya yang ia serap. “Tenun itu seperti algoritma leluhur. Ada rumus yang diturunkan, ada pesan moral, ada doa yang tersemat,” tuturnya. Sentuhan modern yang ia tambahkan—denim daur ulang, potongan deconstructed, aksen punk—adalah upayanya menerjemahkan rumus lama ke dalam kosakata hari ini.
Keberlanjutan yang Bukan Sekadar Kata
Salah satu sorotan tajam dari koleksi ini adalah penggunaan benang denim daur ulang yang dihasilkan dari sisa produksi pabrik garmen. Bagi Wilsen, keberlanjutan bukanlah tren, melainkan keharusan yang bersifat personal. Ia melihat sendiri bagaimana limbah tekstil menumpuk di pinggiran kota tempatnya tumbuh. “Denim yang dibuang masih punya cerita baru jika kita mau repot mengolahnya,” ujarnya. Dalam koleksi itu, benang denim tidak sekadar menjadi pelengkap; ia hadir sebagai tandingan yang setara dengan kemilau benang emas songket. Ada gaun dengan lapisan denim yang disobek dan disulam motif parang, ada pula mantel panjang berbahan dasar jeans dengan aplikasi tenun tapis Lampung yang membentuk gradasi warna bumi.
Keputusan untuk menggabungkan daur ulang dengan wastra tradisional juga merupakan sikap diam sekaligus lantang: bahwa menghormati masa lalu tidak harus mengabaikan masa depan bumi. Di bagian akhir peragaan, Wilsen sengaja menampilkan model yang memakai busana dari 100 persen material sisa—sebuah jaket bomber dari denim tambal sulam dan rok dari tenun yang dijahit dari potongan-potongan kecil yang biasanya terbuang. Momen itu mengharukan, bukan karena kemewahannya, melainkan karena pesan sederhana yang mengiris: tak ada yang benar-benar usang jika kita melihat dengan cara yang berbeda.
Punk, Jiwa Bebas, dan Perayaan Identitas
Yang membuat koleksi ini membekas bukan semata keterampilan teknis, melainkan semangat pemberontakan yang melandasi setiap helai busana. Spirit punk—yang selama ini lekat dengan musik keras dan penolakan terhadap kemapanan—dimaknai ulang oleh Wilsen sebagai keberanian untuk mendefinisikan ulang kemewahan. “Luxury tidak harus diam. Ia bisa berteriak, bisa kusut, bisa tidak sempurna,” katanya dengan mata berbinar. Di panggung, detail seperti peniti besar, grafis sablon tangan, dan tatanan rambut model yang liar seolah menantang definisi adibusana yang kaku.
Namun, pemberontakan itu tidak kehilangan arah. Ada harmoni ganjil yang justru membuat hati terpikat: tenun halus yang dibingkai jaket denim robek; sulaman rumit yang berdampingan dengan tempelan kain flanel murahan; warna alam yang dipotong oleh hitam pekat dan merah menyala. Bagi Wilsen, inilah bahasa universal yang ia maksud—bahasa yang bisa dipahami siapa saja, tanpa harus mengerti terminologi mode. “Kalau sebuah busana membuatmu merasa berdaya, itulah komunikasi yang berhasil,” ujarnya.
Menutup peragaan, Wilsen tidak berjalan sendiri. Ia menggandeng para perajin yang telah bekerja bersamanya selama bertahun-tahun—perempuan paruh baya dengan tangan yang lihai memintal benang dan laki-laki muda yang menyortir denim bekas. Air mata haru pecah ketika mereka semua berdiri di bawah sorot lampu, mendapatkan tepuk tangan panjang dari hadirin. Di sudut ruangan berukuran 3x4 meter yang biasa ia gunakan sebagai studio kecil, Wilsen menyimpan secarik kertas bertuliskan pertanyaan yang menjadi pemantik koleksi ini: “Apa yang akan terjadi jika tradisi dan perlawanan duduk dalam satu meja?” Malam itu, seluruh isi ruangan menjawab dengan satu keyakinan: yang lahir adalah keindahan yang jujur, berani, dan sangat manusiawi.
Comments (0)